Iklan

Rabu, 10 Juli 2024, 21:11 WIB
Last Updated 2024-07-10T14:11:46Z
acehBudayabudaya nusantarajenis tari acehtari acehwarisan budaya

12 Warisan Budaya Tari Tradisional Aceh yang Wajib Disimak Generasi Muda

Baca Juga
Berita Viral Lainnya
12 Warisan Budaya Tari Tradisional Aceh yang Wajib Disimak Generasi Muda



Langgampos.com - Provinsi Aceh, terkenal dengan julukan Serambi Mekah, memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam dan menakjubkan. Salah satu bentuk kekayaan tersebut adalah tari tradisionalnya. Tari Aceh tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga mencerminkan identitas budaya, sejarah, dan nilai-nilai keagamaan yang kental. Berikut adalah 12 tarian tradisional Aceh yang wajib disimak oleh generasi muda sebagai bentuk pelestarian budaya yang kaya akan makna.

1. Tari Saman

Tari Saman adalah salah satu tarian paling terkenal dari Aceh dan diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada 24 November 2011. Tarian ini diciptakan oleh Syekh Syaman, seorang ulama besar dari suku Gayo di Aceh Tengah. Gerakan tepukan tangan ke paha dan tangan lainnya sambil menyanyikan syair tertentu menjadi ciri khas tarian ini. Para penari Saman mengenakan pakaian berwarna-warni dan berbaris membentuk garis lurus, menggambarkan manusia sebagai makhluk sosial yang selalu membutuhkan satu sama lain. Tari Saman juga mengandung nilai-nilai ajaran Islam, terlihat dari pola duduk para penari yang menyerupai posisi duduk dalam salat.

2. Tari Malelang

Berasal dari Desa Padang, Kecamatan Susoh, Aceh Selatan, Tari Malelang adalah tari hiburan yang juga berfungsi sebagai media pengajaran dan nasihat. Tarian ini biasa dilakukan pada upacara adat seperti pernikahan dan sunatan. Dengan gerakan yang dinamis dan penuh makna, para penari wanita membentuk posisi melingkar dan bergerak maju, menciptakan tarian yang memikat dan sarat akan pesan moral.

3. Tari Seudati

Tari Seudati berasal dari pesisir Aceh dan dipentaskan oleh 10 laki-laki. Uniknya, tarian ini tidak menggunakan alat musik, melainkan lantunan syair yang dinyanyikan oleh aneuk syahi. Nama Seudati berasal dari kata "Syahadat," yang berarti pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Tarian ini mengenakan baju putih, celana panjang, dan aksesoris khas seperti kain songket, rencong, dan tangkulok, semuanya berwarna merah, mencerminkan kekompakan dan keharmonisan dalam masyarakat Aceh.

4. Tari Ranub Lampuan

Diciptakan oleh Yuslizar pada tahun 1962, Tari Ranub Lampuan berasal dari Banda Aceh. "Ranub Lampuan" berarti sirih di dalam cerana, yang digunakan dalam adat Aceh untuk menghormati tamu. Tarian ini dipertunjukkan oleh tujuh penari wanita dengan pengiring musik tradisional seperti serune kalee dan geundrang. Gerakan lemah gemulai para penari mencerminkan penghormatan dan keramahan masyarakat Aceh terhadap tamu.

5. Tari Kepur Nunguk

Tari Kepur Nunguk terinspirasi dari burung khas Aceh dan menggambarkan gerakan burung yang terbang. Kostum khusus yang dikenakan penari menyerupai sayap burung, dengan gerakan dinamis yang menggambarkan kepemilikan dan keterhubungan manusia dengan alam. Tarian ini menjadi bukti keindahan gerakan tari yang harmonis dan mengandung makna mendalam tentang keseimbangan alam.

6. Tari Tarek Pukat

Tari Tarek Pukat berasal dari daerah pesisir Aceh dan menggambarkan aktivitas menarik pukat atau jala oleh nelayan. Penari mengenakan busana tradisional dengan aksesoris khas dan menari dengan gerakan yang menggambarkan proses menangkap ikan. Tarian ini sederhana namun penuh makna, mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat nelayan Aceh.

