Iklan

Rabu, 05 Juni 2024, 19.37 WIB
Last Updated 2024-06-05T12:37:37Z
argumentum ad baculumSastra

Peringatan terhadap Penggunaan Paksaan atau Argumentum ad Baculum

Baca Juga
Advertisement
Peringatan terhadap Penggunaan Paksaan atau Argumentum ad Baculum


Langgampos.com - Dalam perdebatan dan diskusi, terkadang kita menemui penggunaan taktik paksaan atau ancaman, yang dalam istilah Latin dikenal sebagai argumentum ad baculum, atau "argumen dengan tongkat." Kekeliruan ini muncul ketika seseorang menggunakan ancaman kekerasan fisik atau psikologis, baik secara implisit maupun eksplisit, untuk memaksa orang lain menerima suatu kesimpulan. Pendekatan ini juga dapat terjadi jika seseorang mengklaim bahwa menolak suatu kesimpulan akan membawa bencana atau kerugian besar.

Bentuk Argumentum ad Baculum

Secara umum, argumentum ad baculum dapat digambarkan dalam bentuk berikut:

1. Terdapat ancaman kekerasan, baik secara langsung maupun tersirat.

2. Karena ancaman tersebut, kesimpulan yang disajikan harus diterima.

Namun, penting untuk dicatat bahwa ancaman semacam itu jarang sekali relevan secara logis dengan nilai kebenaran dari kesimpulan yang disampaikan. Kita harus membedakan antara alasan rasional dan alasan kehati-hatian. Tidak ada kekeliruan, termasuk *appeal to force*, yang dapat memberikan alasan rasional untuk mempercayai suatu kesimpulan. Meski demikian, ancaman tersebut mungkin memberi alasan bijaksana untuk bertindak seolah-olah mempercayainya, terutama jika ancamannya dapat dipercaya dan cukup serius.

Contoh dan Pembahasan Argumentum ad Baculum

Kekeliruan ini sering ditemukan dalam berbagai situasi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam konteks yang lebih serius. Contohnya, pada anak-anak, ketika seseorang berkata, "Jika kamu tidak setuju bahwa acara ini adalah yang terbaik, saya akan memukulmu!" Kekeliruan ini juga muncul pada orang dewasa dalam berbagai bentuk.

Contoh 1: Kepercayaan terhadap Tuhan

Anda harus percaya Tuhan itu ada karena, jika tidak, ketika Anda mati Anda akan dihakimi dan Tuhan akan mengirim Anda ke Neraka untuk selama-lamanya. Anda tidak ingin disiksa di Neraka, bukan? Maka, lebih aman percaya kepada Tuhan daripada tidak percaya.


Ini adalah versi sederhana dari Taruhan Pascal, yang sering digunakan oleh sebagian orang Kristen. Ancaman neraka tidak membuat eksistensi Tuhan menjadi lebih mungkin atau rasional. Mengacu pada ketakutan akan rasa sakit dan keinginan untuk menghindari penderitaan adalah bentuk kekeliruan relevansi.

Contoh 2: Dukungan Anggaran Militer

Kita memerlukan militer yang kuat untuk menghalangi musuh-musuh kita. Jika Anda tidak mendukung anggaran baru untuk mengembangkan pesawat terbang yang lebih baik, musuh kita akan menganggap kita lemah dan, pada akhirnya, akan menyerang kita dan membunuh jutaan orang. Apakah Anda ingin bertanggung jawab atas kematian jutaan orang, Senator?

Dalam contoh ini, ancaman fisik langsung tidak diberikan. Namun, ada tekanan psikologis bahwa jika Senator tidak menyetujui anggaran tersebut, ia akan bertanggung jawab atas kematian jutaan orang di masa depan. Tanpa bukti yang menunjukkan bahwa ancaman tersebut dapat dipercaya, tidak ada hubungan yang jelas antara premis dan kesimpulan yang diajukan.

Contoh 3: Ancaman Terhadap Kesejahteraan

Kekeliruan appeal to force juga dapat terjadi tanpa ancaman kekerasan fisik, tetapi berupa ancaman terhadap kesejahteraan seseorang. Misalnya, seorang sekretaris kepada atasannya: 

Saya berhak mendapat kenaikan gaji tahun depan. Lagi pula, Anda tahu betapa bersahabatnya saya dengan istri Anda, dan saya yakin Anda tidak ingin dia mengetahui apa yang terjadi antara Anda dan klien Anda itu.
Di sini, ancaman bukan berupa kekerasan fisik, melainkan ancaman terhadap stabilitas pernikahan dan hubungan pribadi atasan. Ancaman semacam ini masih termasuk dalam kategori *argumentum ad baculum* karena menggunakan tekanan untuk memaksa penerimaan kesimpulan.

Kesimpulan

Argumentum ad baculum adalah bentuk kekeliruan logis yang sering digunakan untuk memaksa orang menerima kesimpulan melalui ancaman. Kekeliruan ini mengaburkan garis antara alasan rasional dan alasan kehati-hatian, yang pada akhirnya merusak integritas diskusi dan perdebatan yang sehat. Penting bagi kita untuk mengenali dan menghindari penggunaan taktik semacam ini, serta berusaha untuk selalu mengedepankan argumen yang logis dan berbasis bukti.

(as)
close