• Jelajahi

    Copyright © Langgam Pos
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Iklan

    Peristiwa Besar 10 November 1945: Kepahlawanan dan Semangat Perjuangan Surabaya

    Selasa, 07 November 2023, 15:06 WIB Last Updated 2023-11-16T08:08:08Z
    masukkan script iklan disini
    IKLAN

    Baca Juga

    Peristiwa Besar 10 November 1945: Kepahlawanan dan Semangat Perjuangan Surabaya



    Pada tanggal 30 Oktober 1945, Brigadir Jenderal Albertine Walter Sothern Mallaby, komandan Brigade Infanteri 49 Inggris tewas di Jembatan Merah Surabaya. Kematian seorang perwira tinggi Inggris ini mengejutkan dan membangkitkan kemarahan Inggris, yang saat itu merupakan pemenang Perang Dunia II. Namun, lebih tragis lagi, selama perang tersebut tidak ada perwira tinggi Inggris yang menjadi korban di arena pertempuran di wilayah mereka di Eropa atau di medan tempur lain di Afrika dan Asia.

    Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 menjadi peristiwa besar yang tercatat abadi dalam sejarah dunia. Tidak hanya bagi Inggris selaku pemenang perang dunia kedua, tetapi juga bagi Indonesia yang selama berabad-abad menjadi kaum jajahan sampai kemudian berjuang habis-habisan untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan.

    Pada waktu itu, tentara Inggris dan sekutu datang ke Indonesia dengan misi melucuti tentara Jepang dan mengurus tawanan perang dunia kedua. Surabaya adalah kota yang penting untuk dikuasai kembali karena pada waktu itu Surabaya adalah kota besar yang memiliki pelabuhan dan pangkalan laut terbesar di Asia.

    Orang-orang Belanda yang tergabung dalam elite Forces Netherlands East Indies atau AFNEI bermarkas dan menginap di Hotel Yamato, yang dibangun pada 1910, di masa kolonial Belanda disebut sebagai Hotel Orange sebelum kemudian dikenal sebagai Hotel Majapahit. Pada malam hari tanggal 18 September, beberapa orang Belanda dibawah pimpinan Ploegman mengibarkan bendera triwarna Belanda di Sisi Utara Hotel, yang kemudian menjadi penghinaan atas kemerdekaan Indonesia.

    Residen Sudirman, yang didampingi oleh Sidik dan Haryono, segera menemui Ploegman dan memintanya menurunkan bendera Belanda. Namun, Ploegman menolak dan mengusir Residen Sudirman, dan Sidik marah sehingga ia kemudian menghajar Ploegman dan mencekiknya hingga tewas. Ia tidak sendiri, karena beberapa orang Belanda juga tewas.

    Tiga hari sebelum insiden bendera pada 16 September 1984, para pemuda Surabaya berhasil merebut gudang senjata Don Bosco yang menjadi gudang senjata terbesar yang dimiliki Jepang. Awalnya, Jepang mencoba mempertahankan gudang senjata itu sebagai bagian dari syarat kekalahan mereka atas sekutu. Namun, para pemuda Surabaya mempergunakan semangat kemerdekaan mereka untuk merebut ribuan pucuk senjata, mortir, granat, artileri, hingga meriam penangkis serangan udara yang berhasil dikuasai oleh rakyat Surabaya.

    Pada tanggal 25 Oktober 1948, 349 kerajaan Inggris yang beranggotakan prajurit India mendarat di Surabaya, dan segera terjadi pertempuran antara tentara Inggris dan rakyat Surabaya. Selama tiga hari pertempuran tersebut, pasukan Mallaby kalah kemampuan tempur lapangan karena dia adalah perwira staf yang lebih sering bekerja di balik meja. Oleh karena itu, Mallaby meminta bantuan ke atasannya di Singapura, Letnan Jenderal Sir Philip Christison, Panglima pasukan sekutu kawasan Asia Tenggara.

    Christison memberi perintah untuk mengajak Soekarno dan Hatta ke Surabaya. Pertemuan antara Mallaby dengan kedua proklamator tersebut digelar di Gedung Gubernuran pada tanggal 29 Oktober, namun pada tanggal 30 Oktober, Mallaby tewas dan pertempuran semakin memanas.

    Inggris kemudian menetapkan perwira pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Mansergh, dan mengancam rakyat Surabaya jika tidak menyerah, maka Inggris akan mengerahkan kekuatan maksimal dan menghancurkan Surabaya dalam waktu singkat. Pada tanggal 10 November, tentara Inggris berhasil menguasai Surabaya setelah 21 hari pertempuran yang menyisakan sekitar 16 ribu orang tewas dan 20 ribu lainnya luka-luka di pihak Indonesia, serta sekitar 2 ribu orang tewas dan luka-luka di pihak Inggris.

    Meski Inggris berhasil memenangkan pertempuran, rakyat Indonesia telah menunjukkan kemenangan mental dan semangat perjuangan. Kemenangan itu kemudian dikenal dengan menetapkan 10 November sebagai hari Pahlawan. Pertempuran Surabaya juga menjadi peristiwa penting dalam kegentingan revolusi Indonesia yang melahirkan gerakan non-blok dan membuka jalan bagi Indonesia untuk memenangkan percaturan dunia. (lp)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Sastra

    +
    close