7. Tari Laweut

Nama Tari Laweut diambil dari kata "selawat," yang berarti sanjungan kepada Nabi Muhammad SAW. Tarian ini berfungsi sebagai media dakwah dengan menggunakan syair-syair yang penuh makna. Tidak diiringi musik instrumen, tari ini menggunakan suara tubuh penari seperti tepukan dada, tangan, dan hentakan kaki. Setiap gerakan dan syair mengandung pesan keimanan dan nilai-nilai sosial, memperkaya pengalaman budaya bagi penontonnya.

8. Tari Ratoh Duek

Tari Ratoh Duek menggambarkan semangat dan kebersamaan masyarakat Aceh. Nama "ratoh" berasal dari kata "rateb," yang berarti berzikir atau berdoa. Tarian ini mengandalkan busana khas Aceh yang dimodifikasi dengan kain songket dan hiasan kepala. Harmoni antara syair dan tepukan ritmis mencerminkan kekompakan dan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat Aceh.

9. Tari Likok Pulo

Tari Likok Pulo berasal dari daerah Ulee Paya, Mukim Pulau Beras Selatan, Aceh Besar, dan diciptakan oleh Syeh Ahmad Badron pada tahun 1849. Tarian ini sering dipentaskan pada perayaan setelah panen padi atau menjelang waktu panen sebagai bentuk syukur. Penari-penarinya duduk bersimpuh dan membentuk barisan, menggunakan gerakan tubuh bagian atas, tangan, dan kepala, menunjukkan keterampilan seni yang diwariskan secara turun-temurun.

10. Tari Labehaten

Tari Labehaten berasal dari Singkil, Aceh, dan menggambarkan gerakan lincah harimau dalam alam liar. Ditampilkan oleh dua penari laki-laki, tarian ini menghibur dengan gerakan dramatis yang meniru pergerakan harimau. Musik pengiringnya menggunakan alat musik tradisional seperti gendang, menambah kekayaan budaya dalam setiap gerakannya.

11. Tari Tuak Kukur

Tari Tuak Kukur berasal dari suku Gayo di Aceh Tengah. Selain Tari Saman, Tari Tuak Kukur menggambarkan kehidupan sehari-hari dan ritual penting dalam kehidupan agraris. Penari menggambarkan upaya melindungi tanaman dari burung balam, dengan gerakan dinamis dan penuh makna. Musik pengiring tradisional menguatkan nuansa budaya dalam setiap gerakannya.

12. Tari Siwah

Tari Siwah menggunakan senjata tajam dalam pertunjukannya, memberikan keunikan tersendiri. Penari beraksi di dalam dan di luar lingkaran, dengan dayang-dayang yang membawa sajian ketan kuning. Penari pria yang berperan sebagai dayang menambah dramatis pertunjukan ini. Setelah tarian selesai, ketan kuning dibagikan kepada penonton, mencerminkan rasa kebersamaan dan penerimaan budaya yang kaya akan nilai-nilai tradisional.

Menghidupkan Kembali Warisan Budaya

Generasi muda memiliki peran penting dalam melestarikan tari tradisional Aceh sebagai warisan budaya yang kaya akan makna. Setiap tarian tidak hanya menjadi bagian dari hiburan atau seni pertunjukan, tetapi juga menyimpan nilai-nilai sejarah, kehidupan sosial, dan spiritualitas masyarakat Aceh. Dengan memahami dan menghargai tarian tradisional ini, kita dapat menjaga kekayaan budaya Aceh agar tetap hidup dan relevan di masa mendatang.

Sebagai penutup, mari kita ingat kata-kata dari Syeh Ahmad Badron, "Budaya adalah cerminan jiwa masyarakat. Tanpa budaya, kita kehilangan identitas." Oleh karena itu, mari kita jaga dan lestarikan tari tradisional Aceh, agar terus menjadi kebanggaan dan warisan tak ternilai bagi generasi mendatang.


(*)
close