Iklan

Friday, February 13, 2026, 9:20 PM WIB
Last Updated 2026-02-13T14:20:26Z
Lifestyle

Dampak Buruk Kesepian bagi Kualitas Tidur dan Kesehatan Mental

Dampak Buruk Kesepian bagi Kualitas Tidur dan Kesehatan Mental








  • Penelitian terbaru dari Oregon State University mengungkap adanya kaitan erat antara perasaan kesepian dengan frekuensi mimpi buruk.
  • Kondisi psikologis yang tertekan akibat kurangnya koneksi sosial membuat otak tetap siaga meski sedang beristirahat.
  • Mimpi buruk sering kali muncul pada fase tidur REM sebagai bentuk pelampiasan beban emosional yang tidak terkelola di siang hari.




LANGGAMPOS.COM - Banyak orang mengira mimpi buruk hanyalah bunga tidur biasa akibat kelelahan fisik, namun fakta medis menunjukkan adanya akar masalah emosional yang lebih dalam. 

Sebuah studi dari Oregon State University baru-baru ini memperingatkan bahwa rasa kesepian yang persisten dapat menjadi pemicu utama seseorang sering mengalami mimpi buruk.

Mereka yang merasa terisolasi secara sosial cenderung membawa beban stres ke alam bawah sadar. Hal ini mengakibatkan otak tetap dalam kondisi waspada tinggi, sehingga mengganggu stabilitas fase tidur seseorang.

Psikolog klinis Dr. Vanessa Kennedy menjelaskan bahwa kesepian bukan sekadar soal status sendirian secara fisik. 

Menurutnya, kesepian adalah perasaan tertekan akibat kurangnya hubungan yang terasa aman, dekat, dan penuh kepercayaan.

“Kesepian adalah perasaan terisolasi atau tidak memiliki hubungan yang saling terhubung dan dapat dipercaya,” jelasnya.

Fenomena ini bisa muncul jika seseorang merasa tidak memiliki dukungan bermakna atau merasa takut untuk menjalin kedekatan dengan orang lain. Jika kondisi ini menetap, dampaknya akan mulai merusak kualitas hidup dan suasana hati.

Secara teknis, mimpi buruk paling sering terjadi pada fase tidur Rapid Eye Movement (REM). 

Dr. Meghan Marcum, seorang psikolog klinis, menyebutkan bahwa pada tahap tidur terdalam inilah alam bawah sadar bekerja paling aktif.

“Penelitian menunjukkan mimpi buruk sering muncul saat tidur REM, ketika alam bawah sadar kita sangat aktif,” kata Marcum.

Pada fase tersebut, berbagai emosi, ingatan, hingga ketakutan yang terpendam akan muncul dalam bentuk visual yang intens. 

Jika stres atau kecemasan tidak dikelola dengan baik saat terjaga, otak akan menggunakan mimpi sebagai cara untuk melampiaskan beban emosional tersebut.

Hubungan antara kesepian dan gangguan tidur ini semakin diperparah oleh minimnya dukungan sosial yang diterima individu tersebut.

Tanpa adanya tempat berbagi, tekanan psikologis akan terus menumpuk dan bermanifestasi menjadi gangguan tidur yang mengganggu kesehatan mental secara jangka panjang.

Pakar menyarankan agar setiap individu mulai memperhatikan kesehatan hubungan sosial sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas istirahat. 

Mengelola stres melalui interaksi yang sehat dapat membantu otak lebih tenang saat memasuki fase tidur lelap.


(*)
Advertisement
close