LANGGAMPOS.COM — Sebuah momen tidak biasa terjadi di Ruang Oval pekan ini. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memulai agenda kerjanya dengan melakukan rutinitas yang lazimnya terjadi di Manhattan: membunyikan bel pembukaan perdagangan bursa saham.
Aksi simbolis ini menegaskan karakteristik mutakhir dari periode kedua kepemimpinannya.
Trump kian gencar menjadikan grafik hijau Wall Street sebagai papan skor dan tolok ukur kesuksesan politiknya.
#FAQ
Sang Presiden mengklaim lonjakan harga saham adalah bukti sahih dari efektivitas kebijakannya.
Namun, di balik selebrasi angka-angka indeks tersebut, realitas di lapangan berbicara lain.
Namun, di balik selebrasi angka-angka indeks tersebut, realitas di lapangan berbicara lain.
Jutaan warga AS masih terseok-seok menghadapi tingginya biaya hidup, inflasi yang dipicu ketegangan geopolitik, serta kenyataan pahit bahwa mayoritas dari mereka sama sekali tidak memiliki aset di pasar modal.
Para ekonom menilai, kalkulasi politik dan ekonomi yang diterapkan Gedung Putih saat ini berisiko menyamakan kemakmuran semu di pasar keuangan dengan kondisi finansial riil rumah tangga secara makro.
Para ekonom menilai, kalkulasi politik dan ekonomi yang diterapkan Gedung Putih saat ini berisiko menyamakan kemakmuran semu di pasar keuangan dengan kondisi finansial riil rumah tangga secara makro.
Ambisi "Kue Ekonomi" Lewat Intervensi Pasar Modal
Pemerintahan Trump berdalih bahwa fokus pada pasar ekuitas ini merupakan bagian dari proyek warisan (legacy project) jangka panjang.Tujuannya adalah memperluas partisipasi masyarakat dalam pasar modal melalui sejumlah program investasi yang disubsidi negara.
Melalui undang-undang bernilai 4,1 triliun dolar AS yang dijuluki "One Big Beautiful Bill", pemerintah meluncurkan akun investasi bersubsidi bagi bayi baru lahir yang dinamakan "Trump Accounts".
Melalui undang-undang bernilai 4,1 triliun dolar AS yang dijuluki "One Big Beautiful Bill", pemerintah meluncurkan akun investasi bersubsidi bagi bayi baru lahir yang dinamakan "Trump Accounts".
Selain itu, skema "Trump IRA" juga diperkenalkan dengan iming-iming dana padanan (matching program) hingga 1.000 dolar AS untuk kontribusi 401(k) pekerja yang mendaftar.
Tidak berhenti di sana, agenda ekonomi ini juga ditandai dengan intervensi langsung pemerintah terhadap neraca keuangan korporasi raksasa AS.
Tidak berhenti di sana, agenda ekonomi ini juga ditandai dengan intervensi langsung pemerintah terhadap neraca keuangan korporasi raksasa AS.
Langkah agresif itu mencakup pengambilalihan kepemilikan saham di Intel, kepemilikan “golden share” di U.S. Steel, hingga perjanjian pembagian pendapatan (revenue-sharing) dengan raksasa teknologi Nvidia dan AMD.
Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menegaskan komitmen pemerintah terhadap pemerataan ini.
"Presiden Trump secara simultan fokus untuk memastikan setiap warga Amerika memiliki andil dalam kesuksesan era keemasan berikutnya dengan bagian kue ekonomi mereka masing-masing," ujar Desai.
Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menegaskan komitmen pemerintah terhadap pemerataan ini.
"Presiden Trump secara simultan fokus untuk memastikan setiap warga Amerika memiliki andil dalam kesuksesan era keemasan berikutnya dengan bagian kue ekonomi mereka masing-masing," ujar Desai.
Fenomena K-Shaped Economy: Yang Kaya Makin Berjaya
Meskipun administrasi Trump mengklaim kapitalisasi pasar saham AS telah melonjak sebesar 15 triliun dolar AS (sekitar 25%) sejak ia kembali menjabat, distribusi keuntungan tersebut jauh dari kata merata.Data jajak pendapat dari Gallup mengungkap realitas yang kontradiktif:
Ketimpangan struktural ini mempertegas apa yang disebut para pakar sebagai fenomena K-Shaped Economy (Ekonomi Berbentuk Huruf K).
- 40% Warga AS Absen: Hampir 40 persen rumah tangga di Amerika Serikat sama sekali tidak memiliki investasi di pasar modal.
- Dominasi 1 Persen: Kelompok 1% orang terkaya di AS menguasai lebih dari setengah total investasi pasar modal domestik.
Ketimpangan struktural ini mempertegas apa yang disebut para pakar sebagai fenomena K-Shaped Economy (Ekonomi Berbentuk Huruf K).
Pada lengan atas huruf K, kelompok kaya menikmati lonjakan kekayaan karena portofolio mereka didominasi oleh saham.
Sementara pada lengan bawah, kelompok menengah ke bawah—yang asetnya mentok pada properti atau barang habis pakai—terpaksa memangkas pengeluaran akibat daya beli yang tergerus inflasi.
Meskipun indikator makro seperti pertumbuhan ekonomi (PDB AS tumbuh 2,1% pada 2025) dan kenaikan upah per jam rata-rata (naik 3,5%) terlihat stabil, angka tersebut tetap tidak cukup kuat untuk mengejar laju inflasi riil yang dirasakan konsumen di sektor ritel.
