- Fenomena Schooling Without Learning: Prof. Suyanto menyoroti sindiran Bank Dunia tentang kondisi pendidikan Indonesia di mana siswa hadir secara fisik namun gagal menyerap kompetensi bermakna.
- Pentingnya Growth Mindset Guru: Keberhasilan kurikulum sangat bergantung pada kemampuan guru mengemas materi yang kaku menjadi pembelajaran yang hidup dan relevan dengan kehidupan nyata.
- Visi dan Karakter: Refleksi atas perjuangan masa kecil Prof. Suyanto menunjukkan bahwa kemandirian, daya juang, dan doa orang tua adalah fondasi utama yang sering hilang di generasi saat ini.
LANGGAMPOS.COM - Dunia pendidikan Indonesia tengah menghadapi tantangan besar yang sering kali tidak terlihat secara kasat mata di permukaan kelas.
Fenomena "sekolah tapi tidak belajar" atau schooling without learning kini menjadi sorotan tajam bagi para pakar pendidikan nasional.
Ketua Dewan Pendidikan Nasional, Prof. Suyanto, Ph.D., mengungkapkan keprihatinannya terhadap proses belajar mengajar yang kehilangan ruh dan kesadaran diri.
Banyak siswa yang menjalani rutinitas harian di sekolah tanpa memahami tujuan akhir atau manfaat nyata dari materi yang mereka pelajari setiap harinya.
Pembelajaran sering kali hanya berhenti pada tahap hafalan tanpa pernah sampai pada tingkat pemahaman mendalam yang bisa diaplikasikan.
Prof. Suyanto menekankan bahwa kunci utama perubahan ini tidak terletak pada kemegahan gedung sekolah, melainkan pada kualitas interaksi di dalam kelas.
Guru memegang peranan krusial sebagai aktivator, motivator, sekaligus pembangun kultur (culture builder) yang menentukan masa depan anak didik.
"Guru yang baik bisa mengemas kurikulum yang amburadul menjadi program pelajaran yang hebat," ujar Prof. Suyanto memberikan ilustrasi betapa pentingnya peran pendidik dalam Podcast Oase.
Sebaliknya, kurikulum secanggih apa pun akan menjadi sia-sia jika berada di tangan guru yang tidak memiliki gairah untuk bertransformasi.
Pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam kini terus didorong untuk memastikan siswa memiliki kesadaran penuh dalam menyerap setiap ilmu.
Berikut adalah langkah-langkah dan proses krusial untuk memperbaiki ekosistem pendidikan nasional:
- Membangun Kesadaran Diri (Self-Awareness): Siswa harus diajak memahami mengapa mereka harus mempelajari suatu materi sebelum masuk ke detail teknis.
- Implementasi Kerangka 8334: Mengacu pada delapan profil lulusan, tiga prinsip pembelajaran, tiga pengalaman belajar, dan empat kerangka kerja pembelajaran.
- Mendorong Refleksi Berkala: Guru dan siswa perlu melakukan evaluasi atas apa yang telah dilakukan dan apa yang harus diperbaiki ke depannya.
- Integrasi Kehidupan Nyata: Menghubungkan rumus matematika atau teori sains dengan fenomena sehari-hari agar ilmu terasa lebih bermakna.
- Pemberdayaan LPTK: Menjadikan lembaga pendidikan guru sebagai garda terdepan dalam mencetak pendidik yang memiliki growth mindset.
Prof. Suyanto juga menceritakan kisah inspiratif ibundanya yang buta huruf namun memiliki visi luar biasa untuk menyekolahkan anak-anaknya.
Visi tersebut lahir dari pengamatan sederhana sang ibu saat melihat sejuknya ubin di sebuah pabrik gula yang mewah kala itu.
Visi tersebut lahir dari pengamatan sederhana sang ibu saat melihat sejuknya ubin di sebuah pabrik gula yang mewah kala itu.
Keteguhan hati dan kerja keras fisik yang luar biasa menjadi modal utama Prof. Suyanto hingga berhasil menempuh pendidikan tinggi di Amerika Serikat.
Ia mengingatkan bahwa generasi masa kini harus tetap memiliki daya juang meski hidup di tengah kenyamanan teknologi dan kecerdasan buatan.
Transisi dari fixed mindset ke growth mindset di kalangan pendidik menjadi syarat mutlak agar transformasi pendidikan tidak sekadar menjadi wacana di atas kertas.
Kesejahteraan guru pun tetap menjadi isu sentral yang harus diselesaikan agar mereka bisa fokus penuh pada pengembangan kapasitas profesionalnya.
Pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, melainkan tentang menyiapkan manusia yang siap menghadapi tantangan zaman dengan karakter yang kuat.
Dengan optimisme dan langkah yang konsisten, Indonesia diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya bersekolah, tetapi benar-benar belajar untuk kehidupan.
(*)
Ia mengingatkan bahwa generasi masa kini harus tetap memiliki daya juang meski hidup di tengah kenyamanan teknologi dan kecerdasan buatan.
Transisi dari fixed mindset ke growth mindset di kalangan pendidik menjadi syarat mutlak agar transformasi pendidikan tidak sekadar menjadi wacana di atas kertas.
Kesejahteraan guru pun tetap menjadi isu sentral yang harus diselesaikan agar mereka bisa fokus penuh pada pengembangan kapasitas profesionalnya.
Pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, melainkan tentang menyiapkan manusia yang siap menghadapi tantangan zaman dengan karakter yang kuat.
Dengan optimisme dan langkah yang konsisten, Indonesia diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya bersekolah, tetapi benar-benar belajar untuk kehidupan.
(*)


