Iklan

Selasa, 28 Mei 2024, 12.18 WIB
Last Updated 2024-05-28T05:18:13Z
baliNewsworld water forumwwf

Misi Pelestarian Danau di World Water Forum di Bali

Baca Juga
Advertisement
Misi Pelestarian Danau di Worl Water Forum di Bali


Langgampos.com - Inisiatif Indonesia untuk menyelamatkan danau guna menjaga keberlanjutan sumber daya air global menjadi salah satu klausul dalam Deklarasi Menteri di Forum Air Dunia (World Water Forum) ke-10 yang berlangsung di Bali pada 22 Mei.

Deklarasi tersebut, yang dihadiri oleh delegasi dari 106 negara dan 27 organisasi internasional, juga membuka peluang bagi para pemangku kepentingan untuk merespons kekurangan pasokan air.

Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi), dalam pidato pembukaannya di KTT WWF, menyatakan bahwa kekeringan dapat mempengaruhi 500 juta petani kecil pada tahun 2050. Dunia juga harus menghadapi kenyataan bahwa hanya satu persen air di dunia yang dapat diakses untuk konsumsi manusia.

Danau terbentuk secara alami di beberapa bagian sungai, menghasilkan cekungan yang berfungsi sebagai penyimpanan air dan mendukung ekosistem air darat.

Forum yang telah berlangsung selama 30 tahun ini menyadari bahwa danau memainkan peran penting dalam siklus makanan, pemurnian air, iklim, dan keanekaragaman hayati, serta mendukung aktivitas rekreasi dan tradisional.

Dewan Sumber Daya Air Nasional (DSDAN) melaporkan bahwa dalam tiga tahun terakhir, Indonesia memiliki total 840 danau besar dan 735 danau kecil. Jumlah danau besar terbanyak berada di Sumatra dengan 170 danau, diikuti Kalimantan dengan 139 danau; Jawa dan Bali 31 danau; Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat 14 danau; Sulawesi 30 danau; Maluku 10 danau; dan Papua 127 danau.

DSDAN memperkirakan bahwa danau di Indonesia mampu menampung hingga 500 miliar meter kubik air.

Namun, danau saat ini mengalami degradasi akibat kerusakan daerah tangkapan air dan penggunaan berlebihan yang dapat mempengaruhi lingkungan danau dalam bentuk sedimentasi, polusi, dan penurunan keanekaragaman hayati.

Sebagai contoh, fenomena eutrofikasi eceng gondok dan pendangkalan yang sering terjadi di berbagai danau, termasuk Danau Rawa Pening di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Danau alami ini mencakup area sekitar 2.670 hektar, dengan hampir setengahnya dipenuhi oleh eceng gondok.

Pada tingkat global, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indonesia menyatakan bahwa danau alami dan buatan menyediakan 87 persen air tawar di permukaan Bumi. Volume air tawar di danau juga dilaporkan telah berkurang setengahnya, dengan lebih dari 50 persen danau terbesar di dunia mengalami penyusutan akibat tekanan besar dari penggunaan air yang berlebihan dan krisis iklim.

Zero Delta Q

Misi WWF untuk menyelamatkan danau membuka peluang bagi para pemangku kepentingan untuk membahas dan merespons isu-isu penting dalam ekosistem danau yang sangat rentan terhadap tekanan lingkungan sekitarnya.

Dalam diskusi panel bertajuk "Terlalu Banyak, Terlalu Sedikit, Terlalu Tercemar – Keamanan Air untuk Kota-Kota Tangguh dan Layak Huni" yang diadakan pada 21 Mei, disampaikan bahwa kekeringan yang terjadi setiap musim kemarau dan banjir selama musim hujan di beberapa bagian dunia adalah bukti lemahnya sistem manajemen air.

Indonesia, sebagai negara kepulauan tropis, menerima curah hujan tinggi, berkisar antara seribu hingga empat ribu milimeter per tahun, yang dapat digunakan sebagai cadangan air tanah bagi masyarakat di musim kemarau.

Zero Delta Q adalah salah satu praktik regulasi manajemen air di Indonesia dalam menjaga keseimbangan daerah aliran sungai (DAS) secara non-struktural. Prinsip kerjanya adalah menyediakan ruang bagi air di wilayah DAS melalui kebijakan tata ruang.

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 13 Tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional melarang setiap bangunan menjadi kontributor peningkatan debit air ke sistem drainase atau aliran sungai.

Peraturan ini mewajibkan pengembang perumahan, kantor, dan industri untuk memasang sistem drainase air ke dalam tanah melalui sumur resapan, waduk, polder, dan danau. Skema ini diharapkan dapat meningkatkan cadangan air tanah untuk kepentingan masyarakat selama musim kemarau serta mengurangi bencana banjir akibat luapan sungai.

Hari Danau Sedunia

Deklarasi Hari Danau Sedunia muncul dari diskusi panel WWF bertajuk "Panggilan Mendesak untuk Menyelamatkan Danau Kita: Mempromosikan Agenda Global dan Upaya Kolaboratif untuk Manajemen Danau Berkelanjutan, dan Meningkatkan Momentum Hari Danau Sedunia."

Usulan untuk menetapkan Hari Danau Sedunia didukung oleh Presiden Majelis Umum PBB Dennis Francis, yang sebelumnya mengadakan pertemuan dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono.

Pemerintah Indonesia, sebagai tuan rumah WWF ke-10, segera memulai persiapan berbagai data dan argumen untuk mendukung inisiatif ini melalui peran Kementerian Luar Negeri dan duta besar di luar negeri.

Dokumen hasil deklarasi Hari Danau Sedunia di WWF ke-10 di Bali akan segera diserahkan kepada Majelis Umum PBB untuk proses penetapan agar diperingati oleh komunitas dunia. Proses ini juga akan membahas tanggal peringatannya.

Peringatan Hari Danau Sedunia diharapkan menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kemitraan strategis internasional dalam memastikan pelestarian danau.

Kekeringan akibat krisis air telah menjadi perhatian global sejak 1979, dan semakin memburuk pada periode 2018-2022. Oleh karena itu, salah satu tugas WWF adalah mengurangi krisis air melalui pengelolaan air bersama yang adil dan berkelanjutan.

(as)

Source: 1
close