Meskipun indikator makro seperti pertumbuhan ekonomi (PDB AS tumbuh 2,1% pada 2025) dan kenaikan upah per jam rata-rata (naik 3,5%) terlihat stabil, angka tersebut tetap tidak cukup kuat untuk mengejar laju inflasi riil yang dirasakan konsumen di sektor ritel.
Kritik Metrik Saham: Rentan Disetir Kepentingan Korporasi
Ketergantungan Trump pada performa Wall Street sebagai indikator kinerja juga menuai kritik tajam, terutama karena sang Presiden sendiri merupakan pelaku pasar yang aktif.Berdasarkan laporan keterbukaan informasi finansialnya, pada kuartal pertama tahun 2026, akun investasi Trump tercatat melakukan 3.600 transaksi perdagangan saham dengan nilai berkisar antara 212 juta hingga 695 million dolar AS.
"Anda tahu mengapa saya meraup untung? Karena pasar saham sedang naik, semua orang meraup untung," cetus Trump dalam sebuah pernyataan.
Namun, para kritikus menilai metrik ini sangat bias dan berpotensi mendistorsi pengambilan kebijakan publik.
"Anda tahu mengapa saya meraup untung? Karena pasar saham sedang naik, semua orang meraup untung," cetus Trump dalam sebuah pernyataan.
Namun, para kritikus menilai metrik ini sangat bias dan berpotensi mendistorsi pengambilan kebijakan publik.
Trump dituding kerap membatalkan atau merevisi keputusan strategis demi menenangkan pasar modal yang fluktuatif.
Salah satu contohnya adalah pelonggaran beberapa poin dalam perang dagang global setelah indeks saham gabungan anjlok sesaat setelah kebijakan tersebut diumumkan.
Alex Jacquez, Kepala Kebijakan dan Advokasi di lembaga pemikir Groundwork Collaborative, melihat adanya bahaya dari pola komunikasi politik seperti ini.
"Ini adalah cara agar masyarakat atau kelompok kepentingan bisa mendapatkan perhatiannya (Trump). Sisi berbahayanya adalah perhatian itu tampaknya baru muncul ketika kepentingan korporasi atau finansial sedang dipertaruhkan," kritik Jacquez.
Jacquez menambahkan bahwa mengukur kesehatan ekonomi hanya dari kinerja bursa saham sama saja mendiskriminasi kelompok minoritas, perempuan, serta generasi muda yang belum memiliki paparan ekuitas yang signifikan. Indikator ini juga gagal memotret kondisi riil sektor UMKM (Small Business) yang justru menjadi tulang punggung serapan tenaga kerja di AS.
Di sisi lain, loyalis dan investor kelas kakap justru merasa aman dengan gaya kepemimpinan Trump yang sensitif terhadap pergerakan pasar.
Alex Jacquez, Kepala Kebijakan dan Advokasi di lembaga pemikir Groundwork Collaborative, melihat adanya bahaya dari pola komunikasi politik seperti ini.
"Ini adalah cara agar masyarakat atau kelompok kepentingan bisa mendapatkan perhatiannya (Trump). Sisi berbahayanya adalah perhatian itu tampaknya baru muncul ketika kepentingan korporasi atau finansial sedang dipertaruhkan," kritik Jacquez.
Jacquez menambahkan bahwa mengukur kesehatan ekonomi hanya dari kinerja bursa saham sama saja mendiskriminasi kelompok minoritas, perempuan, serta generasi muda yang belum memiliki paparan ekuitas yang signifikan. Indikator ini juga gagal memotret kondisi riil sektor UMKM (Small Business) yang justru menjadi tulang punggung serapan tenaga kerja di AS.
Di sisi lain, loyalis dan investor kelas kakap justru merasa aman dengan gaya kepemimpinan Trump yang sensitif terhadap pergerakan pasar.
Respons cepat presiden dianggap bisa menjadi penahan benturan alami dari potensi guncangan finansial skala besar (black swan events). (*)
#FAQ
1. Mengapa Donald Trump mengukur kesuksesan ekonominya lewat pasar saham?
Presiden Trump menganggap rekor tertinggi di Wall Street sebagai bukti nyata bahwa kebijakan deregulasi, tarif, dan pemotongan pajaknya berhasil memacu pertumbuhan bisnis, yang ia klaim akan berdampak pada kesejahteraan rumah tangga AS.2. Apa yang dimaksud dengan fenomena K-Shaped Economy di AS?
K-Shaped Economy adalah kondisi di mana kelompok ekonomi atas (orang kaya) mengalami pemulihan dan lonjakan kekayaan yang pesat (lengan atas K), sementara kelompok ekonomi menengah ke bawah justru mengalami penurunan daya beli akibat inflasi dan tingginya biaya hidup (lengan bawah K).3. Apa itu program Trump Accounts dan Trump IRA?
Trump Accounts adalah akun investasi yang ditujukan bagi bayi baru lahir dengan modal awal dari pemerintah. Sementara Trump IRA adalah program akun pensiun mandiri di mana pemerintah memberikan dana padanan (matching) hingga 1.000 dolar AS bagi pekerja yang berkontribusi pada akun 401(k) mereka.4. Siapa yang paling diuntungkan dari kenaikan bursa saham komoditas AS saat ini?
Secara statistik, kelompok 1% orang terkaya di Amerika Serikat menjadi pihak yang paling diuntungkan karena mereka menguasai lebih dari 50% dari total instrumen investasi di pasar modal AS.Keyword:
Donald Trump, Wall Street, Pasar Saham AS, Ekonomi Amerika Serikat, K-Shaped Economy, Kebijakan Fiskal, Gedung Putih, Inflasi AS, 401k, Trump IRA, Investasi Saham, Kesenjangan Ekonomi
Sumber: reuters



