Iklan

Minggu, 30 Juni 2024, 19:35 WIB
Last Updated 2024-06-30T12:35:21Z
bondowosoBudayatopeng kona

Pesona Tersembunyi di Balik Tari Topeng Kona Bondowoso

Baca Juga
Berita Viral Lainnya
Pesona Tersembunyi di Balik Tari Topeng Kona Bondowoso


Langgampos.com - Tari Topeng Kona merupakan salah satu warisan budaya yang khas dari Bondowoso, Jawa Timur. Tarian ini bukan hanya sebuah pertunjukan seni semata, namun juga sarat dengan nilai-nilai kesakralan dan tradisi yang mendalam. Salah satu elemen penting dalam Tari Topeng Kona adalah topeng yang digunakan oleh penari. Topeng tersebut bukanlah topeng biasa, melainkan memiliki proses pembuatan yang unik dan penuh dengan nilai spiritual.

Keunikan Topeng dalam Tari Topeng Kona

Dalam setiap penampilan Tari Topeng Kona, topeng merupakan syarat utama yang harus dipenuhi oleh penari. Topeng ini selalu terbuat dari kayu, namun bukan sembarang kayu. Kayu yang digunakan adalah kayu kabistoh, sejenis kayu pule atau pulai yang dikenal memiliki tekstur lunak namun kuat, sehingga mudah dibentuk dan tidak mudah pecah.

Namun, keistimewaan topeng ini tidak hanya terletak pada jenis kayunya saja. Proses pembuatan topeng juga harus melalui serangkaian ritual spiritual yang mendalam. Hanya sedikit orang yang dapat membuat topeng ini, dan salah satunya adalah Sahwito, seorang pembuat topeng dari Desa Blimbing, Klabang, Bondowoso.

Sahwito, Sang Pembuat Topeng

Sahwito, seorang pria berusia 62 tahun, adalah satu-satunya pembuat topeng untuk Tari Topeng Kona yang masih aktif hingga kini. Ia telah menekuni profesi ini selama puluhan tahun dan dikenal sebagai penjaga tradisi pembuatan topeng yang sakral. Menurut Sahwito, inspirasinya untuk membuat topeng datang dari sebuah mimpi di mana ia didatangi oleh sesosok gaib yang memberinya petunjuk tentang cara membuat topeng untuk tari tersebut.

Setelah mendapat petunjuk tersebut, Sahwito pun berziarah ke makam tokoh legendaris di daerahnya, yakni Mbah Singo Ulung atau yang dikenal juga sebagai Juk Sheng. Ziarah ini dilakukan sebagai bentuk permohonan restu agar proses pembuatan topeng berjalan lancar dan mendapat kekuatan spiritual.

Proses Pembuatan Topeng yang Sakral

Membuat satu topeng untuk Tari Topeng Kona membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Proses ini diawali dengan serangkaian laku spiritual, termasuk ziarah ke makam Juk Sheng dan beberapa ritual lainnya. Setelah itu, proses pemilihan kayu kabistoh yang langka pun dimulai.

Sahwito menjelaskan bahwa topeng-topeng yang ia buat tidak diperjualbelikan secara umum. Topeng tersebut khusus dibuat untuk keperluan Tari Topeng Kona yang digelar sebagai bagian dari ritual atau acara adat. Pembuatan topeng ini merupakan tradisi turun-temurun yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu yang telah menjalani tahapan laku spiritual yang ketat.

Desa Blimbing, Klabang: Pusat Budaya Tradisional

Desa Blimbing, Klabang, tempat tinggal Sahwito, merupakan salah satu kawasan dalam UNESCO Global Geopark (UGGp) Ijen Geopark yang dikenal sebagai culturesite. Desa ini kaya akan budaya tradisional yang tetap dipertahankan hingga kini. Masyarakat di desa ini sangat menghargai dan menjaga tradisi, termasuk tradisi pembuatan topeng untuk Tari Topeng Kona.

Kehidupan di Desa Blimbing sangat erat dengan nilai-nilai budaya dan spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi pembuatan topeng yang dilakukan oleh Sahwito adalah salah satu contohnya. Meski tantangan zaman modern kian besar, masyarakat desa tetap menjaga dan melestarikan warisan budaya mereka.

Pelestarian Budaya dan Tantangan Modern

Pelestarian Tari Topeng Kona dan pembuatan topengnya bukanlah hal yang mudah di tengah arus modernisasi. Generasi muda sering kali lebih tertarik pada budaya populer yang datang dari luar. Namun, upaya-upaya seperti yang dilakukan oleh Sahwito menjadi contoh penting bagaimana warisan budaya dapat dipertahankan dan dilestarikan.

Tantangan yang dihadapi tidak hanya datang dari dalam, tetapi juga dari luar. Mencari kayu kabistoh yang semakin langka adalah salah satu contohnya. Namun, dengan dedikasi dan komitmen yang kuat, Sahwito terus berusaha menjaga tradisi ini tetap hidup.

Kesimpulan

Tari Topeng Kona bukan hanya sekadar tarian tradisional, melainkan sebuah simbol kekayaan budaya dan spiritual yang dimiliki oleh masyarakat Bondowoso. Di balik setiap gerakan tari dan topeng yang dikenakan oleh penari, terdapat proses panjang yang sarat dengan nilai-nilai kesakralan. Sahwito, sebagai satu-satunya pembuat topeng untuk Tari Topeng Kona, adalah penjaga tradisi ini. Melalui dedikasi dan laku spiritualnya, ia terus melestarikan warisan budaya yang berharga ini.

Desa Blimbing, Klabang, dengan segala kekayaan budayanya, menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang tradisi ini. Di tengah gempuran modernisasi, upaya pelestarian budaya seperti yang dilakukan oleh Sahwito patut diapresiasi dan didukung agar warisan leluhur ini dapat terus hidup dan dinikmati oleh generasi mendatang.


(mn)
close