Iklan

Redaksi
Wednesday, June 10, 2026, 11:06 AM WIB
Last Updated 2026-06-10T04:06:50Z
EconomyNews

Rupiah Hari Ini Berhasil Rebound Menguat ke Level Rp17.875, Efek Domino Kenaikan BI Rate Mulai Terasa

Rupiah Hari Ini Berhasil Rebound Menguat ke Level Rp17.875, Efek Domino Kenaikan BI Rate Mulai Terasa

  • Rupiah menguat tajam 0,97% ke posisi Rp17.875/US$ pada pembukaan perdagangan Rabu (10/6/2026).
  • Sentimen positif didorong oleh langkah pre-emptive Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,50%.
  • Pelemahan indeks dolar AS (DXY) akibat sinyal damai AS-Iran turut memberi ruang penguatan bagi mata uang Garuda.

LANGGAMPOS.COM - Mata uang rupiah menunjukkan taringnya pada pembukaan perdagangan Rabu pagi (10/6/2026). Garuda sukses terbang meninggalkan level psikologis yang sempat mengkhawatirkan dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah langsung melesat ke posisi Rp17.875/US$ saat perdagangan baru saja dibuka. Angka ini mencerminkan apresiasi signifikan sebesar 0,97% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Keberhasilan ini membawa angin segar karena rupiah akhirnya kembali bercokol di bawah level Rp18.000/US$. Sebagaimana diketahui, tekanan hebat sempat memaksa rupiah tertahan di atas angka keramat tersebut selama sepekan terakhir.

Tren positif ini sebenarnya sudah terlihat sejak Selasa (9/6/2026) kemarin. Kala itu, rupiah ditutup menguat 0,66% pada level Rp18.050/US$, menandakan awal dari pembalikan arah (rebound).

Strategi Berani Bank Indonesia Menjaga Stabilitas

Laju penguatan rupiah saat ini tidak lepas dari kebijakan moneter agresif yang diambil oleh Bank Indonesia (BI). Pelaku pasar merespons positif kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate.

Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan pada Selasa (9/6/2026), BI memutuskan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps). Keputusan ini membawa BI Rate kini bertengger di level 5,50%.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari penguatan stabilisasi nilai tukar. Fokus utamanya adalah memitigasi dampak gejolak global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

"Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portfolio asing ke Indonesia," ungkap Perry dalam penjelasannya.

Langkah tersebut bersifat pre-emptive guna memastikan inflasi pada tahun 2026 dan 2027 tetap terkendali. BI menargetkan inflasi tetap berada di koridor 2,5±1% sesuai sasaran pemerintah.

Faktor Eksternal: Pelemahan Dolar dan Sinyal Damai Timur Tengah


Selain faktor domestik, kondisi pasar global juga sedang berpihak pada mata uang negara berkembang. Indeks dolar AS (DXY) terpantau bergerak stabil di posisi 99,983 pada pukul 09.00 WIB pagi ini.

Meski stabil pagi ini, DXY sejatinya telah mengalami tekanan pada perdagangan sebelumnya dengan koreksi sebesar 0,14% ke level 99,909. Pelemahan greenback ini secara otomatis memberi ruang napas bagi rupiah.

Koreksi dolar AS dipicu oleh anjloknya harga minyak mentah dunia. Kondisi ini menyusul pernyataan optimistis dari Presiden AS, Donald Trump, mengenai ketegangan di Timur Tengah.

Trump memberikan sinyal kuat bahwa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran kemungkinan besar tercapai dalam waktu dekat. Kabar ini membawa harapan akan stabilitas keamanan di kawasan tersebut.

Bahkan, Trump menyebutkan bahwa Selat Hormuz dapat segera dibuka kembali untuk jalur perdagangan internasional. Skenario perdamaian ini langsung meredam permintaan aset aman (safe haven) seperti dolar AS.

Evaluasi Rutin dan Aliran Modal Asing


Perry Warjiyo menambahkan, RDG Mingguan merupakan mekanisme legal untuk mengevaluasi bauran kebijakan yang telah ditetapkan dalam RDG Bulanan (19-20 Mei 2026).

Dalam evaluasi tersebut, BI mengakui bahwa tekanan terhadap rupiah sempat lebih berat dari perkiraan awal. Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan valas di dalam negeri dan aksi jual investor asing.

Keluarnya modal asing (outflow) dari pasar portofolio Indonesia sempat menjadi beban berat bagi nilai tukar. Namun, dengan kenaikan BI Rate, diharapkan kepercayaan investor kembali pulih.

Selisih imbal hasil yang lebih menarik diprediksi akan mengundang kembali modal asing masuk ke pasar keuangan domestik. Momentum ini diharapkan terus terjaga hingga akhir pekan.

Kombinasi antara kebijakan moneter yang responsif dan meredanya tensi geopolitik global menjadi katalis utama bagi pemulihan ekonomi Indonesia saat ini.


(*)



FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Mengapa nilai tukar rupiah bisa menguat hari ini?

Rupiah menguat karena respons positif pasar terhadap kenaikan BI Rate menjadi 5,50% dan melemahnya indeks dolar AS akibat sinyal perdamaian AS-Iran.

2. Berapa level kurs rupiah terhadap dolar AS saat ini?

Pada pembukaan perdagangan Rabu (10/6/2026), rupiah berada di posisi Rp17.875/US$.

3. Apa tujuan Bank Indonesia menaikkan BI Rate?

Tujuannya adalah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, menjaga inflasi di kisaran 2,5±1%, dan meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing di Indonesia.

4. Mengapa dolar AS melemah di pasar global?

Dolar AS melemah dipengaruhi oleh penurunan harga minyak mentah serta pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai potensi kesepakatan damai dengan Iran.

#ekonomi #rupiah #BIRate #dolar #bankindonesia #perrywarjiyo #kursrupiah #keuangan #beritaterkini
Advertisement
Pilihan Redaksi Lainnya