• Jelajahi

    Copyright © Langgam Pos
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Hati untuk Si Dia: Keseimbangan Cinta dalam Pernikahan

    Senin, 20 November 2023, Senin, November 20, 2023 WIB Last Updated 2023-11-20T14:16:12Z
    masukkan script iklan disini

    Baca Juga



    Hati untuk Si Dia: Keseimbangan Cinta dalam Pernikahan



    "Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah." Peribahasa ini menjadi sebuah pengingat akan pentingnya cinta dalam kehidupan keluarga. Sayangnya, terkadang, ketika seseorang telah menikah dan memulai keluarga sendiri, kehadiran orangtua dapat terlupakan di tengah-tengah kesibukan dan tanggung jawab baru. Seolah-olah, cinta dan perhatian yang sepanjang galah itu menjadi lebih pendek. Bagi saya, kebahagiaan orangtua adalah kunci untuk mendapatkan ridho Allah SWT, dan itulah yang selalu saya pegang teguh.

    Setelah menikah dan diberkahi dengan anak-anak yang sehat, saya merasakan hidup saya semakin lengkap. Semangat "aku pasti bisa," yang ditanamkan oleh kedua orangtua sejak kecil, memberi saya kekuatan untuk mewujudkan impian dan harapan. Ketika saya bertemu dengan suami, meskipun berbeda karakter, saya yakin kita bisa bersama-sama mengarungi kehidupan bahagia. Suamiku, seorang yang pendiam dengan fokus pada pekerjaan, menjadi sosok "Superman" bagi keluarga kami.

    Namun, perbedaan karakter kadang-kadang membawa tantangan dalam berkomunikasi, terutama di awal-awal pernikahan kami. Saya menyadari bahwa berbicara langsung pada inti masalah bukanlah cara efektif untuk berkomunikasi dengan suami. Sebaliknya, bahasa tubuh dan sindiran-sindiran kecil ternyata bisa menjadi alat komunikasi yang lebih akurat.

    Suatu kejadian menggambarkan perjuangan saya untuk berkomunikasi dengan suami. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, saya memiliki kebiasaan kecil sejak lajang, yaitu menyisihkan sebagian gaji untuk orangtua, meskipun mereka tidak pernah memintanya. Namun, setelah menikah dan berhenti bekerja, kebiasaan itu terhenti, dan saya merasa sulit untuk bicara langsung dengan suami mengenai hal ini.

    Sebuah ide muncul suatu hari, yaitu dengan mengubah sedikit kebiasaan suami. Suamiku gemar minum teh SariWangi setiap pagi, jadi saya menggantinya dengan merek lain dan mengurangi kadar kemanisannya. Suamiku protes keras, tetapi dari situlah, saya mulai menyelipkan hakikat kasih sayang ke dalam hatinya. Perlahan-lahan, saya menyentuh hatinya.

    "Jika hanya merek teh yang berubah, bagaimana jika perhatian kita berubah pada orangtua?" ujar saya dengan hati-hati. Saya mulai mengungkapkan maksud hati saya melalui ilustrasi, menceritakan perjuangan ibu yang seorang janda, harus membesarkan anak-anaknya hingga mandiri. Saya juga mengenang kebiasaan saya menyisihkan gaji untuk ibu semasa lajang. Akhirnya, saya berani mengungkapkan maksud hati saya, "Aku tidak ingin kebiasaan itu berubah, seperti berubahnya rasa teh yang kamu minum pagi ini," ucapku sambil menatap matanya dalam-dalam.

    Ternyata, suamiku mulai memahami maksud hati saya. Akhirnya, dia setuju untuk menyisihkan sebagian dana untuk ibu, meski tidak sebesar dulu. Jumlahnya bukanlah masalah, yang terpenting adalah ibu selalu merasa tak ada yang berubah dari anak-anaknya. Meskipun waktu telah berubah, namun kasih sayang kami pada ibu tetap abadi. Terima kasih, suamiku.

    Kisah ini mengajarkan saya pentingnya keseimbangan dalam pernikahan. Bagaimana kita bisa menjaga cinta dan perhatian pada pasangan, sambil tetap memberikan tempat yang layak bagi orangtua yang telah mengorbankan begitu banyak demi membentuk kita. Keseimbangan ini memerlukan komunikasi yang baik, ketelatenan, dan kesediaan untuk saling memahami.

    Penting juga bagi kita untuk tidak melupakan nilai-nilai yang telah diajarkan oleh orangtua, sebab mereka adalah akar dari keberhasilan kita saat ini. Dengan menjaga hati untuk mereka, kita tidak hanya memberikan penghargaan pada perjalanan hidup mereka, tetapi juga memastikan bahwa cinta dan kasih sayang yang kita terima dari mereka akan terus bersemi dalam keluarga yang kita bangun. Hati yang terbuka untuk orangtua adalah langkah pertama menuju keluarga yang bahagia dan penuh berkat. (as)
    Komentar

    Tampilkan

    Iklan

    Terkini

    close