- Kepolisian Nasional Korea Selatan (KNPA) resmi bekerja sama dengan perusahaan analitik blockchain, Chainalysis, untuk memperkuat investigasi kejahatan kripto.
- Program ini berfokus pada pelatihan taktis pelacakan aset digital lintas batas, termasuk pencucian uang yang melibatkan peretas Korea Utara.
- Kolaborasi ini merespons maraknya peretasan protokol kripto dengan kerugian masif yang menembus angka miliaran dolar AS.
LANGGAMPOS.COM - Mata uang kripto kini menjadi ladang baru bagi para pelaku kejahatan siber internasional untuk menyembunyikan uang hasil jarahan mereka.
Menyikapi ancaman yang kian kompleks, Kepolisian Nasional Korea Selatan (KNPA) mengambil langkah strategis dengan menggandeng raksasa analitik blockchain dunia, Chainalysis.
Kemitraan formal ini diumumkan secara resmi pada 9 Juni 2026, meskipun penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) sebenarnya telah dilakukan sejak April lalu.
Sinergi kedua lembaga dirancang untuk menyediakan program pelatihan intensif, sertifikasi profesi, dan simulasi praktis bagi para penyidik yang menangani kasus kriminalitas virtual.
Fokus utamanya mencakup pemberantasan penipuan, pencucian uang, hingga pencurian aset digital lintas negara yang kerap dihubungkan dengan kelompok peretas asal Korea Utara.
Strategi KNPA Memperluas Kompetensi Penyidik di Ranah Blockchain
Melalui kerja sama ini, personel kepolisian yang ditunjuk oleh KNPA akan mendapatkan akses eksklusif ke platform edukasi Chainalysis Academy.
Menariknya, seluruh materi pembelajaran dan modul pelatihan akan disajikan dalam bahasa Korea guna memastikan penyerapan ilmu yang optimal.
Kurikulum khusus ini disiapkan untuk membantu aparat penegak hukum dan lembaga terafiliasi dalam mengasah keahlian melacak aliran dana terlarang.
Penyidik bakal dilatih memantau pergerakan transaksi yang melewati dompet digital (wallet), platform pertukaran (exchange), jembatan antar-blockchain (bridge), hingga layanan pencampur aset (mixing services).
Selain materi teori, para interogator dan analis siber juga akan dilibatkan dalam program sertifikasi bertajuk Chainalysis Digital Asset Program.
Sistem sertifikasi ini mencakup metodologi investigasi tingkat dasar hingga tingkat lanjut yang sangat krusial dalam pembuktian hukum.
Guna memberikan pengalaman nyata, kedua belah pihak bakal menggelar latihan bersama dengan skenario yang diadopsi langsung dari pola kejahatan siber yang sedang tren saat ini.
Menahan Laju Penjarahan Aset Digital oleh Peretas Korea Utara
Direktur Regional Chainalysis, Kwon, menjelaskan bahwa kesepakatan ini pada dasarnya bertujuan untuk membangun kapabilitas institusional kepolisian secara menyeluruh.
"Kesepakatan ini bertujuan untuk membangun kemampuan institusional daripada hanya fokus pada Korea Utara saja," ujar Kwon.
Selain aspek edukasi, Chainalysis dan KNPA berkomitmen untuk saling bertukar informasi mengenai teknologi mutakhir serta modus operandi baru yang digunakan para kriminal.
Masalah keamanan siber terkait Korea Utara memang terus menjadi sorotan utama komunitas internasional belakangan ini.
Data dari Chainalysis menunjukkan kelompok peretas yang disokong Pyongyang berhasil menggasak mata uang kripto senilai lebih dari 2 miliar dolar AS sepanjang tahun 2025.
Jika diakumulasikan selama lima tahun terakhir, total jarahan kelompok tersebut diperkirakan telah menyentuh angka fantastis, yakni sekitar 5,5 billion dolar AS (setara Rp85 triliun).
Modus yang digunakan tergolong rapi; aset curian biasanya dipindahkan melalui beberapa jaringan blockchain dan berbagai negara sebelum akhirnya dicairkan ke mata uang fiat.
Para penyerang memanfaatkan celah di bursa kripto, cross-chain bridge, dan mixing services demi mengaburkan jejak digital mereka dari radar aparat.
Kondisi inilah yang memaksa para penyidik KNPA untuk meluaskan jangkauan pelacakan transaksinya hingga ke luar wilayah yurisdiksi Korea Selatan.
Pihak Chainalysis menekankan bahwa visibilitas global sangat mutlak diperlukan oleh para penegak hukum di era digital saat ini.
