- Harga emas dunia tergelincir ke level terendah sejak awal April akibat kebuntuan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
- Lonjakan harga minyak mentah memperparah kekhawatiran inflasi yang membuat bank sentral sulit memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
- Investor kini fokus pada pertemuan terakhir Jerome Powell sebagai Ketua The Fed untuk mencari arah kebijakan moneter AS selanjutnya.
LANGGAMPOS.COM - Pasar komoditas global sedang berada dalam tekanan besar setelah harga emas dan perak kompak bergerak melandai pada penutupan perdagangan awal pekan ini.
Minimnya terobosan dalam upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) yang menyokong Israel melawan Iran menjadi pemicu utama.
Kondisi tersebut diperparah oleh sikap pelaku pasar yang cenderung wait and see menjelang rangkaian rapat krusial bank sentral di berbagai belahan dunia.
Mengutip data dari Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (27/4/2026) berakhir di level US$4.681,85 per troy ons, setelah terkoreksi tajam sebesar 0,57 persen.
Penurunan ini memaksa sang logam mulia kembali ke zona psikologis US$4.600, yang sekaligus mencatatkan posisi terendah sejak 6 April 2026 lalu.
Meski demikian, secercah harapan muncul pada pembukaan pagi ini, Selasa (28/4/2026). Hingga pukul 06.31 WIB, emas mulai merangkak naik 0,17 persen ke posisi US$4.689,79.
Di sisi lain, mandeknya jalur negosiasi justru membuat komoditas energi membara, yang secara tidak langsung memberikan efek domino negatif bagi emas.
Harga minyak mentah melonjak signifikan pada Senin kemarin lantaran AS dan Iran masih terjebak dalam kebuntuan politik yang sangat alot.
Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat melesat 2,09 persen ke level US$96,37 per barel, sementara jenis Brent terbang 2,75 persen ke posisi US$108,23 per barel.
"Apa yang kita lihat adalah pasar masih meragukan bahwa kesepakatan kuat untuk membuka kembali Selat Hormuz akan tercapai dalam waktu dekat. Itu menjadi masalah bagi emas dan perak," ujar Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities.
Berdasarkan informasi dari mediator di Pakistan, proses menjembatani perbedaan pandangan antara Washington dan Teheran sebenarnya masih terus diupayakan.
Namun, situasi memanas setelah Presiden Donald Trump secara mendadak membatalkan agenda perjalanan para utusannya ke wilayah tersebut.
Trump menegaskan bahwa pihak Iran-lah yang seharusnya berinisiatif menghubungi jika memang memiliki niat serius untuk mencapai kesepakatan damai.
Ketidakpastian ini memicu spekulasi bahwa inflasi global akan tetap membandel, mengingat biaya energi yang terus meroket akibat gangguan rantai pasok.
"With inflasi dua kali lipat dari target, akan sangat sulit bagi bank sentral AS memangkas suku bunga dalam beberapa bulan ke depan, dan itu negatif bagi emas," tambah Melek menjelaskan situasi makro saat ini.
Walaupun emas secara tradisional dianggap sebagai instrumen lindung nilai (hedging) terhadap inflasi, namun faktor suku bunga tetap menjadi musuh utamanya.
Suku bunga yang tetap tinggi dalam jangka panjang (higher for longer) secara otomatis menggerus daya tarik emas karena statusnya sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Fokus investor kini tertuju sepenuhnya pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada hari Selasa dan Rabu pekan ini.
Pertemuan ini menjadi momen emosional bagi pelaku pasar keuangan global, mengingat ini adalah rapat terakhir Jerome Powell menjabat sebagai Ketua The Fed.
Selain arah kebijakan AS, pasar juga mencermati hasil pertemuan bank sentral utama lainnya untuk memetakan dampak kerusakan ekonomi akibat konflik di Timur Tengah.
Sama halnya dengan emas, perak juga harus melewati fase volatilitas yang cukup tinggi dengan kecenderungan melemah pada sesi perdagangan kemarin.
Data Refinitiv menunjukkan perak ditutup melemah 0,24 persen di level US$75,50 per troy ons pada penutupan perdagangan Senin sore.
Beruntung, pada pagi ini Selasa (28/4/2026) pukul 06.33 WIB, harga perak berhasil rebound dengan penguatan 0,55 persen ke level US$75,91.
Namun, situasi memanas setelah Presiden Donald Trump secara mendadak membatalkan agenda perjalanan para utusannya ke wilayah tersebut.
Trump menegaskan bahwa pihak Iran-lah yang seharusnya berinisiatif menghubungi jika memang memiliki niat serius untuk mencapai kesepakatan damai.
Ketidakpastian ini memicu spekulasi bahwa inflasi global akan tetap membandel, mengingat biaya energi yang terus meroket akibat gangguan rantai pasok.
"With inflasi dua kali lipat dari target, akan sangat sulit bagi bank sentral AS memangkas suku bunga dalam beberapa bulan ke depan, dan itu negatif bagi emas," tambah Melek menjelaskan situasi makro saat ini.
Walaupun emas secara tradisional dianggap sebagai instrumen lindung nilai (hedging) terhadap inflasi, namun faktor suku bunga tetap menjadi musuh utamanya.
Suku bunga yang tetap tinggi dalam jangka panjang (higher for longer) secara otomatis menggerus daya tarik emas karena statusnya sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Fokus investor kini tertuju sepenuhnya pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada hari Selasa dan Rabu pekan ini.
Pertemuan ini menjadi momen emosional bagi pelaku pasar keuangan global, mengingat ini adalah rapat terakhir Jerome Powell menjabat sebagai Ketua The Fed.
Selain arah kebijakan AS, pasar juga mencermati hasil pertemuan bank sentral utama lainnya untuk memetakan dampak kerusakan ekonomi akibat konflik di Timur Tengah.
Sama halnya dengan emas, perak juga harus melewati fase volatilitas yang cukup tinggi dengan kecenderungan melemah pada sesi perdagangan kemarin.
Data Refinitiv menunjukkan perak ditutup melemah 0,24 persen di level US$75,50 per troy ons pada penutupan perdagangan Senin sore.
Beruntung, pada pagi ini Selasa (28/4/2026) pukul 06.33 WIB, harga perak berhasil rebound dengan penguatan 0,55 persen ke level US$75,91.
(*)

