Iklan

Thursday, January 1, 2026, 9:07 PM WIB
Last Updated 2026-01-01T14:07:43Z
News

Sektor Komoditas dan Hilirisasi Menjadi Kunci Pertumbuhan Ekspor Indonesia Tahun 2026

Sektor Komoditas dan Hilirisasi Menjadi Kunci Pertumbuhan Ekspor Indonesia Tahun 2026



  • Sektor Andalan: Komoditas tambang, energi, dan perkebunan diprediksi tetap menjadi pilar utama ekspor Indonesia pada tahun 2026.
  • Risiko Eksternal: Tren pelemahan harga komoditas global dan ketidakpastian perang dagang membayangi penerimaan negara.
  • Sentimen AI: Fenomena siklus super infrastruktur Artificial Intelligence (AI) berpotensi menjadi "booster" baru bagi permintaan logam dan energi nasional.





LANGGAMPOS.COM - Proyeksi ekonomi Indonesia tahun 2026 menunjukkan optimisme pada sektor komoditas tambang, energi, dan perkebunan yang diprediksi tetap menjadi mesin utama pertumbuhan ekspor nasional di tengah tantangan perlambatan harga global. 

Meski normalisasi pengiriman terjadi pasca-akselerasi tahun 2025, integrasi hilirisasi industri dan lonjakan permintaan material pendukung infrastruktur digital global diyakini akan menjaga stabilitas neraca perdagangan serta memperkuat fundamental ekonomi dalam menghadapi volatilitas pasar eksternal.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memberikan pandangan bahwa kinerja ekspor tahun 2026 akan bergerak lebih moderat. 

Ia menyoroti adanya normalisasi setelah fase percepatan di tahun sebelumnya, di mana produk sawit serta besi dan baja tetap memegang peranan vital. 

Namun, ia mewanti-wanti adanya tekanan dari tren harga komoditas utama seperti batu bara dan nikel.

"Tantangannya, eksternal masih rentan karena perang dagang dan perlambatan ekonomi mitra dagang besar, ditambah tren pelemahan sebagian harga komoditas yang dapat menekan penerimaan ekspor," ucap Josua kepada CNBC Indonesia dikutip pada Rabu (31/12/2025).

Senada dengan hal tersebut, Ekonom Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, juga melihat risiko penurunan pendapatan negara akibat melandainya harga komoditas energi dan perkebunan. Penurunan harga ini dinilai berdampak langsung pada likuiditas sektor korporasi.

"Harga komoditas yang lebih rendah-terutama batubara, minyak sawit, dan logam-mengurangi pendapatan ekspor dan meredam arus kas perusahaan," ucapnya.

Namun, Fakhrul memberikan perspektif menarik mengenai peluang "kejutan" dari sektor teknologi. Masifnya pembangunan pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dunia menciptakan kebutuhan besar akan material tambang.

"Siklus super infrastruktur AI dan pusat data meningkatkan permintaan global untuk logam, energi, dan komoditas terkait bandwidth-memperkuat pendapatan ekspor Indonesia."

Menurutnya, lonjakan harga komoditas yang didorong oleh booming komputasi ini akan mendukung margin perusahaan-perusahaan di tanah air.

"Logam seperti nikel, tembaga, bauksit, timah. Kemudian dari batubara dan minyak sawit semuanya mendapat manfaat dari siklus persediaan global yang membaik," imbuhnya.

Meskipun potensi ini besar, Fakhrul memberikan catatan kritis mengenai keterbatasan sumber daya manusia ahli yang mampu mendukung pembangunan infrastruktur teknologi canggih tersebut.

"Pada saat yang sama, talenta teknis, insinyur, spesialis listrik, arsitek cloud, tetap langka."

Di sisi lain, pergeseran paradigma investasi juga menjadi sorotan. Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution, Ronny Sasmita, mengamati bahwa daya tarik investasi kini mulai beralih dari sekadar bahan mentah menuju sektor yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

"Investasi, khususnya di sektor hilirisasi, energi, dan infrastruktur logistik, diperkirakan akan menjadi pembeda, bukan lagi ekspor komoditas bahan mentah," kata Surya (Ronny) kepada CNBC Indonesia.

Langkah hilirisasi ini diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan ekonomi nasional saat harga komoditas mentah mengalami fluktuasi tajam di pasar internasional.

 Keberhasilan Indonesia dalam mengonversi bahan mentah menjadi produk jadi akan menentukan seberapa kuat daya saing ekspor di masa depan.


(*)
Advertisement
close