Iklan

Redaksi
Sunday, June 28, 2026, 9:12 AM WIB
Last Updated 2026-06-28T02:12:38Z
Regional

Konon Kata Juhari DPRD Sumenep MBG Kepulauan Masalembu Membutuhkan Listrik yang Andal, Lalu Apa yang Harus Dilakukan?

Konon Kata Juhari DPRD Sumenep MBG Kepulauan Masalembu Membutuhkan Listrik yang Andal, Lalu Apa yang Harus Dilakukan?

Konon Kata Juhari DPRD Sumenep MBG Kepulauan Masalembu Membutuhkan Listrik yang Andal, Lalu Apa yang Harus Dilakukan?


LANGGAMPOS.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu agenda nasional yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.

Di daerah perkotaan, implementasi program ini mungkin tidak menghadapi banyak kendala infrastruktur. Namun, di wilayah kepulauan seperti Masalembu, Kabupaten Sumenep, tantangannya jauh lebih kompleks.

Anggota DPRD Kabupaten Sumenep, Juhari, menilai bahwa pelaksanaan MBG di wilayah kepulauan akan sulit berjalan maksimal apabila persoalan listrik belum terselesaikan secara optimal.

Pandangan tersebut bukan sekadar membahas kebutuhan energi, melainkan menegaskan bahwa listrik merupakan fondasi bagi berbagai layanan publik, termasuk penyimpanan bahan pangan, operasional dapur umum, layanan kesehatan, pendidikan, hingga pengembangan ekonomi masyarakat.

Pernyataan tersebut membuka ruang diskusi yang lebih luas.

Jika listrik memang menjadi salah satu prasyarat keberhasilan MBG di Kepulauan Masalembu, maka yang dibutuhkan bukan sekadar percepatan pembangunan pembangkit.

Tetapi sebuah perencanaan jangka panjang yang berbasis data, riset, dan kolaborasi antarlembaga.

Listrik Menjadi Penopang Keberhasilan Program MBG

Program MBG tidak berhenti pada proses memasak dan membagikan makanan kepada peserta didik. Di baliknya terdapat sistem logistik yang memerlukan dukungan infrastruktur memadai.

Bahan makanan segar membutuhkan penyimpanan dingin agar kualitasnya tetap terjaga. Peralatan dapur memerlukan pasokan listrik yang stabil.

Begitu pula fasilitas distribusi dan penyimpanan yang harus mampu menjaga keamanan pangan hingga makanan diterima oleh penerima manfaat.

Bagi wilayah kepulauan yang masih menghadapi keterbatasan pasokan listrik, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri.

Karena itu, pembangunan sistem kelistrikan yang andal menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan MBG Kepulauan Masalembu.

Mengapa Elektrifikasi Masalembu Belum Maksimal?

Persoalan listrik di Masalembu tidak dapat dipandang sebagai masalah sederhana.

Sejumlah faktor saling berkaitan dan memengaruhi percepatan pembangunan.

Tantangan Geografis

Masalembu berada di tengah Laut Jawa dengan akses transportasi yang bergantung pada jalur laut. 

Seluruh material pembangunan, peralatan, hingga kebutuhan operasional pembangkit harus dikirim menggunakan kapal.

Kondisi tersebut menyebabkan biaya pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur kelistrikan jauh lebih tinggi dibanding wilayah daratan.

Sistem Kelistrikan Berdiri Sendiri

Karena lokasinya terpisah dari jaringan utama, Masalembu tidak memungkinkan memperoleh pasokan listrik melalui transmisi dari Pulau Madura maupun Jawa.

Konsekuensinya, pulau tersebut harus memiliki sistem pembangkit mandiri (isolated system), baik melalui PLTD, pembangkit tenaga surya, maupun sistem hibrida yang mengombinasikan beberapa sumber energi.

Ketergantungan pada Logistik BBM

Selama pembangkit masih mengandalkan bahan bakar diesel, keberlangsungan pasokan listrik akan dipengaruhi oleh distribusi BBM.

Ketika cuaca buruk menghambat pelayaran atau distribusi logistik terganggu, operasional pembangkit pun dapat terdampak.

Hal ini menunjukkan bahwa persoalan listrik di kepulauan bukan hanya mengenai pembangkit, tetapi juga sistem logistik yang menopangnya.

Investasi dan Infrastruktur Pendukung

Elektrifikasi di pulau memerlukan investasi yang besar dengan jumlah pelanggan yang relatif terbatas. 

