Iklan

Redaksi
Friday, June 12, 2026, 7:36 PM WIB
Last Updated 2026-06-12T12:36:58Z
Economy

Suku Bunga BI Rate Naik, Rupiah Sukses Jinakkan Dolar AS dan Jauhi Level Rp18.000

Suku Bunga BI Rate Naik, Rupiah Sukses Jinakkan Dolar AS dan Jauhi Level Rp18.000


  • Kebijakan Moneter Berhasil: Penguatan rupiah dipicu oleh respons positif pasar global terhadap kenaikan suku bunga acuan BI Rate menjadi 5,50 persen.
  • Modal Asing Banjiri Domestik: Aliran dana asing (inflows) melonjak signifikan lewat instrumen SRBI, SBN, serta obligasi internasional Danantara.
  • Kurangi Ketergantungan Dolar: Bank Indonesia memperkuat stabilitas regional lewat kerja sama keuangan dengan bank sentral China dan Hong Kong.

LANGGAMPOS.COM - Mata uang Garuda sukses menorehkan performa impresif pada perdagangan akhir pekan ini setelah melesat tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS).

Langkah taktis Bank Indonesia (BI) dalam mengerek suku bunga acuan terbukti ampuh memulihkan kepercayaan investor dan menstabilkan pasar keuangan domestik.

Kebijakan BI Rate Picu Lonjakan Nilai Tukar Rupiah

Berdasarkan data pasar dari Refinitiv, mata uang rupiah menyudahi perdagangan dengan apresiasi meyakinkan sebesar 0,61 persen ke level Rp17.865/US$.

Keberhasilan ini membuat mata uang Garuda semakin menjauh dari zona psikologis yang rawan, yakni Rp18.000/US$, dan kini mulai merayap naik menuju area Rp17.800/US$.

Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia.

Otoritas moneter tersebut menerapkan strategi komprehensif, mulai dari menaikkan BI-Rate menjadi 5,50% hingga memperkuat struktur imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Langkah ini juga dibarengi pemberian insentif hedging swap bagi penanam modal asing dan pembukaan akses repo demi menjaga likuiditas perbankan nasional.

BI pun bergerak lebih agresif dengan meningkatkan frekuensi serta intensitas operasi moneter, baik untuk instrumen rupiah maupun valuta asing (valas).

"Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan Pemerintah," kata Destry, dalam pernyataan resminya, Jumat (12/6/2026).

Investor Global Borong Aset Finansial Domestik

Keputusan menaikkan suku bunga acuan terbukti menjadi magnet kuat bagi masuknya dana-dana segar dari luar negeri ke pasar keuangan dalam negeri.

Daya tarik imbal hasil yang kompetitif membuat investor asing berlomba-lomba menempatkan modal mereka pada berbagai instrumen investasi jangka pendek dan menengah.

Tingginya minat investor global tecermin dari peningkatan inflows transaksi SRBI nonresiden dan SBN yang pada tanggal 10 dan 11 Juni 2026 masing-masing tercatat sebesar Rp15,11 triliun dan Rp3,91 triliun.

Derasnya arus modal ini menjadi bukti sahih bahwa fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih sangat prospektif di mata pelaku pasar internasional.

"Aliran masuk modal asing juga terjadi pada obligasi internasional Danantara yang penjualan perdananya berhasil mencapai Rp26,9 triliun. Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik," paparnya.

Aliansi Strategis dengan China dan Hong Kong Guna Kikis Dominasi Dolar

Bukan hanya mengandalkan instrumen domestik, Bank Indonesia juga memperluas jaringan pengaman keuangan di tingkat internasional lewat kolaborasi regional.

Ketahanan eksternal ekonomi nasional kini semakin kokoh berkat kemitraan erat antara BI, People's Bank of China (PBOC), dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA).

Kolaborasi strategis tiga otoritas moneter papan atas ini membuahkan tiga poin kesepakatan krusial untuk menjaga stabilitas makroekonomi jangka panjang.

Poin pertama menekankan bahwa sinergi memperkuat tidak hanya ketahanan keuangan masing-masing negara melainkan stabilitas keuangan yang regional yang lebih luas.

Kesepakatan kedua berfokus pada penguatan kerja sama bilateral currency swap agreement (BCSA) sebagai bantalan likuiditas saat terjadi guncangan pasar.

Sementara poin ketiga adalah komitmen penguatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui perluasan Local Currency Transaction (LCT).

"Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah," paparnya.

Melihat tren positif saat ini, BI berkomitmen untuk tetap mengawal pergerakan pasar secara konsisten lewat intervensi yang terukur dan terarah.

Kolaborasi lintas sektor bersama pemerintah dan pemangku kebijakan bakal terus ditingkatkan demi mengamankan perekonomian domestik dari ketidakpastian global.

"Dengan berbagai perkembangan diatas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap US dolar menuju ke level fundamentalnya," tegas Destry.


(*)


FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Berapa posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini?

Rupiah ditutup menguat 0,61 persen di level Rp17.865/US$ pada akhir pekan ini, menjauhi level psikologis Rp18.000/US$.

Apa saja faktor utama yang membuat rupiah menguat tajam?

Penguatan ini didorong oleh kenaikan suku bunga acuan BI Rate menjadi 5,50 persen, derasnya arus modal asing masuk (inflow), serta kerja sama keuangan internasional.

Bagaimana perkembangan aliran modal asing ke Indonesia pasca kenaikan BI Rate?

Arus modal asing melonjak signifikan, di mana instrumen SRBI mencatat masuknya dana Rp15,11 triliun, SBN sebesar Rp3,91 triliun, dan penjualan perdana obligasi internasional Danantara menembus Rp26,9 triliun.

Apa tujuan kerja sama Bank Indonesia dengan bank sentral China dan Hong Kong?

Kerja sama tersebut bertujuan memperkuat ketahanan keuangan regional, memperkokoh perjanjian swap mata uang bilateral (BCSA), dan memperluas penggunaan mata uang lokal (LCT) guna mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

#SukuBungaBI #RupiahHariIni #BankIndonesia #InvestasiAsing #EkonomiIndonesia #DolarAS
Advertisement
Pilihan Redaksi Lainnya