• Jelajahi

    Copyright © Langgam Pos
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    gempur rokok illegal

    Iklan

    Apa Kepanjangan dari “SOS”?

    Senin, 13 Mei 2024, 20:59 WIB Last Updated 2024-05-14T13:59:53Z
    masukkan script iklan disini
    IKLAN

    Baca Juga

    Apa Kepanjangan dari “SOS”?


    Langgampos.com - Saat mendengar istilah "SOS", banyak orang mengaitkannya dengan "Save Our Souls" atau "Save Our Ship". Namun, pemahaman ini adalah kesalahan umum. Sebenarnya, "SOS" tidak merupakan singkatan dari apapun.

    Secara teknis, sinyal ini bukanlah deretan tiga huruf individual. "SOS" adalah kode Morse yang terdiri dari tiga titik, tiga garis, dan tiga titik lagi yang dikirim tanpa spasi atau tanda baca (...---...). Karena tiga titik membentuk huruf S dan tiga garis membentuk huruf O dalam Kode Morse Internasional, sinyal ini menjadi dikenal sebagai "SOS" untuk kemudahan. Hubungan ini menjadikan "SOS" sebagai sinyal visual distress yang terpisah dari kode Morse, yang seringkali digunakan oleh mereka yang membutuhkan bantuan dengan menuliskannya di tanah agar terlihat dari udara.

    Logika di Balik "SOS"

    Mengapa memilih rangkaian titik dan garis ini jika tidak memiliki makna spesifik? Karena sinyal ini adalah yang paling efisien untuk menyampaikan pesan distress.

    Pada awal abad ke-20, ketika mesin telegraf nirkabel pertama kali digunakan di kapal, para pelaut memerlukan cara untuk menarik perhatian, mengirim sinyal distress, dan meminta bantuan. Sinyal tersebut harus unik, dapat ditransmisikan dengan jelas dan cepat, serta tidak mudah disalahartikan sebagai komunikasi lainnya. Awalnya, berbagai organisasi dan negara memiliki sinyal distress mereka sendiri. Angkatan Laut AS menggunakan "NC", sinyal bendera maritim untuk distress dari Kode Sinyal Internasional. Perusahaan Marconi, yang menyewakan peralatan dan operator telegraf ke berbagai kapal, menggunakan "CQD". Regulasi Jerman tahun 1905 mewajibkan semua operator Jerman menggunakan "...---...".

    Keberadaan banyak sinyal distress ini membingungkan dan berpotensi berbahaya. Hal ini berarti bahwa sebuah kapal dalam keadaan bahaya di perairan asing harus mengatasi hambatan bahasa dengan penyelamat, meskipun menggunakan Kode Morse Internasional. Karena masalah ini dan lainnya, berbagai negara memutuskan untuk berkumpul dan membahas ide untuk menetapkan regulasi internasional untuk komunikasi telegraf nirkabel. Pada tahun 1906, Konvensi Telegraf Nirkabel Internasional diadakan di Berlin, di mana para delegasi berusaha menetapkan sinyal distress standar internasional. Sinyal Marconi "-.-.--.--.." dan "………-..-..-.." ("SSSDDD"), yang diusulkan Italia pada konferensi sebelumnya, dianggap terlalu rumit. Sinyal "...---..." dari Jerman dapat dikirim dengan cepat dan mudah serta sulit disalahartikan. Sinyal ini dipilih sebagai sinyal distress internasional oleh negara-negara yang hadir pada konferensi tersebut, dan mulai berlaku pada 1 Juli 1908.

    Adopsi "SOS" di Dunia Maritim

    Penggunaan "SOS" sebagai sinyal distress pertama kali tercatat pada Agustus 1909. Operator telegraf nirkabel di SS Arapahoe mengirimkan sinyal tersebut ketika kapal tersebut rusak karena baling-balingnya patah di lepas pantai Cape Hatteras, Carolina Utara.

    Namun, tidak semua pihak segera menerima standar baru ini. Perusahaan Marconi khususnya enggan meninggalkan "CQD". Operator Marconi di atas kapal Titanic awalnya hanya mengirim sinyal tersebut setelah kapal menabrak gunung es, sampai seorang operator lainnya menyarankan untuk mencoba sinyal "SOS" yang baru juga.

    Kesimpulan

    "SOS" telah menjadi bagian integral dari sejarah maritim dan komunikasi nirkabel. Meskipun banyak yang mengira itu singkatan dari frasa tertentu, pada kenyataannya, sinyal ini dipilih karena efisiensinya dalam menyampaikan pesan distress secara cepat dan jelas. Kini, "SOS" dikenal luas sebagai panggilan universal untuk bantuan, melambangkan urgensi dan harapan dalam situasi darurat.

    (nh)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    close