LANGGAMPOS.COM - Hubungan diplomatik antara Malaysia dan dunia Barat kini berada di titik nadir yang menegangkan.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, baru saja melayangkan kritik paling tajamnya terhadap standar ganda penegakan hukum internasional yang kerap dipertontonkan oleh kekuatan global.
Langkah berani ini memicu gelombang diskusi hangat mengenai masa depan kemitraan geopolitik antara negara berkembang dan negara maju.
Pemicu utama kemarahan Kuala Lumpur ternyata berakar pada pembatalan sepihak kesepakatan militer strategis yang melibatkan teknologi pertahanan canggih.
Mengapa PM Anwar Ibrahim Kritik Standar Ganda Barat di Forum Asia-Pacific Roundtable?
Berbicara di hadapan delegasi Forum Asia-Pacific Roundtable ke-39 di Kuala Lumpur pada Kamis (02/07/2026), Anwar mempertanyakan keadilan tatanan global saat ini.Ia secara terbuka menggugat sikap negara-negara Barat yang dinilai menerapkan prinsip tebang pilih dalam aturan hukum internasional.
Kemunafikan pihak global yang mendadak bungkam atas berbagai pelanggaran norma di belahan dunia lain menjadi sorotan utamanya.
Pemimpin Malaysia ini menilai ada erosi serius terhadap penghormatan hukum yang dapat merusak hubungan dengan wilayah Global South.
"Apakah dapat diterima bagi beberapa negara untuk mengabaikan hukum dan norma internasional, sementara negara lain dikesampingkan dengan standar kepatuhan yang paling ketat?" kritiknya dikutip Channel News Asia.
Dampak Pembatalan Kontrak Rudal Naval Strike Missiles Norwegia Terhadap Global South
Ketegangan ini memuncak setelah pemerintah Norwegia secara mendadak membatalkan kesepakatan pengadaan alutsista komersial dengan Malaysia.Padahal, kontrak pengadaan militer tersebut sudah ditandatangani secara sah oleh kedua belah pihak sejak bulan April 2018 silam.
Kementerian Luar Negeri Norwegia secara sepihak mencabut sejumlah lisensi khusus terkait ekspor teknologi pertahanan ke Malaysia sejak Mei lalu.
Langkah boikot tersebut otomatis memblokir proses pengiriman rudal jenis Naval Strike Missiles (NSM) yang sudah terjadwal.
"Jika begini cara para mitra di Barat memperlakukan negara-negara di Global South ... maka ini tidak pertanda baik bagi masa depan kita sebagai mitra dan sahabat yang setara," tegas Anwar. "Seperti pepatah kuno Belanda, 'kepercayaan datang dengan berjalan kaki dan pergi dengan menunggang kuda'."
Anwar secara tegas menyatakan bahwa jalinan kontrak resmi yang sudah disepakati antarnegara merupakan kewajiban mutlak yang mengikat secara hukum.
Keberlangsungan kemitraan strategis masa depan kini dipertaruhkan akibat inkonsistensi kebijakan luar negeri yang merugikan negara berkembang.
"Dokumen draf perjanjian tersebut tidak boleh draf diperlakukan layaknya potongan kertas konfeti draf yang bisa didraf lalu dibuang begitu saja secara sembarangan," tegasnya.
#FAQ: Pertanyaan Seputar PM Anwar Ibrahim Kecam Standar Ganda Barat
Apa penyebab utama PM Anwar Ibrahim mengkritik negara Barat?
PM Anwar Ibrahim mengecam sikap standar ganda negara-negara Barat dalam penegakan hukum internasional, yang dipicu langsung oleh pembatalan sepihak kontrak alutsista oleh Norwegia.Jenis senjata apa yang batal dikirim oleh Norwegia ke Malaysia?
Norwegia membatalkan pengiriman rudal jenis Naval Strike Missiles (NSM) setelah mencabut lisensi ekspor teknologi pertahanan mereka ke Malaysia.Kapan kontrak pengadaan militer antara Malaysia dan Norwegia pertama kali disepakati?
Kontrak pengadaan alutsista komersial tersebut telah ditandatangani secara sah sejak bulan April 2018 silam.#AnwarIbrahim #HukumInternasional #GeopolitikGlobal #NavalStrikeMissiles #GlobalSouth



