• Jelajahi

    Copyright © Langgam Pos
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Iklan

    Magical Realism (Realisme Magis): Dunia Fantasi yang Menyatu dengan Kehidupan Sehari-hari

    Minggu, 21 April 2024, 08:46 WIB Last Updated 2024-04-21T01:46:57Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    Baca Juga

    Magical Realism (Realisme Magis): Dunia Fantasi yang Menyatu dengan Kehidupan Sehari-hari


    Langgampos.com - Magical realism, atau realisme magis, merupakan pendekatan dalam sastra yang menggabungkan fantasi dan mitos ke dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang nyata? Apa yang khayal? Di dunia realisme magis, yang biasa menjadi luar biasa dan yang magis menjadi biasa.

    Juga dikenal sebagai "realisme luar biasa," atau "realisme fantastis," realisme magis bukanlah gaya atau genre sebanyak itu merupakan cara untuk mempertanyakan sifat realitas. Dalam buku, cerita, puisi, drama, dan film, narasi faktual dan fantasi yang jauh berpadu untuk mengungkap wawasan tentang masyarakat dan sifat manusia. Istilah "magic realism" juga terkait dengan karya seni realistis dan figuratif— lukisan, gambar, dan patung— yang menyarankan makna tersembunyi. Gambar-gambar yang realistis, seperti potret Frida Kahlo yang ditampilkan di atas, mengambil udara misteri dan pesona.

    Keanehan yang Ditambahkan ke dalam Cerita

    Tidak ada yang baru dari penambahan keanehan ke dalam cerita tentang orang biasa. Para ahli telah mengidentifikasi elemen-elemen realisme magis dalam karakter Heathcliff yang penuh gairah dan terhantui karya Emily Brontë ("Wuthering Heights") dan Gregor yang malang dari Franz Kafka yang berubah menjadi serangga raksasa ("The Metamorphosis"). Namun, istilah "realisme magis" tumbuh dari gerakan seni dan sastra khusus yang muncul pada pertengahan abad ke-20.

    Seni Dari Berbagai Tradisi

    Pada tahun 1925, kritikus Franz Roh (1890–1965) menciptakan istilah Magischer Realismus (Realisme Ajaib) untuk menjelaskan karya seniman Jerman yang menggambarkan subjek rutin dengan keterpisahan yang aneh. Pada tahun 1940-an dan 1950-an, para kritikus dan sarjana mulai mengaplikasikan label tersebut pada seni dari berbagai tradisi. Lukisan-lukisan bunga besar karya Georgia O'Keeffe (1887–1986), potret diri psikologis Frida Kahlo (1907–1954), dan pemandangan perkotaan yang suram oleh Edward Hopper (1882–1967) semuanya termasuk dalam ranah realisme magis.

    Gerakan Sastra yang Terpisah

    Dalam sastra, realisme magis berkembang sebagai gerakan yang terpisah, terpisah dari realisme magis yang sunyi misterius dari seniman visual. Penulis Kuba, Alejo Carpentier (1904–1980), memperkenalkan konsep "lo real maravilloso" ("realitas yang menakjubkan") ketika ia menerbitkan esainya pada tahun 1949 yang berjudul “On the Marvelous Real in Spanish America.” Carpentier percaya bahwa Amerika Latin, dengan sejarah dan geografinya yang dramatis, mengambil aura yang fantastis di mata dunia. Pada tahun 1955, kritikus sastra Angel Flores (1900–1992) mengadopsi istilah realisme magis (berbeda dengan realisme magis) untuk menggambarkan tulisan-tulisan penulis Amerika Latin yang mengubah "hal yang biasa dan sehari-hari menjadi menakjubkan dan tidak nyata."

    Magic Realism Amerika Latin

    Menurut Flores, realisme magis dimulai dengan cerita tahun 1935 oleh penulis Argentina Jorge Luís Borges (1899–1986). Kritikus lain telah mengakui penulis lain sebagai pelopor gerakan tersebut. Namun, Borges tentu membantu membentuk landasan bagi realisme magis Amerika Latin, yang dianggap unik dan berbeda dari karya penulis Eropa seperti Kafka. Penulis Hispanik lain dari tradisi ini termasuk Isabel Allende, Miguel Ángel Asturias, Laura Esquivel, Elena Garro, Rómulo Gallegos, Gabriel García Márquez, dan Juan Rulfo.

    Keadaan Luar Biasa dianggap Lumrah

    "Surrealisme mengalir di jalanan," kata Gabriel García Márquez (1927–2014) dalam sebuah wawancara dengan "The Atlantic." García Márquez menolak istilah "realisme magis" karena ia percaya bahwa keadaan luar biasa adalah bagian yang diharapkan dari kehidupan Amerika Selatan di kampung halamannya di Kolombia. Untuk mencicipi tulisannya yang magis-tapi-nyata, mulailah dengan “A Very Old Man with Enormous Wings" dan “The Handsomest Drowned Man in the World.”

    Tren Internasional

    Saat ini, realisme magis dilihat sebagai tren internasional, menemukan ekspresi di banyak negara dan budaya. Para peninjau buku, penjual buku, agen sastra, publicis, dan para penulis sendiri telah merangkul label tersebut sebagai cara untuk menggambarkan karya yang menyatukan adegan realistis dengan fantasi dan legenda. Elemen realisme magis dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan oleh Kate Atkinson, Italo Calvino, Angela Carter, Neil Gaiman, Günter Grass, Mark Helprin, Alice Hoffman, Abe Kobo, Haruki Murakami, Toni Morrison, Salman Rushdie, Derek Walcott, dan banyak penulis lain di seluruh dunia.