Selain membangun pembangkit, diperlukan jaringan distribusi, gardu listrik, fasilitas penyimpanan energi, akses logistik, hingga sumber daya manusia yang mampu melakukan pemeliharaan secara berkelanjutan.

Karena itu, penyelesaiannya membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan penyelenggara ketenagalistrikan.

Solusi Tidak Hanya Membangun Pembangkit

Perkembangan teknologi energi saat ini memberikan peluang yang lebih besar dibanding satu dekade lalu.

Sistem pembangkit hibrida yang mengombinasikan tenaga surya, baterai penyimpanan, dan diesel cadangan telah banyak diterapkan di berbagai pulau kecil.

Model ini mampu mengurangi konsumsi bahan bakar sekaligus meningkatkan keandalan pasokan listrik.

Namun, pemilihan teknologi tidak dapat dilakukan secara seragam. Setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda sehingga membutuhkan kajian yang matang mengenai kebutuhan energi, kondisi geografis, potensi sumber daya alam, serta kemampuan pembiayaan.

Dengan kata lain, pembangunan listrik tidak cukup hanya berorientasi pada proyek fisik, tetapi harus diawali dengan perencanaan yang tepat.

Peran Juhari sebagai DPRD: Mengawal, Bukan Sekadar Menyuarakan

Sebagai anggota DPRD Kabupaten Sumenep, perhatian yang disampaikan Juhari mengenai keterkaitan antara listrik dan keberhasilan MBG merupakan bagian dari fungsi representasi masyarakat.

Langkah berikutnya yang dapat diperkuat adalah mengawal lahirnya kebijakan yang terukur.

DPRD memiliki tiga fungsi utama, yaitu legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Ketiga fungsi tersebut dapat diarahkan untuk mendorong percepatan elektrifikasi kepulauan, antara lain dengan:

  • mendorong penyusunan roadmap elektrifikasi Kepulauan Sumenep;
  • memastikan dukungan anggaran terhadap infrastruktur pendukung;
  • melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program dan capaian target;
  • membangun komunikasi dengan pemerintah pusat dan PLN agar wilayah kepulauan memperoleh perhatian yang proporsional.

Dengan pendekatan tersebut, aspirasi masyarakat tidak berhenti sebagai kritik, tetapi berkembang menjadi kebijakan yang memiliki arah dan target yang jelas.

BRIDA Sumenep Dapat Menjadi Motor Riset Kelistrikan Kepulauan

Dalam pembangunan infrastruktur modern, keputusan yang baik lahir dari data yang baik. Karena itu, percepatan elektrifikasi kepulauan akan lebih kuat apabila didukung oleh kajian ilmiah yang komprehensif.

Di sinilah Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumenep memiliki ruang untuk berkontribusi secara strategis.

BRIDA memang bukan lembaga yang membangun pembangkit listrik. Namun, perannya sebagai penyedia riset dan rekomendasi kebijakan dapat menjadi fondasi dalam menentukan arah pembangunan kelistrikan di wilayah kepulauan.

Beberapa kajian yang dapat dilakukan antara lain:
  • memetakan kebutuhan listrik masyarakat saat ini hingga proyeksi beberapa dekade ke depan;
  • mengidentifikasi potensi energi surya, angin, atau sumber energi lain yang layak dikembangkan;
  • membandingkan efisiensi antara PLTD, PLTS, dan sistem pembangkit hibrida;
  • menghitung kebutuhan investasi serta biaya operasional jangka panjang;
  • menyusun skenario elektrifikasi yang realistis dan berkelanjutan.

Hasil kajian tersebut tidak hanya bermanfaat bagi pemerintah daerah, tetapi juga dapat menjadi dokumen pendukung saat mengajukan program kepada pemerintah pusat maupun PLN.

Menghitung Manfaat Ekonomi di Balik Listrik

Salah satu kontribusi penting BRIDA adalah mengubah cara pandang terhadap pembangunan listrik.

Elektrifikasi bukan sekadar menambah jam nyala lampu, tetapi membuka peluang pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Dengan pasokan listrik yang andal, Masalembu berpotensi mengembangkan fasilitas penyimpanan ikan (cold storage), industri pengolahan hasil laut, pabrik es, usaha mikro dan kecil, layanan kesehatan yang lebih baik, serta akses pendidikan berbasis teknologi.

Dalam konteks MBG, listrik juga memungkinkan tersedianya sistem penyimpanan bahan pangan yang aman sehingga kualitas makanan bergizi tetap terjaga hingga diterima oleh peserta didik.

