Iklan

Redaksi
Monday, June 29, 2026, 5:18 AM WIB
Last Updated 2026-06-28T22:18:16Z
Regional

Hunian Hotel di Sumenep Naik Jadi 24,93 Persen pada April 2026, Didominasi Wisatawan Nusantara

Hunian Hotel di Sumenep Naik Jadi 24,93 Persen pada April 2026, Didominasi Wisatawan Nusantara


LANGGAMPOS.COM – Aktivitas sektor perhotelan di Kabupaten Sumenep menunjukkan tren yang semakin positif sejak Januari hingga April 2026. 

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep mencatat tingkat penghunian kamar (TPK) hotel pada April 2026 mencapai 24,93 persen, meningkat 1,43 poin dibandingkan Maret 2026 yang berada di angka 23,50 persen.

Kenaikan tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas perjalanan masyarakat menuju Kabupaten Sumenep masih terus berlangsung. 

Meski demikian, tingkat okupansi hotel masih menyisakan ruang yang cukup besar untuk terus ditingkatkan melalui berbagai upaya pengembangan ekonomi maupun pariwisata daerah.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Kabupaten Sumenep, peningkatan okupansi pada April terutama ditopang oleh hotel nonbintang. 

Tingkat penghunian hotel nonbintang naik dari 16,96 persen pada Maret menjadi 19,65 persen pada April 2026 atau meningkat 2,69 poin.

Sebaliknya, hotel berbintang mengalami sedikit penurunan. Tingkat penghunian kamar hotel berbintang tercatat sebesar 37,01 persen, turun 1,44 poin dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 38,45 persen.

Meskipun demikian, hotel berbintang masih mencatat tingkat okupansi hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan hotel nonbintang.

Tren Positif Sejak Awal Tahun

Jika melihat perkembangan sepanjang 2026, okupansi hotel di Kabupaten Sumenep memperlihatkan kecenderungan meningkat secara bertahap.

Pada Januari 2026, tingkat penghunian kamar tercatat sebesar 18,92 persen, kemudian naik menjadi 20,39 persen pada Februari. 

Tren tersebut berlanjut menjadi 23,50 persen pada Maret dan kembali meningkat menjadi 24,93 persen pada April.

Kenaikan bertahap selama empat bulan berturut-turut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas masyarakat yang memanfaatkan layanan akomodasi di Kabupaten Sumenep.

Meski data statistik tidak menjelaskan penyebab kenaikan tersebut, peningkatan okupansi umumnya dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti aktivitas pemerintahan, perjalanan bisnis, kegiatan pendidikan, kunjungan keluarga, hingga mobilitas wisatawan domestik.

Lama Menginap Masih Relatif Singkat

BPS juga mencatat rata-rata lama menginap tamu (RLMT) gabungan hotel bintang dan nonbintang pada April 2026 mencapai 1,17 hari.

Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar tamu masih menginap sekitar satu hingga dua hari sebelum melanjutkan perjalanan.

Sementara itu, tamu yang menginap di hotel berbintang memiliki rata-rata lama tinggal sedikit lebih panjang, yakni 1,24 hari.

Data ini memberikan gambaran bahwa Kabupaten Sumenep masih didominasi oleh kunjungan dengan durasi singkat. 

Kondisi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus peluang bagi berbagai pihak untuk menghadirkan lebih banyak aktivitas, agenda, maupun pengalaman yang mampu mendorong wisatawan atau pengunjung tinggal lebih lama.

Hampir Seluruh Tamu Berasal dari Dalam Negeri

Menariknya, komposisi tamu hotel di Kabupaten Sumenep masih sangat didominasi wisatawan nusantara.

BPS mencatat sebanyak 99,88 persen tamu hotel merupakan wisatawan domestik, sedangkan tamu mancanegara hanya mencapai 0,12 persen.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pasar utama industri perhotelan di Kabupaten Sumenep saat ini masih berasal dari dalam negeri.

Kondisi ini bukan berarti menjadi kelemahan, melainkan menggambarkan karakter pasar daerah yang memang bertumpu pada mobilitas masyarakat Indonesia. 

Ke depan, data tersebut dapat menjadi dasar penyusunan strategi promosi yang lebih tepat sasaran, baik untuk memperkuat pasar domestik maupun memperluas daya tarik bagi wisatawan mancanegara secara bertahap.

Data Statistik Sebagai Bahan Evaluasi

Tingkat penghunian kamar merupakan salah satu indikator penting untuk membaca aktivitas sektor akomodasi. Semakin tinggi angka TPK, semakin besar pula proporsi kamar hotel yang berhasil terjual setiap harinya.

Karena itu, publikasi statistik seperti yang dirilis BPS Kabupaten Sumenep tidak hanya menjadi informasi bagi pelaku usaha hotel, tetapi juga dapat dimanfaatkan pemerintah daerah, pelaku ekonomi kreatif, hingga masyarakat sebagai bahan evaluasi dalam melihat perkembangan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.

Dengan tren okupansi yang terus meningkat sejak awal tahun, sektor perhotelan di Kabupaten Sumenep menunjukkan sinyal yang cukup positif. 

Tantangan berikutnya adalah menjaga momentum tersebut melalui penguatan kualitas layanan, penyelenggaraan berbagai kegiatan berskala regional maupun nasional, serta pengembangan potensi daerah secara berkelanjutan agar manfaat ekonominya semakin dirasakan masyarakat.


FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Berapa tingkat penghunian hotel di Kabupaten Sumenep pada April 2026?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel pada April 2026 mencapai 24,93 persen, meningkat 1,43 poin dibandingkan Maret 2026.

2. Apa itu Tingkat Penghunian Kamar (TPK)?

TPK atau Tingkat Penghunian Kamar adalah persentase kamar hotel yang terjual dibandingkan dengan jumlah kamar yang tersedia dalam periode tertentu. Semakin tinggi angka TPK, semakin tinggi pula tingkat okupansi hotel.

3. Mengapa tingkat hunian hotel di Sumenep mengalami kenaikan?

Data BPS tidak menjelaskan penyebab secara spesifik. Namun, peningkatan okupansi umumnya dipengaruhi oleh mobilitas masyarakat, perjalanan bisnis, kegiatan pemerintahan, kunjungan keluarga, kegiatan pendidikan, hingga aktivitas pariwisata.

4. Berapa rata-rata lama tamu menginap di hotel Sumenep?

Pada April 2026, rata-rata lama menginap tamu di hotel Kabupaten Sumenep mencapai 1,17 hari. Hal ini menunjukkan sebagian besar tamu menginap sekitar satu hingga dua hari.

5. Apakah wisatawan yang menginap di hotel Sumenep didominasi tamu lokal?

Ya. Data BPS menunjukkan sekitar 99,88 persen tamu hotel merupakan wisatawan nusantara, sedangkan wisatawan mancanegara hanya sekitar 0,12 persen.

6. Mengapa data tingkat hunian hotel penting?

Data tingkat hunian hotel menjadi salah satu indikator perkembangan sektor akomodasi, pariwisata, dan aktivitas ekonomi suatu daerah. 

Informasi ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat dalam menyusun strategi pengembangan daerah.


#Sumenep #HotelSumenep #HunianHotel #TPKHotel #BPSSumenep #PariwisataSumenep #WisataSumenep #Madura #VisitSumenep #EkonomiSumenep #DataStatistik #HotelMadura #WisataNusantara #LanggamPos #BeritaSumenep
Advertisement
Pilihan Redaksi Lainnya
close