    6 Karakteristik Kunci dari Realisme Magis

    Mudah untuk membingungkan realisme magis dengan bentuk-bentuk tulisan imajinatif lainnya. Namun, cerita dongeng bukanlah realisme magis. Begitu juga cerita horor, cerita hantu, fiksi ilmiah, fiksi distopia, fiksi paranormal, literatur absurd, dan fantasi pedang dan sihir. Untuk masuk ke dalam tradisi realisme magis, tulisan harus memiliki sebagian besar, jika tidak semua, dari keenam karakteristik ini:

    1. Situasi dan Peristiwa yang Melanggar Logika: Dalam novel ringan Laura Esquivel "Like Water for Chocolate," seorang wanita yang dilarang menikah menuangkan sihir ke dalam makanan. Dalam "Beloved," penulis Amerika Toni Morrison mempersembahkan cerita yang lebih gelap: Seorang wanita yang kabur dari perbudakan pindah ke rumah yang dihantui oleh hantu seorang bayi yang meninggal lama. Cerita-cerita ini sangat berbeda, namun keduanya terjadi di dunia di mana benar-benar segalanya bisa terjadi.

    2. Mitos dan Legenda: Sebagian besar keanehan dalam realisme magis berasal dari cerita rakyat, perumpamaan agama, alegori, dan takhayul. Seorang abiku—roh anak Afrika Barat—menceritakan "The Famished Road" karya Ben Okri. Seringkali, legenda dari tempat dan waktu yang berbeda disandingkan untuk menciptakan anakronisme yang mengejutkan dan cerita yang padat, kompleks. Dalam "A Man Was Going Down The Road," penulis Georgia Otar Chiladze menggabungkan mitos Yunani kuno dengan peristiwa-peristiwa menghancurkan dan sejarah yang penuh gejolak dari tanah air Eurasianya dekat Laut Hitam.

    3. Konteks Sejarah dan Isu Sosial: Peristiwa politik dunia nyata dan gerakan sosial terkait dengan fantasi untuk menjelajahi masalah-masalah seperti rasisme, seksisme, intoleransi, dan kelemahan manusia lainnya. "Midnight’s Children" karya Salman Rushdie adalah saga seorang pria yang lahir pada saat kemerdekaan India. Karakter Rushdie memiliki telepati dengan ribuan anak magis yang lahir pada jam yang sama dan hidupnya mencerminkan peristiwa-peristiwa kunci negaranya.

    4. Waktu dan Urutan yang Tidak Menentu: Dalam realisme magis, karakter dapat bergerak mundur, melompat ke depan, atau bergerak zigzag antara masa lalu dan masa depan. Perhatikan bagaimana Gabriel García Márquez memperlakukan waktu dalam novelnya tahun 1967, "Cien Años de Soledad" ("One Hundred Years of Solitude"). Perubahan mendadak dalam narasi dan kehadiran hantu dan firasat meninggalkan pembaca dengan rasa bahwa peristiwa-peristiwa berputar dalam lingkaran yang tak berujung.

    5. Pengaturan Dunia Nyata: Realisme magis bukanlah tentang penjelajah ruang angkasa atau penyihir; "Star Wars" dan "Harry Potter" bukanlah contoh dari pendekatan ini. Salman Rushdie dalam "The Telegraph" mencatat bahwa "sihir dalam realisme magis memiliki akar yang dalam dalam kenyataan." Meskipun peristiwa-peristiwa luar biasa dalam hidup mereka, karakter-karakter itu adalah orang-orang biasa yang tinggal di tempat-tempat yang dikenali.

    6. Tone yang Sederhana: Fitur paling khas dari realisme magis adalah suara narasi yang tidak tergerak emosi. Peristiwa-peristiwa aneh digambarkan dengan cara yang acuh tak acuh. Karakter-karakter tidak mempertanyakan situasi surreal yang mereka temui. Sebagai contoh, dalam buku pendek "Our Lives Became Unmanageable," seorang narator meremehkan dramatisme dari menghilangnya suaminya: "...Gifford yang berdiri di hadapanku, telapak tangannya terbuka, tidak lebih dari riak di atmosfer, fatamorgana dalam setelan abu-abu dan dasi sutra berpolo garis, dan ketika aku menggapainya lagi, setelannya menguap, meninggalkan hanya kilau ungu paru-parunya dan sesuatu yang berdenyut berwarna pink yang aku salah anggap sebagai mawar. Tentu saja, itu hanya jantungnya."

    Jangan Menyematkannya dalam Kotak

    Sastra, seperti seni visual, tidak selalu masuk ke dalam kotak yang rapi. Ketika Pemenang Nobel Kazuo Ishiguro menerbitkan "The Buried Giant," para peninjau buku berusaha mengidentifikasi genre tersebut. Ceritanya tampaknya adalah fantasi karena berlangsung di dunia naga dan raksasa. Namun, narasinya tidak beremosi dan elemen-elemen dongengnya ditekan: "Tetapi monster-monster seperti itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan ... masih ada begitu banyak hal lain yang membuat khawatir."

    Apakah "The Buried Giant" murni fantasi, atau apakah Ishiguro memasuki ranah realisme magis? Mungkin buku-buku seperti ini masuk ke dalam genre yang unik. (as)
    Komentar

    Tampilkan

    Iklan

    Terkini

    close