Iklan

Redaksi
Wednesday, July 8, 2026, 7:26 PM WIB
Last Updated 2026-07-08T12:26:04Z
Crypto

Debat Batas Suplai Bitcoin 21 Juta Memanas Usai Usulan Inflasi 4 Persen CEO StarkWare

Debat Batas Suplai Bitcoin 21 Juta Memanas Usai Usulan Inflasi 4 Persen CEO StarkWare


LANGGAMPOS.COM - Prinsip dasar kelangkaan aset kripto terbesar di dunia kembali mendapat ujian keras.

CEO StarkWare, Eli Ben-Sasson, memicu kontroversi baru di tengah komunitas digital setelah mengusulkan perombakan pada kebijakan moneter Bitcoin.

Ia menyarankan agar batas suplai Bitcoin 21 juta yang selama ini bersifat mutlak diganti dengan aturan pencetakan tahunan atau inflasi hingga 4 persen.

Dalam sebuah unggahan di platform X pada hari Selasa, Ben-Sasson menilai bahwa batas maksimal suplai yang tetap "doesn't make sense" atau tidak masuk akal dalam jangka panjang.

Argumen utamanya berakar pada realitas teknis bahwa pengguna kerap kehilangan akses ke private key mereka seiring berjalannya waktu, yang secara perlahan mengurangi jumlah koin yang dapat digunakan di sirkulasi pasar.

Mengapa CEO StarkWare Mengusulkan Inflasi Bitcoin 4 Persen per Tahun?

Sistem jaringan Bitcoin dibangun dengan keamanan desentralisasi penuh tanpa fitur pengaturan ulang kata sandi (password reset).

Ketika seorang pemegang koin kehilangan private key miliknya, koin tersebut akan tetap berada dan tercatat di dalam jaringan (on-chain), tetapi tidak akan pernah bisa dibelanjakan atau dipindahkan lagi selamanya.

Ben-Sasson berpendapat bahwa dalam jangka waktu yang sangat panjang, semakin banyak koin yang akan menjadi tidak terjangkau oleh pasar.

Hal ini dikhawatirkan dapat menggerogoti likuiditas dan mengurangi kegunaan Bitcoin sebagai instrumen transaksi maupun penyimpan nilai yang aktif.

Berdasarkan data estimasi dari perusahaan dompet kripto Ledger, sekitar 2,3 juta hingga 3,7 juta BTC saat ini telah hilang secara permanen dari peredaran.

Bahkan, beberapa laporan analisis pasar kripto lainnya menunjukkan angka yang lebih tinggi, yakni mendekati 4 juta BTC.

Bertolak dari tren private key Bitcoin hilang tersebut, Ben-Sasson mengusulkan penerapan aturan penerbitan koin baru maksimal 4 persen per tahun.

Menurutnya, angka 4 persen tersebut sebanding dengan rata-rata pertumbuhan penduduk dunia.

Melalui pendekatan kebijakan moneter ini, ia meyakini Bitcoin tetap bisa menjaga sifat kelangkaannya di bawah aturan moneter yang terprediksi, sekaligus menambal kekosongan suplai akibat koin-koin yang hangus.

Penolakan Keras Komunitas Kripto Terhadap Perubahan Suplai Maksimal

Usulan radikal tersebut langsung menuai penolakan keras dan gelombang kritik dari para pengguna serta pendukung setia Bitcoin di platform X.

Bagi mayoritas komunitas, batas 21 juta koin bukan sekadar angka arbitrer, melainkan fitur utama yang membedakan Bitcoin dari mata uang fiat dan aset kripto lainnya.

Mengubah batas suplai maksimal dinilai akan membuat Bitcoin kehilangan identitasnya sebagai aset anti-inflasi dan menjadikannya tidak ada bedanya dengan altcoin lain di pasaran.

Pandangan Ben-Sasson juga bertentangan langsung dengan filosofi dasar para Bitcoiner. Dalam pandangan tradisional komunitas, koin yang hilang justru dianggap memperkuat struktur kelangkaan aset, bukan sebuah kecacatan sistem yang harus diperbaiki melalui pencetakan koin baru.

Koin yang hilang secara permanen kerap dipandang seperti donasi ("donation") kepada seluruh pemegang Bitcoin yang tersisa.

Logika ekonominya sederhana: ketika jumlah suplai yang beredar di pasar berkurang sementara permintaan tetap atau meningkat, maka koin yang tersisa akan menjadi lebih sulit didapat dan berpotensi meningkatkan nilai kepemilikan bagi seluruh investor.

Argumen Divisibilitas Satoshi dan Respons Ben-Sasson

Menanggapi kekhawatiran soal berkurangnya suplai koin yang bisa digunakan untuk transaksi, para kritikus mengingatkan kembali tentang tingkat keterbagian (divisibilitas) Bitcoin yang sangat tinggi.

Secara teknis, Bitcoin dapat dipecah hingga menjadi 2,1 kuadriliun satoshi, yaitu unit terkecil dalam ekosistem Bitcoin.

Dengan keterbagian sebesar ini, pengguna di seluruh dunia tetap memiliki unit yang cukup kecil dan fleksibel untuk melakukan pembayaran sehari-hari, sekalipun unit Bitcoin utuh (whole BTC) semakin sulit diakses atau harganya melambung tinggi.

Namun, Ben-Sasson menepis argumen mengenai satoshi tersebut.

Ia menegaskan bahwa unit satoshi sekalipun pada akhirnya akan mengalami tren penurunan menuju nol jika masalah kehilangan private key terus terjadi tanpa adanya mekanisme penggantian suplai secara berkala.

Debat mengenai koin yang hilang ini juga mengingatkan publik pada pandangan Executive Chairman MicroStrategy, Michael Saylor.

