- Hacker sering memanfaatkan celah dari pengaturan standar (default) WhatsApp yang jarang diperhatikan pengguna.
- Fitur seperti status online dan foto profil yang terbuka untuk umum menjadi pintu masuk skema penipuan dan peretasan.
- Langkah preventif sederhana melalui menu privasi dapat melindungi akun dari pengambilalihan paksa dan pencurian data.
LANGGAMPOS.COM - Belakangan ini, kasus pengambilalihan akun WhatsApp hingga modus permintaan uang melalui kode OTP semakin marak terjadi di tengah masyarakat.
Banyak korban baru menyadari akunnya raib setelah menerima pesan asing, tanpa mengetahui bahwa celah keamanan tersebut bermula dari pengaturan yang mereka abaikan.
Padahal, melindungi akun dari incaran peretas tidak selalu membutuhkan keahlian teknis yang rumit atau aplikasi tambahan yang berat.
Hanya dengan mengubah beberapa setelan bawaan di aplikasi, Anda sudah bisa mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan siber yang mencoba masuk.
Langkah pertama yang krusial adalah mematikan fitur Last Seen (Terakhir Dilihat) dan status Online pada menu privasi.
Mungkin terdengar sepele, namun peretas sering mengamati pola aktivitas digital Anda untuk menentukan waktu yang paling tepat untuk melancarkan serangan.
Saat pelaku mengetahui kapan Anda aktif atau beristirahat, mereka bisa melakukan social engineering dengan lebih efektif di saat Anda sedang tidak waspada.
Ubah pengaturan tersebut menjadi "Nobody" agar kebiasaan harian Anda tidak mudah dilacak oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Selain itu, fitur centang biru atau Read Receipts sebaiknya turut dinonaktifkan guna meminimalisir jejak digital yang tertinggal.
Di dunia peretasan, indikator centang biru merupakan sinyal bahwa target sedang aktif dan siap menerima kiriman pesan manipulatif seperti phishing.
Mematikan fitur ini membuat pelaku kesulitan memastikan apakah pesan jebakan mereka sudah dibaca atau justru sedang diabaikan.
Keamanan akun juga sangat bergantung pada siapa yang bisa memasukkan nomor Anda ke dalam grup percakapan tertentu.
Hacker kerap menggunakan grup random sebagai sarana menyebar tautan malware atau file APK berbahaya yang menyamar sebagai voucer hadiah.
Pastikan setelan grup Anda berada pada pilihan "My Contacts" atau "My Contacts Except" agar tidak sembarang orang bisa menyeret Anda ke lingkaran berbahaya.
Jangan lupa untuk membatasi akses foto profil Anda hanya kepada kontak yang tersimpan di dalam ponsel saja.
Foto profil yang dapat dilihat publik sering kali dicuri untuk aksi pencurian identitas (identity scrapping) guna menipu keluarga atau rekan terdekat Anda.
Terakhir, lakukan pengecekan rutin pada fitur Linked Devices untuk melihat apakah ada perangkat asing yang terhubung ke akun WhatsApp Web Anda.
Banyak kasus pembobolan terjadi bukan karena kebocoran kode OTP, melainkan karena sesi WhatsApp yang masih tertinggal di komputer publik atau laptop orang lain.
Jika menemukan perangkat yang tidak dikenal dalam daftar tersebut, segera putuskan koneksi secara permanen untuk menghentikan penyadapan pesan secara real-time.
Sebagai pelindung ekstra, aktifkanlah fitur verifikasi dua langkah (Two-Step Verification) dengan membuat PIN rahasia yang sulit ditebak.
Dengan begitu, meskipun peretas berhasil mendapatkan kode OTP, mereka tetap akan terbentur oleh kunci keamanan kedua yang hanya Anda yang mengetahuinya.
Padahal, melindungi akun dari incaran peretas tidak selalu membutuhkan keahlian teknis yang rumit atau aplikasi tambahan yang berat.
Hanya dengan mengubah beberapa setelan bawaan di aplikasi, Anda sudah bisa mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan siber yang mencoba masuk.
Langkah pertama yang krusial adalah mematikan fitur Last Seen (Terakhir Dilihat) dan status Online pada menu privasi.
Mungkin terdengar sepele, namun peretas sering mengamati pola aktivitas digital Anda untuk menentukan waktu yang paling tepat untuk melancarkan serangan.
Saat pelaku mengetahui kapan Anda aktif atau beristirahat, mereka bisa melakukan social engineering dengan lebih efektif di saat Anda sedang tidak waspada.
Ubah pengaturan tersebut menjadi "Nobody" agar kebiasaan harian Anda tidak mudah dilacak oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Selain itu, fitur centang biru atau Read Receipts sebaiknya turut dinonaktifkan guna meminimalisir jejak digital yang tertinggal.
Di dunia peretasan, indikator centang biru merupakan sinyal bahwa target sedang aktif dan siap menerima kiriman pesan manipulatif seperti phishing.
Mematikan fitur ini membuat pelaku kesulitan memastikan apakah pesan jebakan mereka sudah dibaca atau justru sedang diabaikan.
Keamanan akun juga sangat bergantung pada siapa yang bisa memasukkan nomor Anda ke dalam grup percakapan tertentu.
Hacker kerap menggunakan grup random sebagai sarana menyebar tautan malware atau file APK berbahaya yang menyamar sebagai voucer hadiah.
Pastikan setelan grup Anda berada pada pilihan "My Contacts" atau "My Contacts Except" agar tidak sembarang orang bisa menyeret Anda ke lingkaran berbahaya.
Jangan lupa untuk membatasi akses foto profil Anda hanya kepada kontak yang tersimpan di dalam ponsel saja.
Foto profil yang dapat dilihat publik sering kali dicuri untuk aksi pencurian identitas (identity scrapping) guna menipu keluarga atau rekan terdekat Anda.
Terakhir, lakukan pengecekan rutin pada fitur Linked Devices untuk melihat apakah ada perangkat asing yang terhubung ke akun WhatsApp Web Anda.
Banyak kasus pembobolan terjadi bukan karena kebocoran kode OTP, melainkan karena sesi WhatsApp yang masih tertinggal di komputer publik atau laptop orang lain.
Jika menemukan perangkat yang tidak dikenal dalam daftar tersebut, segera putuskan koneksi secara permanen untuk menghentikan penyadapan pesan secara real-time.
Sebagai pelindung ekstra, aktifkanlah fitur verifikasi dua langkah (Two-Step Verification) dengan membuat PIN rahasia yang sulit ditebak.
Dengan begitu, meskipun peretas berhasil mendapatkan kode OTP, mereka tetap akan terbentur oleh kunci keamanan kedua yang hanya Anda yang mengetahuinya.
(*)

