Iklan

Sunday, May 31, 2026, 9:24 PM WIB
Last Updated 2026-05-31T14:24:18Z
News

Ketahanan Fiskal Terjaga, Menkeu Optimistis Pelemahan Rupiah Tak Ganggu Ekonomi RI

Ketahanan Fiskal Terjaga, Menkeu Optimistis Pelemahan Rupiah Tak Ganggu Ekonomi RI


  • Menteri Keuangan menegaskan depresiasi rupiah saat ini belum mengganggu stabilitas fiskal dan aktivitas ekonomi nasional.
  • Ekonomi Indonesia tumbuh tercepat kedua di G20, menjadi daya tarik utama bagi foreign direct investment (FDI).
  • Redanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah diprediksi bakal memperkuat nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan ke depan.

LANGGAMPOS.COM - Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini memicu kekhawatiran publik terkait stabilitas ekonomi domestik.

Namun, Pemerintah memastikan bahwa fluktuasi mata uang garuda tersebut masih berada dalam batas aman dan terkendali.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, penurunan nilai tukar rupiah saat ini sama sekali belum mengoreksi kesehatan fiskal negara.

Aktivitas roda perekonomian nasional pun dipastikan tetap berjalan normal tanpa hambatan yang berarti.

Antisipasi Anggaran dan Kekuatan Fiskal

Kunci dari kokohnya keuangan negara saat ini terletak pada akurasi perencanaan anggaran yang matang.

Pemerintah rupanya telah mengalkulasi potensi risiko koreksi kurs ini jauh-jauh hari sebelum lonjakan terjadi.

"Dari sisi anggaran, kami telah menghitung depresiasi rupiah mendekati level saat ini, jadi anggaran saya masih oke meskipun rupiah melemah ke level saat ini," kata Purbaya dalam Konferensi Pers di Jakarta, Minggu (31/5/2026).

Melalui simulasi risiko tersebut, APBN memiliki bantalan yang cukup kuat untuk meredam dampak negatif pelemahan valuta asing.

Fundamental Ekonomi dan Daya Tarik Investasi

Purbaya menjabarkan bahwa secara teoritis hukum ekonomi, mata uang suatu negara akan bergerak searah dengan kinerja riil ekonominya.

Jika fundamental ekonomi sebuah negara kokoh, maka nilai tukar mata uangnya lambat laun akan mengikuti tren positif tersebut.

Oleh karena itu, fokus utama Kementerian Keuangan saat ini adalah menjaga agar momentum pertumbuhan ekonomi domestik tetap stabil.

Skenario penguatan ini dipersiapkan untuk target jangka pendek, jangka menengah, hingga jangka panjang.

"Itu pada akhirnya akan memperkuat mata uang hampir secara otomatis karena saya percaya investor, terutama FDI dan investor asing, akan suka berinvestasi di negara yang menawarkan pertumbuhan paling menjanjikan di kawasan ini," ujar Purbaya.

Posisi Indonesia di Panggung G20

Optimisme tersebut bukan tanpa alasan jika melihat rapor mentereng pertumbuhan ekonomi Indonesia di kancah internasional.

Saat ini, performa ekonomi Indonesia berhasil menduduki peringkat kedua tercepat di antara negara-negara anggota G20, tepat di bawah India.

Prestasi ini menjadi indikator kuat bahwa daya saing dan prospek pasar domestik masih sangat menjanjikan bagi para pelaku usaha.

Berkat modalitas tersebut, penurunan nilai tukar yang terjadi temporer ini belum memberikan efek rem bagi dinamika bisnis nasional.

Sentimen Positif dari Meredanya Konflik Global

Selain faktor internal, angin segar juga berembus dari konjungtur geopolitik global yang mulai menunjukkan tanda-tanda kepastian.

Ketegangan di Timur Tengah yang sempat menekan pasar keuangan dunia dikabarkan mulai menemui titik terang menuju perdamaian.

"Dan jika kita melihat Bloomberg dan Al Jazeera, berita mengatakan bahwa AS, Iran, dan Israel sangat dekat untuk mencapai kesepakatan, bukan? Jadi prospek perdamaian, kondisi global yang lebih baik ada di sana. Dan saya percaya dalam dua atau tiga bulan ke depan akan jauh lebih baik daripada sekarang," kata Purbaya.

Kondisi eksternal yang kian kondusif ini diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan pasar global terhadap aset-aset berbasis rupiah.

Pemerintah meyakini, kombinasi antara APBN yang tangguh dan meredanya tensi dunia akan memicu rebound nilai tukar dalam waktu dekat.


(*)
Advertisement
close