• Jelajahi

    Copyright © Langgam Pos
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Iklan

    Anthropomorphism: Penerapan dan Fungsi dalam Sastra

    Senin, 01 Januari 2024, 13:18 WIB Last Updated 2024-01-01T06:18:45Z
    masukkan script iklan disini
    IKLAN

    Baca Juga

    Anthropomorphism: Penerapan dan Fungsi dalam Sastra



    langgampos.com - Anthropomorphism, sebuah perangkat sastra yang telah menjadi teknik umum dalam penulisan, dapat didefinisikan sebagai suatu teknik di mana seorang penulis memberikan sifat-sifat manusia, ambisi, emosi, atau bahkan perilaku secara keseluruhan kepada binatang, makhluk non-manusia, fenomena alam, atau objek. Dalam kajian sastra, anthropomorphism sering kali ditemui sebagai bentuk personifikasi, di mana sifat-sifat manusia diberikan kepada yang non-manusia, terutama pada binatang. Meskipun serupa, perlu dibedakan antara personifikasi dan anthropomorphism; personifikasi adalah memberikan sifat manusia kepada binatang atau objek guna menciptakan imaji, sedangkan anthropomorphism bertujuan membuat binatang atau objek berperilaku dan tampak seolah-olah manusia.

    Perbedaan Antara Anthropomorphism dan Personifikasi

    Anthropomorphism sebenarnya merupakan salah satu bentuk personifikasi yang memberikan sifat-sifat manusia kepada yang non-manusia atau objek, terutama binatang. Namun, terdapat perbedaan tipis di antara keduanya. Personifikasi adalah tindakan memberikan sifat manusia kepada binatang atau objek untuk menciptakan imaji, sementara anthropomorphism bertujuan membuat binatang atau objek berperilaku dan tampak seolah-olah manusia.

    Contoh terkenal anthropomorphism dapat ditemukan dalam dongeng dan cerita rakyat. Sebagai contoh, Pinokio, boneka kayu terkenal, dianthropomorphize ketika diberikan kemampuan untuk berbicara, berjalan, berpikir, dan merasakan seperti manusia sejati. Dongeng dan cerita rakyat seringkali memiliki karakter yang dapat berfungsi sebagai contoh anthropomorphism.

    Contoh Anthropomorphism dalam Sastra

    Contoh #1: The Jaguar (Karya Ted Hughes)

    “Namun siapa yang berlari seperti yang lain melewati mereka tiba di dekat kandang
    Di mana kerumunan berdiri, menatap, terpesona,
    Seperti anak dalam mimpi, pada jaguar yang terburu-buru marah
    Melalui kegelapan penjara setelah bor mata
    Pada sumbu yang pendek dan tajam. Bukan karena bosan –
    Mata puas menjadi buta dalam api,
    Dengan dentuman darah di otak tuli telinga –
    Dia berputar dari jeruji, tapi tidak ada kandang untuknya
    Lebih dari pada penglihatan selamanya:
    Langkahnya adalah padang gurun kebebasan:
    Dunia bergulir di bawah dorongan panjang tumitnya.
    Di atas lantai kandang, cakrawala datang.”

    Puisi ini berdasarkan pada seekor jaguar, hewan buas. Hughes menunjukkan dunia kepada pembacanya melalui mata jaguar yang berpikir seperti manusia.

    Contoh #2: Animal Farm (Karya George Orwell)

    “Teman-teman, kalian sudah mendengar tentang mimpi aneh yang aku alami semalam. Tapi aku akan membahas tentang mimpi itu nanti. Aku punya sesuatu yang lain untuk dikatakan lebih dulu. Aku tidak berpikir, teman-teman, bahwa aku akan bersama kalian untuk beberapa bulan lagi, dan sebelum aku mati, aku merasa sudah menjadi kewajiban bagiku untuk mewariskan kepadamu kebijaksanaan yang telah aku peroleh. Aku telah menjalani hidup yang panjang, aku punya banyak waktu untuk berpikir saat aku sendirian di kandangku, dan aku pikir aku bisa mengatakan bahwa aku memahami sifat kehidupan di bumi ini sebaik hewan manapun yang masih hidup. Ini yang ingin aku sampaikan padamu... Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa memproduksi. Dia tidak memberi susu, dia tidak bertelur, dia terlalu lemah untuk menarik bajak.”

    Animal Farm adalah salah satu contoh sempurna anthropomorphism. Pada kutipan ini, salah satu babi bernama Old Major memberikan pidato politik kepada rekan-rekannya menentang kejahatan yang diterapkan oleh penguasa manusia. Di sini, Old Major menghasut mereka untuk memberontak melawan manusia tiran. Penggunaan ini secara keseluruhan merupakan contoh yang baik dari anthropomorphism.

    Contoh #3: A Dog’s Tale (Karya Mark Twain)

    “Ayahku adalah seekor St. Bernard, ibuku adalah seekor collie, tapi aku adalah seorang Presbyterian. Itulah yang dikatakan ibuku padaku, aku sendiri tidak tahu perbedaan cantik ini. Bagiku, mereka hanya kata-kata besar yang bagus tidak berarti apa-apa. Ibuku suka yang seperti itu; dia suka mengatakannya, dan melihat anjing lain terlihat kaget dan iri, seolah-olah bertanya-tanya bagaimana dia bisa mendapatkan pendidikan begitu banyak… Ketika aku sudah besar, akhirnya aku dijual dan dibawa pergi, dan aku tidak pernah melihatnya lagi. Hatinya hancur, dan begitu juga denganku, dan kami menangis; tapi dia menghiburku sebaik mungkin...”

    Protagonis dalam cerita ini adalah seekor anjing yang menggambarkan hidupnya sebagai anak anjing. Cerita ini diceritakan dari perspektif hewan peliharaan yang setia. Anjing ini memiliki sifat-sifat manusiawi seperti emosi, rasa malu, ketakutan, kesedihan, kebahagiaan, dan keputusasaan.

    Fungsi Anthropomorphism

    Ada berbagai alasan penggunaan anthropomorphism. Alasan utamanya adalah untuk menciptakan daya tarik yang lebih luas kepada pembaca. Dengan menggunakan objek atau binatang, cerita dapat menjadi menarik secara visual dan tidak menakutkan bagi pembaca. Oleh karena itu, anthropomorphism dapat menarik perhatian berbagai kalangan pembaca (termasuk anak-anak) dengan menyajikan karakter animasi dalam cerita dan film animasi. Dalam sastra, ini berfungsi sebagai alat yang efektif untuk menciptakan satira politik dan sosial. Oleh karena itu, anthropomorphism memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar menghibur anak-anak.

    Penutup

    Dalam sastra, anthropomorphism muncul sebagai teknik yang kuat untuk menyampaikan pesan dan membentuk imajinasi pembaca. Contoh-contoh seperti puisi The Jaguar, novel Animal Farm, dan kisah A Dog’s Tale membuktikan keberhasilan teknik ini dalam menciptakan karya yang mendalam dan memberikan pandangan baru melalui perspektif non-manusia. Dengan memahami perbedaan antara anthropomorphism dan personifikasi, pembaca dapat mengapresiasi kedalaman dan kompleksitas yang ditawarkan oleh penggunaan teknik ini dalam menciptakan karya sastra yang unik dan berdaya ungkit. (as)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Sastra

    +
    close