• Jelajahi

    Copyright © Langgam Pos
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Tembang Pangkur sebagai Cermin Budaya Gotong Royong

    Minggu, 31 Desember 2023, Minggu, Desember 31, 2023 WIB Last Updated 2024-04-03T15:55:36Z
    masukkan script iklan disini

    Baca Juga

    Kisah Ki Sulaiman dan Tembang Pangkur sebagai Cermin Budaya Gotong Royong







    langgampos.com - Budaya Indonesia kaya akan warisan tradisi yang mengandung makna mendalam, termasuk dalam seni musik dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Salah satu tembang yang mencerminkan nilai-nilai tersebut adalah tembang pangkur, yang tidak hanya memikat telinga, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang mendalam tentang keharmonisan hidup bersama. Melalui perjalanan hidup seorang pria bernama Ki Sulaiman, kita dapat melihat bagaimana pesan tembang pangkur dan keindahan musik Gamelan Singo mengubah takdir dan membawa kedamaian dalam hidupnya.

    Tembang pangkur dengan alunan Gamelan Singo menjadi medium yang memandu perjalanan Ki Sulaiman, seorang yang pada awalnya terjebak dalam kehidupan gelap sebagai seorang berandal. Dalam tembang tersebut, terkandung makna: 

    menjadi penolong bagi sesama, tidak menyakiti dan memeras orang lain, serta memupuk semangat saling berdampingan dan tolong-menolong 


    Pesan-pesan ini menjadi tuntunan moral bagi Ki Sulaiman dalam melangkah menuju perubahan hidupnya.

    Alunan tembang pangkur dan keindahan Gamelan Singo menciptakan suasana magis yang memengaruhi batin Ki Sulaiman. Seperti dalam cerita tembang, duratmo, yang awalnya keras dan tak tergoyahkan, akhirnya menyerah seperti kesurupan. Begitu pula dengan Ki Sulaiman yang, melalui keindahan musik dan pesan moral tembang, merasakan kelembutan yang memasuki sukmanya. Kesadaran atas kesalahannya dan pemahaman akan kebenaran muncul dalam dirinya.

    Karomah Kanjeng Sunanrajat, tokoh spiritual dalam tembang pangkur, menjadi penyadaran bagi Ki Sulaiman. Melalui ketulusan dan kebijaksanaan Kanjeng Sunanrajat, Ki Sulaiman mengakui semua kesalahan yang pernah dilakukannya. Proses ini menciptakan momentum penting dalam hidupnya, di mana Ki Sulaiman tidak hanya menyerah pada kebenaran, tetapi juga mengambil langkah konkret untuk memperbaiki diri.

    Ki Sulaiman menjalani proses jera dan dengan rendah hati meminta maaf kepada Kanjeng Sunan dan masyarakat. Perubahan ini tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga menciptakan dampak positif dalam masyarakat sekitarnya. Berandal yang gagah perkasa itu takluk, bukan hanya di hadapan manusia, melainkan juga di hadapan Allah.

    Duratmo, yang awalnya penuh dengan keangkuhan dan ketegaran, menjadi teladan bagi banyak orang. Transformasinya menjadi murid Sunan Derajat, menggambarkan bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan menemukan jalan hidup yang lebih baik. Keislaman yang dianut Duratmo setelah proses pembelajaran dengan Sunan Derajat menjadi bukti bahwa kesalahan masa lalu dapat ditebus dengan kebaikan dan ketakwaan.

    Namun, takdir Ki Sulaiman belum berakhir di sini. Meskipun telah menemukan cahaya kebenaran, ia harus menghadapi ujian yang lebih berat. Jatuh sakit dalam keadaan koma, Ki Sulaiman memohon agar ketika meninggal, penutup kepalanya tetap terbuka. Permohonan ini mencerminkan keinginan Ki Sulaiman untuk memberi tahu masyarakat bahwa kekuatan Berandal, sehebat apa pun, akan takluk di hadapan kekuatan yang lebih besar, yaitu kekuatan ilahi.

    Sang Ki Sulaiman ingin agar masyarakat tahu bahwa hidupnya yang dulu gelap dan penuh dosa telah berubah menjadi cahaya kebaikan dan ketakwaan. Pesan ini menjadi warisan moral yang bernilai tinggi bagi masyarakat, bahwa setiap perubahan positif dapat terjadi, bahkan pada individu yang dianggap tak mungkin berubah.

    Dalam cerita Ki Sulaiman, kita melihat betapa kuatnya pengaruh seni dan nilai-nilai budaya dalam membentuk karakter dan arah hidup seseorang. Tembang pangkur dan Gamelan Singo bukan hanya sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai medium pembelajaran moral yang dapat merubah sikap dan perilaku. Keselarasan antara musik, moralitas, dan spiritualitas menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan budaya yang kaya makna.

    Sebagai masyarakat, penting bagi kita untuk merenung dan mengambil inspirasi dari cerita Ki Sulaiman. Gotong royong, tolong-menolong, dan ketakwaan merupakan nilai-nilai yang perlu kita junjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui seni dan budaya, kita dapat membangun fondasi yang kokoh untuk menjaga keharmonisan hidup bersama, sebagaimana tergambar dalam tembang pangkur dan kisah Ki Sulaiman. (as)
    Komentar

    Tampilkan

    Iklan

    Terkini

    close