Iklan

Jumat, 28 Juni 2024, 11:07 WIB
Last Updated 2024-06-28T04:20:45Z
blitarNewsRegional

Krisis Gagal Ginjal di Kabupaten Blitar: 82 Kasus dalam Enam Bulan, Sebagian Besar Usia Produktif

Baca Juga
Berita Viral Lainnya
Krisis Gagal Ginjal di Kabupaten Blitar: 82 Kasus dalam Enam Bulan, Sebagian Besar Usia Produktif


Langgampos.com - Sebanyak 82 warga Kabupaten Blitar dilaporkan menderita gagal ginjal dalam periode Januari hingga Juni 2024. Fakta mengejutkan datang dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, yang menunjukkan bahwa mayoritas penderita adalah mereka yang berada di usia produktif.

Anggit Ditya Putranto, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Blitar, menyebutkan bahwa dari 82 penderita gagal ginjal tersebut, sebanyak 54 orang berada di rentang usia 15 hingga 59 tahun. "Memang mayoritas yang kena gagal ginjal dan harus cuci darah adalah usia produktif. Jadi memang jadi fenomena tersendiri," ujarnya pada Jumat (28/6/2024).

Rincian data Dinkes Kabupaten Blitar menunjukkan jumlah penderita gagal ginjal berdasarkan kelompok usia sebagai berikut: 1 penderita berusia 15-19 tahun, 14 penderita usia 20-24 tahun, 17 penderita usia 45-54 tahun, dan 22 penderita usia 55-59 tahun. Selain itu, terdapat 21 penderita di kelompok usia 60-69 tahun, dan 7 penderita berusia 70 tahun ke atas.

Anggit mencatat bahwa jumlah penderita gagal ginjal mengalami tren peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2022, jumlah penderita mencapai 73 orang, sementara pada tahun 2023, angka ini melonjak tajam menjadi 189 orang. "Kalau dilihat memang setiap tahun jumlah warga berusia produktif yang terkena gagal ginjal memang cukup banyak," jelasnya.

Ada beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus gagal ginjal, termasuk penyakit kronik seperti diabetes dan hipertensi. Selain itu, gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat juga berperan signifikan. "Ada banyak faktor yang mempengaruhi (gagal ginjal). Seperti diabetes, hipertensi, gaya hidup, maupun pola makan yang kurang sehat (junk food) juga bisa," kata Anggit.

Untuk menekan jumlah kasus gagal ginjal, terutama di kalangan usia produktif, Dinkes Kabupaten Blitar berencana untuk memperbanyak sosialisasi tentang bahaya gagal ginjal kepada masyarakat. "Yang jelas kami tetap melaksanakan sosialisasi untuk pencegahan. Kami juga mengimbau agar masyarakat lebih memperhatikan gaya hidup dan pola makan, diimbangi juga dengan olahraga rutin. Tujuannya agar tidak terkena penyakit, termasuk gagal ginjal," tandasnya.

Upaya Dinkes ini sangat penting mengingat dampak gagal ginjal yang sangat serius terhadap kualitas hidup penderita. Penyakit ini memerlukan perawatan yang intensif dan berkelanjutan, termasuk cuci darah secara rutin yang bisa sangat membebani fisik dan finansial. Oleh karena itu, pencegahan melalui edukasi masyarakat dan promosi gaya hidup sehat menjadi prioritas utama dalam menanggulangi masalah ini.

Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan ginjal dan upaya kolaboratif dari berbagai pihak, diharapkan kasus gagal ginjal di Kabupaten Blitar dapat ditekan dan masyarakat dapat hidup lebih sehat dan produktif.



(as)






Source: 1
close