Kajian mengenai manfaat ekonomi ini akan memperlihatkan bahwa investasi kelistrikan memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar penyediaan energi.

Kolaborasi Menjadi Kunci Keberhasilan

Persoalan listrik di kepulauan tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi.

Diperlukan pembagian peran yang saling melengkapi.

BRIDA dapat menyediakan riset dan rekomendasi kebijakan berbasis data. 

Pemerintah Kabupaten Sumenep menyusun perencanaan pembangunan berdasarkan hasil kajian tersebut. 

DPRD, termasuk Juhari, mengawal proses melalui fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan. 

PLN menjalankan pembangunan dan operasional sistem kelistrikan, sementara pemerintah pusat memberikan dukungan pendanaan serta memasukkan elektrifikasi kepulauan ke dalam agenda pembangunan nasional.

Kolaborasi seperti inilah yang akan menghasilkan pembangunan yang lebih terarah, efisien, dan berkelanjutan.

Penutup

Keberhasilan MBG Kepulauan Masalembu tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan pangan, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur dasar yang menopangnya, termasuk listrik. 

Tantangan geografis, logistik, dan investasi memang menjadi kenyataan yang harus dihadapi. Namun, tantangan tersebut bukan alasan untuk berhenti, melainkan dasar untuk menyusun strategi pembangunan yang lebih matang.

Perhatian yang disampaikan Juhari mengenai pentingnya listrik di wilayah kepulauan dapat menjadi momentum untuk mendorong lahirnya roadmap elektrifikasi berbasis riset. 

Dalam konteks ini, BRIDA memiliki peluang besar menjadi think tank daerah yang menghasilkan kajian ilmiah sebagai dasar pengambilan kebijakan.

Jika sinergi antara DPRD, BRIDA, Pemerintah Kabupaten Sumenep, PLN, dan pemerintah pusat dapat terbangun dengan baik, maka elektrifikasi Masalembu tidak hanya akan mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis. 

Lebih dari itu, langkah tersebut dapat menjadi fondasi bagi pemerataan pembangunan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta penguatan daya saing wilayah kepulauan di Kabupaten Sumenep untuk jangka panjang.

FAQ:

Apa hubungan MBG dengan listrik di Kepulauan Masalembu?

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membutuhkan pasokan listrik yang stabil untuk mendukung penyimpanan bahan makanan, operasional dapur umum, hingga distribusi pangan. Tanpa listrik yang memadai, kualitas dan keberlanjutan pelaksanaan program berpotensi terganggu.

Mengapa listrik di Kepulauan Masalembu belum optimal?

Beberapa faktor menjadi penyebabnya, antara lain letak geografis yang terpencil, tingginya biaya pembangunan infrastruktur, ketergantungan pada distribusi BBM untuk pembangkit diesel, serta kebutuhan sistem kelistrikan mandiri karena belum terhubung dengan jaringan listrik utama.

Apakah Masalembu bisa menikmati listrik selama 24 jam?

Sangat memungkinkan. Dengan perkembangan teknologi seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), sistem hybrid, baterai penyimpanan energi, serta dukungan kebijakan dan investasi yang tepat, elektrifikasi penuh di Masalembu dapat diwujudkan secara bertahap.

Apa peran Juhari sebagai anggota DPRD dalam persoalan listrik kepulauan?

Sebagai anggota DPRD, Juhari dapat mengawal percepatan elektrifikasi melalui fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Selain menyampaikan aspirasi masyarakat, DPRD juga dapat mendorong penyusunan roadmap pembangunan listrik, memperjuangkan dukungan anggaran, serta membangun koordinasi dengan pemerintah pusat dan PLN.

Bagaimana BRIDA dapat membantu mengatasi persoalan listrik di Masalembu?

BRIDA dapat berperan sebagai lembaga riset yang menyusun kajian kebutuhan listrik, memetakan potensi energi terbarukan, menghitung dampak ekonomi elektrifikasi, serta memberikan rekomendasi kebijakan berbasis data. Hasil kajian tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah, DPRD, maupun pemerintah pusat dalam mengambil keputusan pembangunan.

Mengapa riset penting sebelum membangun pembangkit listrik di kepulauan?

Setiap pulau memiliki karakteristik yang berbeda. Melalui riset, pemerintah dapat menentukan teknologi pembangkit yang paling sesuai, menghitung kebutuhan energi masyarakat, memperkirakan biaya investasi, serta memastikan pembangunan listrik benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Advertisement
Pilihan Redaksi Lainnya
close