Iklan

Selasa, 09 Juli 2024, 16:00 WIB
Last Updated 2024-07-10T02:52:51Z
1 suroBudayalarung sesajimasyarakat pesisirtradisi

Larung Sesaji 1 Suro: Tradisi Syukur Masyarakat Pesisir Blitar

Baca Juga
Berita Viral Lainnya
Larung Sesaji 1 Suro: Tradisi Syukur Masyarakat Pesisir Blitar

Langgampos.com - Tradisi larung sesaji merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat pesisir di Kabupaten Blitar. Setiap peringatan 1 Suro atau 1 Muharram, masyarakat berkumpul untuk melarung sesaji sebagai simbol rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Pada acara ini, sesaji lanang dan wadon dilarung ke tengah laut sebagai bentuk harmonisasi alam.

Acara larung sesaji dimulai dengan persiapan ubo rampe, termasuk tumpeng lanang dan wadon. Setelah semua persiapan selesai, doa bersama dilakukan oleh tokoh agama, pejabat daerah, dan warga sekitar. Kedua tumpeng tersebut kemudian dibawa ke tengah laut dan dilarung sebagai bagian dari ritual tradisional ini.

Bupati Blitar, Rini Syarifah, yang akrab disapa Mak Rini, menjelaskan bahwa tradisi larung sesaji merupakan agenda tahunan Pemkab Blitar, khususnya di bidang kebudayaan dan pariwisata. "Larung sesaji ini adalah tradisi bagi masyarakat, sebagai bentuk rasa syukur dan keberkahan. Tahun ini digelar luar biasa meriah di Pantai Serang," ujar Mak Rini kepada awak media, Selasa (9/7/2024).

Mak Rini menambahkan bahwa larung sesaji juga masuk dalam kalender event Jawa Timur, menjadikannya daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Blitar. "Harapan kami akan ada lebih banyak lagi wisatawan yang mengetahui larung sesaji, yang menjadi daya tarik dalam bidang tradisi budaya. Kemudian dapat pula meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar," jelasnya.

Dalam rangka menyambut hari jadi Kabupaten Blitar yang ke-700 tahun, Pemkab Blitar juga menyiapkan 7 tumpeng yang berisi hasil bumi dan produk UMKM. "Kami juga menyiapkan 7 tumpeng, sebagai simbol menuju 7 abad Kabupaten Blitar. Untuk itu kami bersama dengan ODP mempersembahkan sumbangsih berupa hasil bumi dan UMKM. Diwujudkan dalam 7 tumpeng di larung sesaji hari ini," terang Mak Rini.

Kepala Desa Serang, Handoko, menambahkan bahwa larung sesaji adalah simbol syukur kepada Tuhan YME. Setiap 1 Suro, masyarakat Desa Serang melarung hasil panen mereka ke laut sebagai bentuk rasa syukur atas berkah panen yang melimpah. "Secara simbolis tradisi larung sesaji ini sudah ada sejak dulu, para leluhur setiap Suro mewujudkan rasa syukur dengan larung ke laut Pantai Serang. Diwujudkan dalam tumpeng lanang dan tumpeng wadon, yang merupakan hasil panen Desa Serang," pungkas Handoko.

Tradisi larung sesaji ini tidak hanya menjadi simbol rasa syukur, tetapi juga bagian dari upaya melestarikan budaya dan meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pariwisata. Dengan semakin banyaknya wisatawan yang datang untuk menyaksikan dan mengikuti acara ini, diharapkan tradisi ini akan terus lestari dan memberikan manfaat bagi masyarakat Blitar.

(*)
close