Iklan

Jumat, 31 Mei 2024, 11.29 WIB
Last Updated 2024-05-31T05:21:30Z
bayiceloteh bayiEdukasisuara bayi

Celotehan Bayi Bukan Sekadar Omong Kosong, Ini Tujuan Ilmiahnya

Baca Juga
Advertisement
Celotehan Bayi Bukan Sekadar Omong Kosong, Ini Tujuan Ilmiahnya












Langgampos.com - Jeritan, geraman, dan celotehan bayi yang tampak seperti omong kosong ternyata memiliki makna ilmiah yang penting. Berdasarkan penelitian terbaru, suara-suara lucu ini mungkin adalah cara bayi mempersiapkan diri untuk berbicara.

Celotehan Bayi Memiliki Tujuan

Para peneliti telah menganalisis suara yang dibuat oleh bayi selama tahun pertama kehidupan mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suara seperti jeritan, derit, dan geraman cenderung terjadi secara berkelompok. Temuan ini mengindikasikan bahwa celotehan bayi bukan hanya suara acak, tetapi memiliki pola yang dapat membantu dalam mengidentifikasi gangguan komunikasi.

Dr. Hyunjoo Yoo dari Universitas Alabama, penulis utama penelitian ini, menjelaskan, “Salah satu alasan utama kami mengejar pertanyaan tentang pengelompokan adalah bahwa pengelompokan dapat menjadi penanda yang berguna dalam menyaring gangguan komunikasi.”

Metode Penelitian

Untuk penelitian ini, Yoo dan timnya mempelajari 130 bayi berusia kurang dari 13 bulan. Rekaman rumah yang dibuat setiap bulan oleh orang tua dan pengasuh mereka digunakan sebagai bahan analisis. Para bayi ini dibagi menjadi enam kelompok umur: 0-2 bulan, 3–4 bulan, 5–6 bulan, 7–8 bulan, 9–10 bulan, dan 11–13 bulan.

Para peneliti memilih segmen berdurasi lima menit secara acak dari setiap video. Dari 1.104 rekaman yang dianalisis, mereka mengekstraksi 15.774 segmen. Lebih dari 60 persen rekaman menunjukkan adanya pengelompokan jeritan atau geraman.

“Tidak ada satu pun bayi yang, berdasarkan evaluasi semua rekaman yang tersedia, tidak menunjukkan adanya kasus pengelompokan jeritan maupun pengelompokan geraman yang signifikan,” kata para peneliti.

Temuan Penting

Pengelompokan suara ini tampaknya sudah ada sejak awal kehidupan, yang menunjukkan adanya mekanisme eksplorasi vokal pada bayi. Satu pengamatan yang menarik adalah bahwa pada usia 3–4 bulan, terdapat nilai rata-rata geraman atau pengelompokan jeritan yang paling rendah. Hal ini mengejutkan para peneliti karena usia ini biasanya dianggap sebagai awal permainan vokal.

Para peneliti juga menemukan bahwa bayi yang berusia di atas lima bulan lebih sering mengeluarkan jeritan dibandingkan dengan geraman. Mereka berpendapat bahwa hal ini mungkin disebabkan oleh perkembangan kendali atas pita suara pada usia tersebut.

Manfaat bagi Pengasuh

Dr. Yoo, seperti dikutip oleh The Guardian, menyarankan agar pengasuh meniru suara yang dikeluarkan bayi untuk membantu mereka mengembangkan repertoar vokalnya. “Tampaknya logis bahwa akan bermanfaat bagi bayi jika pengasuh mencoba untuk merespons dan berinteraksi lebih banyak dengan bayi mereka dengan meniru jeritan, suara, dan geraman,” ujarnya.

Meniru suara bayi dapat menjadi cara yang efektif untuk merangsang perkembangan vokal mereka. Interaksi ini membantu bayi merasa dipahami dan didukung dalam eksplorasi vokal mereka.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa celotehan bayi memiliki tujuan ilmiah yang penting dalam perkembangan kemampuan berbicara. Suara-suara yang tampak tidak masuk akal ini ternyata adalah bentuk latihan vokal yang membantu bayi mempersiapkan diri untuk berbicara. Dengan mengetahui hal ini, para pengasuh dapat lebih aktif berinteraksi dengan bayi mereka, meniru suara-suara yang mereka keluarkan, dan membantu perkembangan kemampuan komunikasi mereka sejak dini.

Penelitian ini membuka wawasan baru tentang pentingnya memahami dan merespons celotehan bayi. Suara yang tampak acak ini ternyata memiliki pola yang dapat membantu dalam menyaring gangguan komunikasi dan mempersiapkan bayi untuk berbicara. Oleh karena itu, interaksi yang lebih aktif dan responsif dari pengasuh dapat memberikan manfaat besar bagi perkembangan vokal bayi.

Implikasi untuk Penelitian Masa Depan

Temuan ini juga membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara pola suara bayi dan perkembangan bahasa mereka di masa depan. Penelitian lebih lanjut dapat membantu mengidentifikasi tanda-tanda awal gangguan komunikasi dan menyediakan intervensi yang tepat waktu untuk bayi yang membutuhkan.

Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang cara bayi bereksplorasi vokal, kita dapat mengembangkan strategi baru untuk mendukung perkembangan bahasa mereka. Ini adalah langkah penting dalam memastikan setiap bayi memiliki kesempatan terbaik untuk mengembangkan kemampuan komunikasi yang kuat sejak dini.

Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya mendukung dan merespons celotehan bayi, bukan hanya sebagai bentuk interaksi, tetapi juga sebagai cara untuk mendorong perkembangan vokal yang sehat. Jadi, lain kali Anda mendengar bayi Anda berceloteh, ingatlah bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang sangat penting untuk masa depan kemampuan berbicara mereka.

(nh)



Source: 1
close