- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan APBN masih aman menopang subsidi energi di tengah pelemahan rupiah.
- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat menyentuh level Rp17.730 pada perdagangan Selasa siang.
- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) masih di bawah batas aman anggaran.
LANGGAMPOS.COM - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus berlanjut belakangan ini mulai memicu kekhawatiran publik terkait potensi lonjakan harga komoditas dalam negeri.
Meski tekanan terhadap mata uang Garuda kian nyata, pemerintah bergerak cepat memberikan kepastian bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi akan tetap stabil.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, gejolak kurs ini tidak akan berdampak pada harga jual bensin maupun solar yang disubsidi oleh negara.
Menurut Purbaya, kondisi kas negara saat ini masih berada dalam posisi yang tangguh untuk memikul beban subsidi energi nasional.
Berdasarkan data pasar dari Refinitiv pada perdagangan Selasa (19/5/2026) pukul 13.18 WIB, mata uang rupiah terpantau terdepresiasi sebesar 0,51 persen ke posisi Rp17.730 per dolar AS.
Sesi tersebut memperpanjang tren koreksi tajam dari hari sebelumnya, di mana rupiah sempat ditutup melemah signifikan hingga 1,03 persen ke level Rp17.640 per dolar AS.
Menyikapi situasi tersebut, Purbaya mengungkapkan bahwa Kementerian Keuangan telah memetakan berbagai simulasi risiko fiskal guna menghadapi fluktuasi mata uang global sejak awal tahun.
Ia meyakinkan publik bahwa instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memiliki bantalan yang cukup kuat untuk menjaga daya beli masyarakat.
"Anggaran udah kita hitung sebelumnya itu," ujarnya saat ditemui usai Rapat Koordinasi di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Lewat perhitungan matang tersebut, pemerintah menjamin tidak ada rencana untuk mengatrol harga BBM penugasan ataupun subsidi dalam waktu dekat.
Skenario postur anggaran yang dirancang sejak awal dinilai telah memperhitungkan berbagai dinamika serta ketidakpastian di pasar finansial global.
"Nggak (ada kenaikan harga)," jawab singkat Purbaya menanggapi pertanyaan soal potensi perubahan harga BBM subsidi.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turut memperkuat argumen Menkeu dengan memaparkan data realisasi rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP).
Bahlil menjelaskan bahwa pergerakan harga minyak global sepanjang tahun ini masih berada di dalam batas kalkulasi aman pemerintah.
"Saya dalam arahan Pak Presiden Prabowo telah merumuskan untuk ICP sampai US$ 100 (per barel) rata-rata dari Januari sampai sekarang. Kalau sampai sekarang kan naik turun, ada US$80, US$ 90, US$117, rata-rata (ICP) sekarang itu sekitar US$80-81 dari Januari-sekarang. Jadi belum US$100 (per barel) rata-rata dan belum ada kenaikan, insyaallah tidak akan naik (harga BBM subsidi)," kata Bahlil, Selasa (19/5/2026).
Komitmen untuk menahan harga BBM bersubsidi ini diproyeksikan akan terus dipertahankan pemerintah, setidaknya hingga pengujung tahun 2026 mendatang.
Selain memastikan harga tetap, Bahlil juga menepis spekulasi yang beredar di masyarakat mengenai rencana penghapusan subsidi energi.
Ia menegaskan, baik dari sisi pasokan pasar maupun dari sisi ketersediaan dana bantuan energi bagi masyarakat, seluruhnya masih berada dalam kondisi yang sangat aman.
"Insya Allah (harga BBM subsidi tetap) sampai akhir tahun (2026). Tidak ada konsep pemerintah seperti itu (penghapusan BBM subsidi) ya. (Anggaran) cukup dong," tutupnya.
"Saya dalam arahan Pak Presiden Prabowo telah merumuskan untuk ICP sampai US$ 100 (per barel) rata-rata dari Januari sampai sekarang. Kalau sampai sekarang kan naik turun, ada US$80, US$ 90, US$117, rata-rata (ICP) sekarang itu sekitar US$80-81 dari Januari-sekarang. Jadi belum US$100 (per barel) rata-rata dan belum ada kenaikan, insyaallah tidak akan naik (harga BBM subsidi)," kata Bahlil, Selasa (19/5/2026).
Komitmen untuk menahan harga BBM bersubsidi ini diproyeksikan akan terus dipertahankan pemerintah, setidaknya hingga pengujung tahun 2026 mendatang.
Selain memastikan harga tetap, Bahlil juga menepis spekulasi yang beredar di masyarakat mengenai rencana penghapusan subsidi energi.
Ia menegaskan, baik dari sisi pasokan pasar maupun dari sisi ketersediaan dana bantuan energi bagi masyarakat, seluruhnya masih berada dalam kondisi yang sangat aman.
"Insya Allah (harga BBM subsidi tetap) sampai akhir tahun (2026). Tidak ada konsep pemerintah seperti itu (penghapusan BBM subsidi) ya. (Anggaran) cukup dong," tutupnya.
(*)

