• Jelajahi

    Copyright © Langgam Pos
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Iklan

    Sepenggal Kisah Miss Riboet Orion dan Dardanella

    Sabtu, 18 November 2023, 10:10 WIB Last Updated 2023-12-07T12:29:27Z
    masukkan script iklan disini
    IKLAN

    Baca Juga




    Pasangan tari payung, Miss Dja (kiri) dan Miss Riboet II (kananl.
    [Sumber Foto. Doenia Film. No.1 Ih ke 1, 1 Juni 1929.5]






    "Tour d'Orient adalah perjalanan terakhir Dardanella. Setelah perjalanan itu Dardanella pecah. Dan kisah dua raksasa sandiwara ini pun berakhir."

    DUA perkumpulan besar sandiwara berdiri pada 1925 dan 1926, Miss Riboet Orion dan Dardanella. Keduanya merajai dunia sandiwara kala itu. Mereka dikenal terutama karena pemain• pemainnya yang piawai berperan di atas panggung, cerita• ceritanya yang realis, dan punya seorang pemimpin kharismatik.

    Kedua perkumpulan ini dikenal sebagai pembenih sandiwara modern Indonesia. Mereka merombak beberapa tradisi yang telah lazim pada masa stambul, bangsawan, dan opera, seperti: membuat pembagian episode yang lebih ringkas dari stambul, menghapuskan adegan perkenalan para tokoh sebelum bermain, menghilangkan selingan nyanyian atau tarian di tengah adegan, menghapus kebiasaan memainkan sebuah lakon hanya dalam satu malam pertunjukan, dan objek cerita sudah mulai berupa cerita-cerita asli, bukan dari hikayat-hikayat lama atau cerita• cerita yang diambil dari film-film terkenal.

    Rombongan sandiwara ini juga mulai menggunakan naskah untuk diperankan di atas pentas, menggunakan panggung pementasan, serta mulai mengenal peran seseorang yang mirip sutradara -pada masa itu lazim disebut programma meester, peran ini dimainkan oleh pemimpin perkumpulan.

    Perkumpulan sandiwara Orion berdiri di Batavia pada 1925. Rombongan sandiwara ini didirikan serta dipimpin oleh Tio Tek Djien Junior. Tio merupakan seorang terpelajar pertama yang menekuni secara serius kesenian sandiwara modern. Dia lulusan sekolah dagang Batavia. Primadona mereka adalah Miss Riboet.

    Selain sebagai istri Tio, Riboet juga terkenal dengan permainan pedangnya. Ia sangat menonjol ketika memerankan seorang perampok perempuan dalam lakon "Juanita de Vega" karya Antoinette de Zema. Selanjutnya perkumpulan ini terkenal dengan nama Miss Riboet Orion.

    Perkumpulan ini semakin mengibarkan bendera ketenaran• nya setelah masuk seorang wartawan bernama Njoo Cheong Seng dan istrinya Fifi Young. Setelah masuknya Njoo Cheong Seng dan Fifi Young, perkumpulan ini meninggalkan cerita• cerita khayalan yang pada masa stambul dan bangsawan lazim untuk dibawakan ke panggung.

    Kemudian Njoo Cheong Seng menjadi tangan kanan Tio Tek Djien dan bertugas sebagai penulis lakon pada perkumpulan ini dan menghasilkan cerita-cerita, seperti "Saidjah", "R.A. Soemiatie," Barisan Tengkorak, dan Singapore After Midnight

    Di tengah kepopuleran Miss Riboet Orion, berdiri perkumpulan sandiwara Dardanella di Sidoarjo pada 21 Juni 1926. Sebagaimana Miss Riboet Orion, Dardanella juga telah melakukan perubahan besar pada dunia sandiwara. Dardanella didirikan oleh A. Piedra, seorang Rusia yang bernama asli Willy Klimanoff.

    Pada 1929, untuk pertamakalinya Dardanella mengadakan pertunjukan di Batavia. Mulanya lakon-lakon yang dimainkan adalah cerita-cerita berdasarkan film-film yang sedang ramai dibicarakan orang, seperti "Robin Hood", "The Mask ofZorro", "The Three Musketeers", "The Black Pirates", "The Thief of Baghdad", "Roses of Yesterday", "The Sheik ofArabia", "Vera, dan "Graaf de Monte Christo".

    Namun pada kunjungan keduanya di Batavia, mereka menghadirkan cerita mengenai kehidupan di Hindia, seperti "Annie van Mendoet", "Lilie van Tjikampek", dan "De Roos van Tjikembang." Cerita-cerita ini disebut dengan Indische Roman, yaitu cerita-cerita yang mengambil inspirasinya dari kehidupan Indonesia, dikarang dalam bahasa Belanda.

