Iklan

Kamis, 04 Juli 2024, 09:36 WIB
Last Updated 2024-07-04T02:36:55Z
Budaya

Merayakan 1 Suro: Tradisi Sakral yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi Surabaya

Baca Juga
Berita Viral Lainnya
Merayakan 1 Suro: Tradisi Sakral yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi Surabaya

Langgampos.com - Surabaya, kota yang telah berkembang menjadi metropolitan selama lebih dari satu abad, tak terhindarkan dari arus modernisasi. Namun, di balik gemerlap kota yang terus berkembang, tradisi dan budaya leluhur tetap terjaga dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakatnya. Salah satu tradisi yang masih hidup dan terus diperingati adalah 1 Suro, yang menandai tahun baru dalam penanggalan Jawa.

Nur Setiawan, pemerhati sejarah dari Surabaya Historical Community, mengungkapkan bahwa peringatan 1 Suro memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat Surabaya, terutama mereka yang tinggal di perkampungan. "Masyarakat Surabaya mengaplikasikan peringatan 1 Suro atau lebih dikenal dengan sebutan Suroan sesuai dengan tata cara di kampungnya yang telah dilakukan secara turun-temurun, mungkin sejak kakek nenek mereka," ujar pria yang akrab disapa Wawan, pada Rabu (3/7/2024).

Di berbagai kampung di Surabaya, peringatan 1 Suro dilakukan dengan cara-cara yang berbeda. Namun, satu hal yang pasti, gotong royong selalu menjadi dasar dari kegiatan ini. Kegiatan Suroan yang dilaksanakan bersama-sama ini tidak hanya bertujuan agar acara berjalan lancar, tetapi juga untuk menumbuhkan rasa solidaritas antar warga kampung.

Peringatan 1 Suro dianggap sebagai momen sakral yang dilakukan dengan menggelar hajatan bernuansa spiritual dan religius. Ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan serta penghormatan kepada leluhur dan alam. "Karena 1 Suro dianggap hari suci, kebiasaan masyarakat Surabaya dalam memperingatinya adalah dengan menggelar doa bersama. Doa ini sebagai wujud syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan kepada para leluhur dan alam," tambah Wawan.

Doa bersama biasanya dilakukan di balai RT, perempatan jalan, atau di pepunden (pemakaman) kampung dengan istilah barikan, yang disertai dengan sajian tumpeng. Selain itu, masyarakat juga menggelar kerja bakti untuk membersihkan makam dan rumah ibadah. Di beberapa tempat, kirab keliling kampung juga menjadi bagian dari perayaan ini.

"Kaum pria akan melakukan kerja bakti merawat punden atau makam sesepuh pendiri kampung yang ada di lingkungannya, termasuk membersihkan tempat ibadah," terang Wawan. "Para pemuda yang aktif di kegiatan langgar (musala) juga melaksanakan kirab keliling kampung. Mereka berjalan beriringan melantunkan doa demi keselamatan tempat tinggal mereka," imbuhnya.

Salah satu sajian khas yang selalu ada dalam peringatan Suroan adalah bubur Suro. Bagi keluarga yang memiliki rezeki lebih, mereka akan membuat bubur ini dan membagikannya kepada tetangga dan sanak saudara. Bubur Suro ini tidak hanya menjadi simbol kebersamaan tetapi juga bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas berkah yang diberikan.

Untuk masyarakat perkotaan seperti Surabaya, peringatan 1 Suro merupakan warna budaya yang mampu merekatkan hubungan personal antarwarga. Tradisi ini wajib dijaga keberadaannya karena mengandung nilai keberagaman serta gotong royong. "Untuk warga perkotaan seperti Surabaya, peringatan 1 Suro merupakan warna budaya yang dapat merekatkan hubungan personal. Tradisi ini wajib dijaga keberadaannya karena mengandung nilai keberagaman serta gotong royong," pungkas Wawan.

Selain kegiatan yang dilakukan di perkampungan, beberapa komunitas budaya di Surabaya juga aktif dalam melestarikan tradisi ini. Mereka sering mengadakan seminar dan diskusi tentang pentingnya menjaga warisan budaya Jawa, termasuk peringatan 1 Suro. Melalui kegiatan ini, diharapkan generasi muda dapat mengenal dan menghargai warisan budaya leluhur mereka.

Tidak hanya itu, pemerintah kota Surabaya juga turut mendukung pelestarian tradisi ini dengan berbagai program. Salah satunya adalah melalui festival budaya yang digelar setiap tahun pada malam 1 Suro. Festival ini menampilkan berbagai kesenian tradisional Jawa, seperti tari-tarian, musik gamelan, dan wayang kulit. Kegiatan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin melihat langsung kekayaan budaya Surabaya.

Dalam festival ini, masyarakat juga diajak untuk berpartisipasi dalam berbagai lomba yang bertema tradisi Jawa. Misalnya, lomba membuat tumpeng, lomba cerita rakyat, dan lomba busana adat Jawa. Semua kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan budaya tetapi juga untuk mengajarkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi Jawa kepada generasi muda.

Surabaya, dengan segala dinamika modernitasnya, tetap berpegang pada akar budayanya. Peringatan 1 Suro menjadi salah satu bukti bahwa di tengah arus modernisasi, tradisi dan budaya lokal masih dapat terus hidup dan berkembang. Ini adalah warisan yang harus dijaga dan dilestarikan, bukan hanya untuk menghormati leluhur, tetapi juga untuk menjaga identitas dan jati diri masyarakat Surabaya.

Melalui peringatan 1 Suro, masyarakat Surabaya tidak hanya merayakan tahun baru Jawa tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan rasa kebersamaan di antara mereka. Tradisi ini mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Semoga tradisi ini terus lestari dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Surabaya di masa yang akan datang.

(kj)
close