Iklan

Wednesday, May 20, 2026, 9:55 AM WIB
Last Updated 2026-05-20T02:55:30Z
atm cryptoCryptocrypto news

Badai Regulasi dan Tekanan Keuangan Memaksa Bitcoin Depot Mengajukan Kebangkrutan

Badai Regulasi dan Tekanan Keuangan Memaksa Bitcoin Depot Mengajukan Kebangkrutan



  • Bitcoin Depot resmi mengajukan kebangkrutan Chapter 11 di AS akibat lingkungan regulasi yang kian mempersempit ruang gerak industri ATM kripto.
  • Kinerja keuangan perusahaan anjlok drastis pada kuartal pertama 2026 dengan penurunan pendapatan mencapai 49 persen secara tahunan.
  • Perusahaan mengambil langkah ekstrem dengan menonaktifkan seluruh jaringan mesin ATM Bitcoin miliknya, termasuk merestrukturisasi unit usaha di Kanada.

LANGGAMPOS.COM - Langkah drastis diambil oleh salah satu pelopor penyedia ATM kripto terbesar di Amerika Serikat, Bitcoin Depot, setelah resmi menghentikan seluruh operasionalnya.

Perusahaan secara mengejutkan mengajukan permohonan pailit sukarela Chapter 11 ke Pengadilan Kebangkrutan AS untuk Distrik Selatan Texas pada hari Minggu kemarin.

Proses hukum ini sengaja ditempuh manajemen guna memfasilitasi penjualan aset serta penghentian aktivitas bisnis perusahaan secara bertahap dan tertib.

Langkah fatal ini memicu reaksi cepat dari lembaga keuangan global yang langsung menarik dukungan investasi mereka dari perusahaan berkode saham BTM tersebut.

H.C. Wainwright, lembaga sekuritas terkemuka, pada hari Senin langsung menurunkan peringkat saham Bitcoin Depot menjadi Neutral dari yang sebelumnya berada di posisi Buy.

Analis di lembaga tersebut bahkan mencabut target harga saham yang sebelumnya dipatok pada angka $4 setelah pengumuman kebangkrutan tersebut keluar.

Pihak manajemen Bitcoin Depot mengungkapkan bahwa pengetatan regulasi bagi operator anjungan tunai mandiri kripto di AS menjadi pemantik utama kolapsnya bisnis mereka.

Aturan kepatuhan yang kian mencekik di tingkat negara bagian membuat biaya operasional membengkak, sementara batas nominal transaksi justru semakin diperkecil.

Kondisi tersebut diperparah oleh penurunan margin biaya transaksi yang diizinkan serta rentetan tuntutan hukum yang terus menguras kas internal perusahaan.

Tekanan berat ini langsung tercermin dalam laporan keuangan pendahuluan untuk periode kuartal pertama pada tahun 2026 yang baru saja dirilis.

Pendapatan bersih Bitcoin Depot dilaporkan merosot tajam ke angka $83,4 juta, angka yang jauh dari ekspektasi pasar global saat ini.

Jumlah tersebut menunjukkan penurunan performa sebesar 28 persen jika dibandingkan dengan capaian pada kuartal sebelumnya secara berturut-turut.

Bila disandingkan secara tahunan (year-on-year), performa pendapatan perusahaan penyedia layanan aset digital ini bahkan terjun bebas hingga 49 persen.

Realitas pahit ini berada di bawah target internal korporasi yang awalnya memproyeksikan penurunan tahunan hanya berkisar pada angka 30 hingga 40 persen.

Sejumlah analis pasar di platform InvestingPro sebenarnya telah mendeteksi sinyal bahaya ini dan memperkirakan penurunan penjualan sejak awal tahun berjalan.

Data historis menunjukkan bahwa perusahaan ini memang gagal mencetak keuntungan bersih yang konsisten selama periode dua belas bulan ke belakang.

Kabar buruk ini langsung direspons negatif oleh lantai bursa yang memicu aksi jual massal oleh para pemegang saham dalam waktu singkat.

Nilai saham perusahaan terpangkas hingga 83 persen hanya dalam kurun waktu satu minggu pasca-pengumuman pailit tersebut disebarkan ke publik.

Kejatuhan harga saham yang masif ini menyisakan nilai kapitalisasi pasar Bitcoin Depot di angka yang sangat minim, yakni hanya sebesar $8,73 juta.

Melihat laporan laba kotor, margin yang dikantongi perusahaan menyusut drastis menjadi $4,5 juta dari yang sebelumnya mencapai $17,3 juta di akhir 2025.

Penurunan dramatis itu membuat margin kotor perusahaan ikut merosot tajam ke level 5,4 persen, dari posisi sebelumnya yang cukup kokoh di angka 14,9 persen.

Di sisi lain, kerugian operasional yang diderita korporasi justru semakin melebar menjadi $12,0 juta dari posisi kuartal lalu sebesar $4,1 juta.

Sebagai konsekuensi langsung dari dokumen kebangkrutan yang diajukan, seluruh jaringan mesin ATM Bitcoin milik perusahaan langsung dimatikan total sejak pekan lalu.

Kebijakan penutupan ini tidak hanya berlaku di domestik, namun juga berdampak langsung pada seluruh unit entitas usaha milik perusahaan yang berada di Kanada.

Manajemen menegaskan kesiapan mereka untuk memulai proses restrukturisasi serupa di Kanada guna menyelaraskan langkah hukum dengan pengadilan kepunahan di AS.

Seluruh operasional internasional di luar wilayah Amerika Utara juga dipastikan akan dihentikan total sesuai dengan koridor hukum yang berlaku di negara masing-masing.

Di tengah situasi krusial ini, perusahaan melakukan perombakan besar-besaran pada struktur manajemen puncak demi mengawal proses transisi bisnis yang sedang berjalan.

Manajemen resmi menunjuk Tony Gagliardi sebagai Chief Compliance Officer baru yang memegang tanggung jawab penuh atas pengawasan program kepatuhan internal.

Selain itu, posisi krusial Chief Executive Officer (CEO) sekaligus Ketua Dewan yang baru kini resmi diamanahkan kepada sosok bankir senior, Alex Holmes.

Alex Holmes hadir menggantikan posisi Scott Buchanan yang sebelumnya menduduki kursi kepemimpinan tertinggi di perusahaan penyedia ATM kripto tersebut.

Rekam jejak Holmes di industri keuangan dinilai sangat mumpuni berkat pengalaman manajerialnya yang panjang saat memimpin MoneyGram International dan United Texas Bank.

Ironisnya, beberapa waktu sebelum kabar pailit ini mencuat, H.C. Wainwright sempat optimistis dengan menaikkan target harga saham perusahaan menjadi $4,00 dari $3,50.

Kala itu, mereka optimistis mempertahankan rekomendasi beli karena menganggap Bitcoin Depot mampu bertahan di tengah volatilitas pasar mata uang kripto global.

Namun, hantaman regulasi regional yang berubah drastis terbukti menjadi faktor penentu yang meruntuhkan seluruh proyeksi pertumbuhan jangka panjang yang telah disusun.


(*)
Advertisement
close