    Pada tahun yang sama, seorang wartawan dari majalah Doenia Film, bernama Andjar Asmara, ikut masuk ke dalam perkumpulan ini, dan meninggalkan pekerjaannya sebagai wartawan di majalah tersebut. Seperti halnya Njoo Cheong Seng di Miss Riboet Orion, Andjar kemudian juga menjadi tangan kanan Piedro, dan bertugas sebagai penulis naskah perkumpulan.

    Andjar Asmara menulis beberapa naskah, seperti "Dr. Samsi", "Si Bongkok", "Haida", "Tjang", dan "Perantaian 99". Dardanella juga terkenal dengan pemain-pemainnya yang piawai memegang peranan dalam setiap pertunjukan. Para pemain ini terkenal dengan sebutan The Big Five. Anggota Perkumpulan Dardanella yang disebut The Big Five, yaitu Ferry Kock, Miss Dja, Tan Tjeng Bok, Riboet II, dan Astaman.

    Persaingan untuk meraih perhatian publik antara Miss Riboet Orion dengan Dardanella terjadi di Batavia pada 1931. Sebenarnya persaingan Miss Riboet Orion dengan Dardanella sudah mulai terlihat ketika dua perkumpulan ini memperebutkan "pengakuan nama" dari salah satu pemainnya, yaitu Riboet.

    Dalam dua perkumpulan ini ada satu pemain yang namanya sama. Ketika itu Dardanella yang sedang bermain di Surabaya, didatangi dan dituntut oleh Tio Tek Djien, pemimpin Miss Riboet Orion, karena Dardanella mempergunakan nama Riboet juga untuk seorang pemainnya.

    Tio berkata kepada Piedra, "Kami tidak senang Tuan mempergunakan nama yang sama, nama Riboet juga untuk pemain Tuan ... kami menyampaikan gugatan, Miss Riboet hanya ada satu dan dia sekarang sedang bermain di Batavia." Akhir dari perseteruan ini adalah mengalahnya Piedra kepada Tio dan mengubah nama Riboet yang ada di Dardanella menjadi Riboet II.

    Memang lazim terjadi persaingan antar perkumpulan sandiwara, terutama di kota besar seperti Batavia. Sebelum persaingan dengan Dardanella, Miss Riboet Orion juga pernah bersaingan dengan Dahlia Opera, pimpinan Tengkoe Katan dari Medan, persaingan ini berakhir dengan kemenangan pihak Orion.

    Wujud dari persaingan antara Miss Riboet Orion dan Dardanella ini adalah pecahnya perang reklame. Dardanella memajukan Dr. Samsi sebagai lakon andalan mereka, sedangkan Miss Riboet Orion dengan Gagak Solo.

    Dalam persaingan ini, Dardanella mengandalkan A. Piedra, Andjar Asmara, dan Tan Tjeng Bok, sedangkan Miss Riboet Orion mengandalkan Tio Tek Djien, Njoo Cheong Seng, dan A. Boellaard van Tuijl, sebagai pemimpinnya. Kedua wartawan dalam perkumpulan-perkumpulan itu bekerja dan memutar otak untuk membuat reklame propaganda yang, sedapat-dapatnya, memengaruhi pikiran publik.

    Akhirnya Miss Riboet Orion harus menyerah kepada Dardanella. Riwayat Perkumpulan Sandiwara Miss Riboet Orion berakhir pada 1934, ketika penulis naskah mereka Njoo Cheong Seng dan Fifi Young pindah ke Dardanella. Dardanella menjadi semakin besar dengan hadirnya anggota-anggota baru seperti Ratna Asmara, Bachtiar Effendi, Fifi Young, dan Henry L. Duarte-seorang Amerika yang dilahirkan di Guam.

    Dalam Dardanella juga berkumpul tiga penulis lakon ternama, seperti A. Piedra, Andjar Asmara, dan Njoo Cheong Seng. Di samping itu, perkumpulan ini diperkuat oleh permainan luar biasa dari bintang-bintang panggungnya seperti Miss Dja, Ferry Kock, Tan Tjeng Bok, Astaman, dan Riboet II.

    Pada 1935, Piedra memutuskan untuk mengadakan perjalanan ke Siam, Burma, Sri Lanka, India, dan Tibet, untuk memperkenalkan pertunjukan-pertunjukan mereka. Perjalanan ini disebut Tour d'Orient. Dalam perjalanan itu tidak dipentaskan sandiwara, melainkan tari-tarian Indonesia seperti serimpi, bedoyo, golek, jangger, durga, penca Minangkabau, keroncong, penca Sunda, nyanyianAmbon, dan tari-tarian Papua.

    Tour d'Orient adalah perjalanan terakhir Dardanella. Setelah perjalanan itu Dardanella pecah. Dan kisah dua raksasa sandiwara ini pun berakhir. (mn)



    Sumber: buku: hiburan masa lalu dan tradisi lokal, Fandu Hutrari, 2011; 
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Sastra

    +
    close