Sebelumnya, Saylor pernah berbicara tentang tindakan membakar private key Bitcoin sebagai bentuk kontribusi pro rata ("pro rata contribution") kepada pemegang koin lainnya.

Kendati demikian, laporan yang beredar menegaskan bahwa Saylor tidak pernah menyatakan komitmen atau janji untuk melakukan pembakaran koin miliknya secara pribadi.

Alternatif Model Zcash untuk Menjaga Keberlanjutan Jaringan

Di tengah hangatnya perdebatan mengenai batas suplai, pendiri Zcash, Bryce "Zooko" Wilcox, ikut memberikan pandangan dengan menyodorkan alternatif jalan tengah.

Ia menyinggung proposal Network Sustainability Mechanism yang saat ini sedang dipertimbangkan untuk diterapkan di jaringan Zcash.

Mekanisme inovatif tersebut memungkinkan pengguna untuk membakar koin ZEC mereka secara sukarela atau melalui mekanisme jaringan tertentu, dan sistem akan secara bertahap menerbitkan ulang koin yang telah dibakar tersebut sebagai imbalan (reward) bagi para penambang di masa depan.

Model yang ditawarkan Zooko bertujuan untuk mendukung keberlanjutan insentif para penambang (miner) sekaligus mempertahankan aturan batas suplai yang tetap.

Pendekatan ini dinilai lebih aman dan berbeda drastis dengan usulan Ben-Sasson, karena sistem re-emisi pada Zcash sama sekali tidak menciptakan batas maksimal seumur hidup (lifetime limit) yang lebih tinggi dari kuota awal yang telah ditetapkan oleh jaringan.

Realitas Kebijakan Moneter Bitcoin dan Tantangan Konsensus

Meskipun perdebatan mengenai kebijakan moneter kripto dan inflasi ini menarik perhatian luas di kalangan jurnalis digital dan analis, mengubah parameter dasar Bitcoin seperti batas suplai membutuhkan rintangan yang hampir mustahil dilewati.

Secara teoritis, para pengembang (developer) memang memiliki wewenang untuk mengajukan proposal perubahan kode program. Namun, dalam arsitektur desentralisasi Bitcoin, sebuah kode baru tidak akan berati apa-apa tanpa persetujuan jaringan.

Agar perubahan fundamental dapat diterapkan, dibutuhkan kesepakatan dan konsensus yang sangat luas dari seluruh ekosistem, mulai dari operator node, penambang, bursa perdagangan, penyedia dompet kripto, hingga pengguna akhir.

StarkWare sendiri sebenarnya bukanlah pemain baru dalam ekosistem Bitcoin.

Seperti yang dilaporkan crypto.news sebelumnya, perusahaan teknologi blockchain ini telah berupaya menghadirkan alat skalabilitas ke jaringan Bitcoin tanpa harus melakukan fork pada Starknet atau meluncurkan token Bitcoin baru.

Kini, diskursus tersebut bergeser dari masalah teknis skalabilitas menuju ranah fundamental kebijakan moneter. Di wilayah inilah pengguna Bitcoin secara historis telah menunjukkan sikap konservatif yang sangat kuat, dengan tidak adanya ketertarikan sedikit pun untuk mengubah aturan suplai koin yang sudah mapan selama lebih dari satu dekade.


#FAQ:

1. Apa yang dimaksud dengan batas suplai Bitcoin 21 juta?

Batas suplai Bitcoin 21 juta adalah aturan mutlak dalam kode pemrograman Bitcoin yang menetapkan bahwa hanya akan ada maksimal 21 juta koin Bitcoin yang dapat dicetak dan beredar di seluruh dunia selamanya.

2. Mengapa CEO StarkWare mengusulkan inflasi Bitcoin 4 persen per tahun?

Eli Ben-Sasson mengusulkan inflasi tahunan hingga 4 persen untuk menggantikan koin-koin yang hilang secara permanen akibat pengguna yang kehilangan akses private key, sehingga Bitcoin tetap memiliki jumlah suplai likuid yang cukup untuk digunakan dalam transaksi jangka panjang.

3. Berapa banyak Bitcoin yang diperkirakan sudah hilang secara permanen?

Menurut laporan estimasi dari perusahaan dompet perangkat keras Ledger, diperkirakan sekitar 2,3 juta hingga 3,7 juta Bitcoin telah hilang secara permanen dari peredaran. Beberapa riset analisis on-chain lainnya bahkan mencatat angkanya mendekati 4 juta koin.

4. Mengapa mayoritas komunitas kripto menolak usulan inflasi Bitcoin?

Komunitas menolak keras karena batas kelangkaan 21 juta koin adalah nilai jual dan fitur utama Bitcoin sebagai aset anti-inflasi yang superior dibanding mata uang fiat. Selain itu, koin yang hilang dipandang sebagai "donasi" alami yang justru membuat sisa koin yang beredar menjadi lebih bernilai karena suplainya di pasar berkurang.

5. Apakah batas maksimal suplai Bitcoin bisa diubah di masa depan?

Secara teknis pemrograman, kode Bitcoin bisa saja diubah oleh pengembang. Namun pada kenyataannya, hal ini hampir mustahil terjadi karena membutuhkan konsensus (persetujuan mutlak) dari mayoritas operator node, penambang, bursa, dan pengguna di seluruh dunia yang saat ini sangat menolak perubahan aturan kebijakan moneter tersebut.


Keyword:

Bitcoin, Suplai Bitcoin, StarkWare, Eli Ben-Sasson, Kebijakan Moneter Kripto, Inflasi Bitcoin, Private Key, Satoshi, Zcash, Michael Saylor, Berita Kripto, Blockchain, Mining Bitcoin, Komunitas Kripto, Aset Digital
Advertisement
Pilihan Redaksi Lainnya
close