- Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung percepatan pembangunan 600 unit Rumah Hunian Danantara (Huntara) di Aceh Tamiang yang ditargetkan rampung pada 8 Januari 2026.
- Proyek hunian darurat ini merupakan hasil kolaborasi masif lintas BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia untuk menyediakan tempat tinggal layak, akses air bersih, listrik gratis, dan internet.
- Pemerintah menargetkan total 15.000 unit Huntara akan terbangun dalam tiga bulan ke depan sebagai solusi transisi pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh.
LANGGAMPOS.COM - ACEH TAMIANG – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Aceh Tamiang untuk meninjau langsung progres pembangunan Rumah Hunian Danantara (Huntara).
Proyek strategis ini merupakan langkah nyata pemerintah dalam menyediakan hunian layak sementara guna memastikan pemulihan kehidupan masyarakat terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh dapat berjalan secara berkelanjutan.
Dimulai sejak 24 Desember 2025, pembangunan hunian ini menunjukkan akselerasi yang signifikan di awal tahun 2026.
Sebanyak 600 unit Huntara dijadwalkan akan diserahterimakan kepada Pemerintah Daerah pada 8 Januari 2026 untuk segera dihuni warga.
Sebanyak 600 unit Huntara dijadwalkan akan diserahterimakan kepada Pemerintah Daerah pada 8 Januari 2026 untuk segera dihuni warga.
Secara keseluruhan, pemerintah mematok target ambisius yakni penyelesaian 15.000 unit hunian dalam kurun waktu tiga bulan ke depan.
Fasilitas yang disediakan pun tidak main-main; mencakup struktur bangunan yang aman, sanitasi memadai, klinik kesehatan, taman bermain, hingga akses listrik dan internet tanpa biaya.
Dalam kunjungannya, Presiden Prabowo menegaskan komitmen negara untuk hadir di tengah kesulitan rakyat secara cepat dan efisien.
"Danantara Indonesia membuktikan bahwa kita bisa membangun 600 hunian, semua pihak telah bekerja dengan gemilang, dengan cepat," ujar Prabowo dikutip Kamis (1/1/2026).
Senada dengan Presiden, Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari sinergi kuat bersama berbagai BUMN. Ia menyebut BUMN bergerak sangat cepat di lapangan meski dalam kondisi yang menantang.
"Target pembangunan Rumah Hunian Danantara di Aceh Tamiang ditetapkan secara jelas sejak awal, dan capaian hingga 1 Januari 2026 menunjukkan komitmen kuat seluruh pihak untuk menepatinya. BUMN bergerak cepat, bekerja di lapangan dalam kondisi yang tidak mudah, untuk memastikan masyarakat segera mendapatkan hunian yang layak," jelas Rosan.
Ia menambahkan bahwa proyek ini adalah bagian dari peta jalan pemulihan yang lebih luas.
"Danantara Indonesia membuktikan bahwa kita bisa membangun 600 hunian, semua pihak telah bekerja dengan gemilang, dengan cepat," ujar Prabowo dikutip Kamis (1/1/2026).
Senada dengan Presiden, Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari sinergi kuat bersama berbagai BUMN. Ia menyebut BUMN bergerak sangat cepat di lapangan meski dalam kondisi yang menantang.
"Target pembangunan Rumah Hunian Danantara di Aceh Tamiang ditetapkan secara jelas sejak awal, dan capaian hingga 1 Januari 2026 menunjukkan komitmen kuat seluruh pihak untuk menepatinya. BUMN bergerak cepat, bekerja di lapangan dalam kondisi yang tidak mudah, untuk memastikan masyarakat segera mendapatkan hunian yang layak," jelas Rosan.
Ia menambahkan bahwa proyek ini adalah bagian dari peta jalan pemulihan yang lebih luas.
"Huntara ini menjadi jembatan penting menuju fase hunian permanen dan pemulihan ekonomi masyarakat. Karena itu, kualitas dan keberlanjutan tetap menjadi perhatian utama," tambahnya.
Proyek besar ini melibatkan koordinasi ketat di bawah payung BUMN Peduli. PT Perkebunan Nusantara III (Persero) berperan menyediakan lahan, sementara tujuh BUMN Karya yang dipimpin oleh PT Hutama Karya (Persero) fokus pada konstruksi modular.
Proyek besar ini melibatkan koordinasi ketat di bawah payung BUMN Peduli. PT Perkebunan Nusantara III (Persero) berperan menyediakan lahan, sementara tujuh BUMN Karya yang dipimpin oleh PT Hutama Karya (Persero) fokus pada konstruksi modular.
Perusahaan lain seperti PT PLN (Persero) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk memastikan ketersediaan infrastruktur energi dan komunikasi.
Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, turut memberikan apresiasi atas disiplin eksekusi tim di lapangan yang bekerja siang malam demi mengejar target waktu yang sangat ketat.
"Pembangunan Rumah Hunian Danantara dilakukan dalam rentang waktu yang sangat terbatas. BUMN bekerja dengan intensitas tinggi, melakukan percepatan konstruksi, pengadaan material, hingga pengawasan mutu secara simultan agar target dapat tercapai sebelum awal tahun," ungkap Dony.
Dony menilai kolaborasi ini adalah bukti nyata peran negara dalam aksi kemanusiaan. "Ini adalah contoh konkret bagaimana BUMN menjalankan peran sebagai perpanjangan tangan negara, bukan hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga pada kepentingan sosial dan kemanusiaan," tegasnya.
Langkah ini menjadi krusial mengingat Aceh Tamiang mengalami dampak yang sangat parah akibat bencana pada November 2025 lalu.
Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, turut memberikan apresiasi atas disiplin eksekusi tim di lapangan yang bekerja siang malam demi mengejar target waktu yang sangat ketat.
"Pembangunan Rumah Hunian Danantara dilakukan dalam rentang waktu yang sangat terbatas. BUMN bekerja dengan intensitas tinggi, melakukan percepatan konstruksi, pengadaan material, hingga pengawasan mutu secara simultan agar target dapat tercapai sebelum awal tahun," ungkap Dony.
Dony menilai kolaborasi ini adalah bukti nyata peran negara dalam aksi kemanusiaan. "Ini adalah contoh konkret bagaimana BUMN menjalankan peran sebagai perpanjangan tangan negara, bukan hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga pada kepentingan sosial dan kemanusiaan," tegasnya.
Langkah ini menjadi krusial mengingat Aceh Tamiang mengalami dampak yang sangat parah akibat bencana pada November 2025 lalu.
Kerusakan infrastruktur yang masif dan hilangnya tempat tinggal bagi ribuan jiwa menjadikan penyediaan Huntara sebagai prioritas utama.
Melalui program ini, pemerintah berharap masyarakat Aceh Tamiang dapat segera bangkit dan menjalani kehidupan secara bermartabat melalui penguatan ekonomi lokal pada tahap selanjutnya.
(*)

