• Jelajahi

    Copyright © Langgam Pos
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Iklan

    Peran dan Signifikansi Anteseden dalam Karya Sastra

    Selasa, 02 Januari 2024, 13:50 WIB Last Updated 2024-01-02T06:50:19Z
    masukkan script iklan disini
    IKLAN

    Baca Juga


    langgampos.com - Dalam dunia sastra, terdapat banyak aspek dan konsep yang memberikan kekayaan pada sebuah karya. Salah satu konsep yang mendalam dan memiliki peran penting adalah "antecedent" atau "anteseden." Dalam tulisan ini, kita akan menjelajahi definisi, perbedaan antara anteseden dan paskaanteseden, contoh umum, serta relevansi dan peran mereka dalam karya sastra. Pemahaman yang mendalam terhadap konsep ini akan membuka wawasan terhadap penggunaan bahasa dalam menyampaikan makna dalam sebuah karya sastra.


    Peran dan Signifikansi Anteseden dalam Karya Sastra


    Definisi Anteseden

    Anteseden dapat diartikan sebagai klausa, frasa, atau kata sebelumnya yang diacu oleh sebuah kata ganti, kata benda, atau kata lainnya. Secara umum, anteseden adalah perangkat sastra di mana kata atau pronoun dalam suatu baris atau kalimat merujuk pada kata sebelumnya. Sebagai contoh, "Saat memberikan camilan kepada anak-anak atau teman, berikan mereka apa pun yang mereka suka." Dalam kalimat ini, anak-anak dan teman adalah anteseden, sementara "mereka" adalah kata ganti yang merujuk pada teman dan anak-anak. Ini adalah istilah linguistik khas yang berasal dari tata bahasa.

    Seringkali, anteseden dan pronoun mereka sesuai dalam jumlah, artinya jika sebuah anteseden tunggal, kata ganti yang menggantikannya juga akan tunggal. Namun, terkadang penulis mungkin tidak mengikuti aturan ini, dan kita melihat anteseden tunggal digantikan oleh pronoun jamak. Demikian pula, anteseden dan pronoun mereka memiliki jenis kelamin yang sama.

    Perbedaan Antara Anteseden dan Paskaanteseden

    Kedua istilah ini saling berlawanan, karena anteseden merujuk pada di depan atau sebelumnya. Ini adalah ungkapan yang memberikan makna pada proform (kata benda, pronoun, pro-adverb, atau pro-verb). Oleh karena itu, proform mengikuti anteseden mereka masing-masing seperti "Elizabeth berkata, dia suka kopi." Kadang-kadang proform atau pronoun ini mendahuluinya yang disebut sebagai paskaanteseden, yang berarti di belakang atau setelahnya seperti, "ketika itu sudah siap, saya pasti akan mendapatkan segelas teh saya."


    Contoh Umum Anteseden

    • David bermain sepak bola di halaman. Semua anak sudah berkumpul di sana.
    • Paman saya suka permen. Dia meminta semua orang memberinya permen sebagai hadiah.
    • Ketika anak-anak bahagia, mereka bertepuk tangan untuk mengekspresikan kebahagiaan mereka.
    • Daun-daun sudah berwarna kuning; namun mereka masih berada di pohon.
    • Burung itu memakan ikan dengan cepat, dan segera setelah itu...

    Contoh Anteseden dalam Sastra




    1. Ode to Autumn (karya John Keats)

    "And still more, later flowers for the bees,
    Until they think warm days will never cease,
    For Summer has o’er-brimmed their clammy cell."


    Pada baris-baris di atas, lebah digunakan sebagai anteseden, dan kata ganti "they" dan "their" merujuk pada kata benda yang digunakan sebelumnya. Lihat bahwa anteseden dan pronounnya di italic. Jika kita menghapus pronoun tersebut, baris-baris ini akan memberikan kesan yang sepenuhnya berbeda dan membingungkan, dan maknanya akan berubah.

    2. A Comedy of Errors (karya William Shakespeare)


    "There’s not a man I meet but doth salute me
    As if I were their well-acquainted friend
    And every one doth call me by my name.
    Some tender money to me; some invite me …"
    Di sini, Shakespeare menggunakan pronoun referensi yang tidak jelas dengan menggunakan anteseden tunggal, "a man," dengan pronoun jamak "their." Namun, kata benda "everyone" adalah tunggal, dan keduanya sesuai dalam jumlah mereka. Pembicara berusaha menjelaskan bahwa dia tidak bertemu dengan satu orang pun, tetapi semua orang mengenal namanya, dan oleh karena itu, dia merujuk pada semua orang sebagai "mereka."

    3. A Poison Tree (karya William Blake)

    "... I was angry with my foe:
    I told it not, my wrath did grow.
    And I watered it in fears,
    Night and morning with my tears;
    And I sunned it with smiles …"

    Puisi ini menyajikan contoh yang sangat baik tentang anteseden, di mana pembicara menggunakan kata benda "foe" sebagai anteseden, dan menggantikannya dengan pronoun "it" pada baris berikutnya. Demikian pula, dia lagi menggunakan "wrath" sebagai anteseden, dan menggantikannya dengan "it."

    4. Othello (karya William Shakespeare)

    "Me thinks the wind has spoke aloud at land,
    A fuller blast ne’er shook our battlements
    If it hath ruffianed so upon the sea
    What ribs of oak, when mountains melt on them …"

    Pada potongan ini, anteseden adalah "wind," dan pronoun "it" adalah denotasinya, menggantikannya pada baris ketiga. Anteseden membuat baris-baris ini jelas dan mudah dimengerti bagi para pembaca.

    Fungsi Anteseden dalam Karya Sastra

    Anteseden adalah perangkat sastra yang sangat penting dan bermanfaat, karena membuat makna suatu kalimat jelas bagi pembaca. Dengan menggunakan referensi seperti they, their, them, it, he, dan she tanpa subjek anteseden, sebuah kalimat akan menjadi membingungkan. Oleh karena itu, anteseden membuat kata-kata, tata bahasa, dan ungkapan penulis menjadi jelas dan tepat, karena tanpa itu, sebuah kalimat tetap kabur dan tidak dapat menyampaikan makna yang tepat. Meskipun konsep ini membingungkan, ini adalah aturan yang layak dipahami, karena membantu penulis meningkatkan gaya penulisan mereka juga. (as)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Sastra

    +
    close