• Jelajahi

    Copyright © Langgam Pos
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Ternyata Allah Lebih Bangga pada Manusia Ketimbang dengan Malaikat

    Selasa, 02 April 2024, Selasa, April 02, 2024 WIB Last Updated 2024-04-03T05:30:17Z
    masukkan script iklan disini

    Baca Juga


    Ternyata Allah Lebih Bangga Pada Manusia Ketimbang dengan Malaikat



    Langgampos.com - Gus Baha, seorang tokoh agama yang dikenal dengan pemikiran-pemikirannya yang mendalam, mengungkapkan pandangannya yang menarik mengenai hubungan antara Allah, malaikat, dan manusia. Salah satu pemikiran yang diutarakan adalah bahwa Allah lebih bangga pada manusia ketimbang dengan malaikat, dengan alasan yang sangat bermakna.

    Allah, menurut Gus Baha, menyatakan rasa bangganya pada hamba-hamba-Nya. Ini menjadi fakta menarik karena malaikat, walaupun memiliki keistimewaan sebagai makhluk yang diciptakan dari cahaya dan menjalankan tugas-tugas ilahi, pada dasarnya adalah makhluk yang "normal" dalam konteks keilahian. Dalam percakapan yang digambarkan oleh Gus Baha, Allah menyatakan kebanggaan-Nya pada manusia dengan ungkapan, "Saya ini bangga dengan hamba-hamba saya." Hal ini menyoroti keistimewaan manusia dalam pandangan-Nya.

    Malaikat, yang menyadari bahwa iman mereka berasal dari sifat mereka yang "asli" atau "original", bertanya kepada Allah dengan rasa ingin tahu, "Dengan kita ya Allah?" Allah memberikan jawaban yang menarik dengan mengatakan bahwa tentu saja malaikat memiliki iman karena mereka memiliki pengetahuan langsung tentang-Nya, melihat kekuatan dan keagungan-Nya, serta memahami alam spiritual yang tidak dapat dicapai oleh manusia. Namun, hal tersebut tidak membuat malaikat menjadi objek kebanggaan utama Allah.

    Pertanyaan malaikat berlanjut, "Lalu siapa ya Allah? Apakah para nabi?" Allah kemudian menjelaskan bahwa para nabi memang luar biasa karena mereka memperoleh wahyu langsung dari-Nya. Namun, yang benar-benar dianggap sebagai hamba yang membuat Allah bangga adalah mereka yang imannya murni, tanpa pernah melihat-Nya secara langsung atau mendapatkan wahyu, namun tetap teguh dalam keyakinannya. Mereka tidak pernah melihat neraka secara fisik, namun ketakutan dan kepatuhan mereka kepada Allah seolah-olah mereka telah melihatnya dengan mata kepala sendiri.

    Dalam pandangan Gus Baha, keistimewaan manusia terletak pada kemampuan mereka untuk percaya tanpa harus melihat secara langsung atau merasakan secara nyata. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih iman mereka dan berkomitmen pada kepercayaan tersebut, meskipun mereka tidak memiliki akses langsung ke keberadaan-Nya. Ini adalah puncak dari kepercayaan yang sungguh-sungguh, yang membuat Allah merasa bangga pada hamba-Nya yang menjalani kehidupan dengan keyakinan dan ketaatan.

    Dalam konteks ini, manusia memang memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh malaikat atau makhluk lainnya. Keistimewaan ini bukanlah karena kemampuan intelektual atau kekuatan fisik, melainkan karena kemampuan untuk memiliki iman yang kokoh dan teguh meskipun keberadaan-Nya tidak dapat dipahami secara langsung. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara manusia dan Allah tidak hanya berdasarkan pengetahuan atau pengalaman lahiriah semata, melainkan lebih dalam lagi, yaitu pada dimensi spiritual dan kepercayaan yang mendalam.

    Dengan demikian, kesadaran akan keistimewaan ini dapat menjadi pendorong bagi manusia untuk terus memperkokoh iman dan komitmen mereka kepada Allah. Selain itu, hal ini juga menjadi pengingat bahwa kepercayaan dan keyakinan yang teguh adalah hal yang sangat berharga di mata-Nya, bahkan lebih berharga daripada pengetahuan atau pengalaman yang bersifat lahiriah. Dalam pandangan Gus Baha, ini adalah satu-satunya hal yang membuat Allah merasa bangga pada manusia, yaitu kesungguhan dan keteguhan iman mereka.

    Dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, pemahaman ini dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi manusia untuk terus meningkatkan kualitas iman dan ketaatan mereka kepada Allah. Kesadaran akan keistimewaan ini juga dapat mengubah perspektif manusia terhadap nilai-nilai spiritual dan keberadaan diri mereka dalam hubungan dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu, menjadikan iman sebagai pondasi utama dalam menjalani kehidupan adalah langkah yang sangat penting dan berharga, sebagaimana yang diajarkan oleh Gus Baha dan pandangan-pandangan agama yang mengedepankan keimanan yang kokoh dan teguh. (mn)
    Komentar

    Tampilkan

    Iklan

    Terkini

    close