• Jelajahi

    Copyright © Langgam Pos
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Iklan

    Berubah untuk Kebaikan: Merekonstruksi Kehidupan Pernikahan yang Penuh Makna

    Rabu, 15 November 2023, 20:27 WIB Last Updated 2023-11-17T13:27:24Z
    masukkan script iklan disini
    IKLAN

    Baca Juga

    Berubah untuk Kebaikan: Merekonstruksi Kehidupan Pernikahan yang Penuh Makna


    Sebagai seorang istri dan ibu dari dua anak, saya menjalani kehidupan yang penuh tantangan. Pekerjaan ganda sebagai seorang dosen dan penulis lepas memberikan saya kebebasan untuk mengatur waktu sendiri, memungkinkan saya untuk memantau perkembangan anak-anak saya, Al Faruq dan Shafiyya. Meskipun sulung saya, Al Faruq, sedang menempuh pendidikan di sekolah dasar dengan prestasi yang membanggakan, dan si bungsu, Shafiyya, tengah aktif mengeksplorasi dunia dengan gerak motorik kasarnya, kami berdua, suami dan saya, kini menanti kelahiran buah hati kami yang ketiga.

    Suami saya, yang bekerja di sebuah perusahaan asing di bidang suplai bahan kimia, juga tengah merintis usaha sendiri. Pekerjaannya yang mengharuskannya sering bepergian ke luar negeri, terkadang bertepatan dengan hari libur nasional. Terkendala oleh keterbatasan waktu, ia sering terlibat dalam rapat-rapat akhir pekan dengan rekan-rekan bisnisnya di perusahaan pribadinya.

    Kesibukan ini pernah menyebabkan dialog antara suami dan saya berkurang. Karakter pendiam dan tertutup suami saya, berlawanan dengan sifat saya yang blak-blakan, membuat interaksi kami menjadi terbatas. Meskipun saya memahami kesibukannya yang dilakukan untuk masa depan keluarga kami, terkadang rasa kecewa muncul ketika waktu libur yang seharusnya dihabiskan bersama keluarga malah tercuri oleh urusan pekerjaan. Untuk mengatasi hal ini, suami saya kerap kali menunjukkan penyesalan dengan memberikan kejutan berupa liburan istimewa.

    Setiap harinya, suami saya baru tiba di rumah setelah pukul 22.00. Otomatis, waktu untuk berkomunikasi dengan intensitas penuh hanya bisa terjadi di pagi hari, menjelang ia berangkat kerja. Saya merasa tidak tega mengajaknya membahas hal-hal berat di malam hari, mengingat kelelahan yang ia rasakan setelah mandi dan menunaikan salat Isya.

    Setelah tujuh tahun berumah tangga, saya menyadari bahwa hubungan saya dengan suami terasa kering. Komunikasi kami hanya berkutat pada topik anak-anak, tanpa adanya obrolan kecil yang sebenarnya dapat memperkaya ikatan suami istri. Saya merindukan komentar-komentar kecil yang dulu sering dilontarkan oleh suami.

    Maka dari itu, saya memutuskan untuk mengambil inisiatif menciptakan situasi obrolan yang penuh kehangatan di tengah keterbatasan waktu yang ada. Saya menyampaikan kerinduan saya akan kritik dan pujian, serta mulai bertanya tentang hal-hal yang mungkin suami suka atau tidak suka. Awalnya, suami terlihat agak canggung dengan pertanyaan saya. Namun, dengan sabar dan bujukan, akhirnya ia mau bersuara.

    Dalam obrolan kami, suami menyampaikan rasa risihnya ketika saya memakai daster di rumah. Ia juga menyatakan keinginannya untuk melihat rambut saya dibiarkan panjang tergerai. Lebih mengejutkan lagi, ia mengakui lebih menyukai masakan buatan saya dibanding masakan seorang Mbak yang seringkali keasinan. Suatu pengakuan mengejutkan adalah bahwa suami lebih suka disuguhi segelas teh manis dan hangat setelah pulang kerja, daripada susu cokelat atau jus buah. Saya kaget karena selama bertahun-tahun, saya tidak pernah tahu mengenai selera preferensinya.

    Suami menjelaskan alasannya, "Teh itu harum, manisnya memberikan energi baru bagi saya untuk berhadapan dengan kamu dan anak-anak. Hangatnya nikmat, menyusup sampai ke dada." Ungkapan ini diucapkannya sambil mengusap-usap dadanya, menunjukkan kehayatan kata-katanya.

    Obrolan singkat dan ringan itu memiliki makna mendalam bagi saya. Rasanya seperti sebuah kesimpulan berharga dari perjalanan pernikahan kami selama bertahun-tahun. Tanpa ragu, saya memenuhi permintaannya, dan sejak saat itu, setiap kali suami pulang kerja, segelas teh manis dan hangat selalu setia tersaji untuknya.

    Alhamdulillah, hubungan saya dengan suami semakin mesra. Kami menjadi lebih terbuka satu sama lain. Saya melihat adanya niatan kuat dari suami untuk menyisihkan waktu untuk berdialog dengan saya, meskipun hanya seputar masalah-masalah kecil. Kebahagiaan kami semakin bertambah ketika suami memutuskan untuk pindah ke perusahaan baru. Di sana, ia memiliki lebih banyak waktu luang untuk keluarga. Pukul enam sore, suami sudah tiba di rumah, dan lembur hanya terjadi sekali seminggu. Ia kini bisa bercengkrama dengan anak-anak dan membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Setelah sekian lama, kami kembali menjalankan kebiasaan kami sewaktu berpacaran, dengan lebih memperhatikan keinginan pasangan. Kadang kami memutuskan untuk makan di luar atau menonton film berdua saja.

    Awalnya, saya pikir sulit untuk membuat pasangan berubah. Namun, demi kebaikan bersama, mengapa tidak ikhlas berkorban sedikit? Suami dan saya telah melakukannya, dan hasilnya adalah kebahagiaan yang tak pernah terputus. Dengan komitmen untuk saling mendengar dan memahami, serta memberikan perhatian pada keinginan pasangan, pernikahan kami berhasil melalui transformasi yang luar biasa untuk mencapai kebaikan yang lebih besar. (mn)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Sastra

    +
    close