Sebab, dana hasil kejahatan bisa melintasi lusinan negara sebelum pelaku mencoba mencairkannya (cash out) lewat layanan keuangan lokal.
Melalui pola kemitraan terpadu, deteksi dini, interupsi transaksi terlarang, hingga proses penuntutan di pengadilan diharapkan dapat berjalan jauh lebih efektif.
Sebagai catatan, pada April lalu, peretas yang diduga kuat terafiliasi dengan Korea Utara dilaporkan menguras dana sebesar 577 juta dolar AS dari Drift Protocol dan Kelp DAO.
Insiden besar tersebut kembali memicu perdebatan global mengenai kerentanan metode social engineering, lemahnya kontrol sistem bridge, serta tata cara penanganan aset curian.
Penguatan Satgas Pencucian Uang Kripto di Seoul
Langkah penandatanganan MoU ini menyusul kebijakan progresif Seoul yang sebelumnya telah membentuk satuan tugas (satgas) khusus kepolisian.
Satgas baru ini didesain spesifik untuk memerangi praktik pencucian uang berbasis aset virtual yang kian marak.
Unit khusus tersebut mengintegrasikan berbagai divisi, mulai dari tim kejahatan ekonomi, kejahatan siber, penanggulangan terorisme, narkotika, hingga badan intelijen.
Dalam waktu dekat, pihak berwenang berencana memperketat pengawasan dan menindak tegas para operator bursa kripto yang beroperasi tanpa izin resmi.
Fokus bidikan polisi juga tertuju pada pelacakan konversi dana ilegal yang dialihkan ke dalam bentuk mata uang kripto stabil (stablecoin) seperti USDT.
Pemerintah Korea Selatan dikabarkan telah mengalokasikan anggaran khusus demi mendanai pelatihan spesialis pelacakan aset virtual ini.
Rekam jejak menunjukkan bahwa Chainalysis bukan merupakan nama baru dalam membantu menuntaskan berbagai kasus hukum di Negeri Ginseng.
Dalam sebuah kasus masa lalu, Kepolisian Seoul berhasil melacak komplotan peretas internasional hingga ke Thailand setelah menggasak dana sekitar 30 juta dolar AS.
Keberhasilan penangkapan kala itu tidak lepas dari dukungan data analitik dan perangkat lunak yang disediakan oleh perusahaan tersebut.
Hadirnya kerangka kerja baru ini otomatis meresmikan dan memperkuat jalinan kerja sama yang selama ini sudah berjalan secara informal.
Secara global, teknologi milik Chainalysis diklaim telah membantu aparat penegak hukum menyita aset terlarang dengan total nilai lebih dari 34 miliar dolar AS.
Bahkan, berbagai yurisdiksi dan pengadilan di dunia telah menerima data analitik blockchain mereka sebagai alat bukti yang sah dalam persidangan pidana.
Kendati demikian, dokumen kerja sama ini tidak merinci secara detail mengenai jumlah pasti personel KNPA yang akan dikirim untuk mengikuti pelatihan.
Nilai anggaran yang dikucurkan untuk program ini serta target publik mengenai jumlah penangkapan atau nominal penyitaan aset juga sengaja tidak dipublikasikan.
(*)
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Mengapa Kepolisian Korea Selatan (KNPA) bekerja sama dengan Chainalysis?
KNPA memerlukan keahlian dan teknologi analitik blockchain milik Chainalysis untuk melacak transaksi kripto yang rumit, guna memberantas kejahatan siber lintas batas seperti pencucian uang dan penipuan.
2. Mengapa peretas Korea Utara menjadi fokus dalam kemitraan ini?
Kelompok peretas yang terafiliasi dengan Korea Utara tercatat telah mencuri kripto senilai miliaran dolar AS dalam beberapa tahun terakhir, di mana dana tersebut sering kali dilarikan melalui jalur blockchain internasional yang rumit.
3. Apa saja kemampuan yang akan dipelajari oleh penyidik kepolisian?
Para penyidik akan dilatih untuk melacak aliran dana terlarang yang melewati berbagai dompet digital, bursa kripto, cross-chain bridge, hingga layanan pencampur aset (mixing services).
#KejahatanKripto #Chainalysis #CryptoNews #KoreaSelatan #KeamananSiber #BlockchainAnalytics #CyberCrime
Para penyidik akan dilatih untuk melacak aliran dana terlarang yang melewati berbagai dompet digital, bursa kripto, cross-chain bridge, hingga layanan pencampur aset (mixing services).
#KejahatanKripto #Chainalysis #CryptoNews #KoreaSelatan #KeamananSiber #BlockchainAnalytics #CyberCrime


