Iklan

Monday, December 15, 2025, 4:58 PM WIB
Last Updated 2025-12-15T09:58:20Z
Business

Cari Kerja Makin Susah Mahasiswa Baru Wajib Kuasai AI Sejak Awal Kuliah

Cari Kerja Makin Susah Mahasiswa Baru Wajib Kuasai AI Sejak Awal Kuliah


  • Dunia kerja makin kompetitif akibat gelombang PHK dan disrupsi teknologi
  • Purdue University mewajibkan kompetensi dasar AI bagi seluruh mahasiswa S1 mulai 2026
  • Kurikulum AI dirancang selaras kebutuhan industri tanpa menambah beban kredit kuliah

LANGGAMPOS.COM - Pasar kerja global kian ketat, angka PHK meningkat, dan lulusan perguruan tinggi menghadapi persaingan kerja yang semakin keras. Di tengah kondisi itu, kemampuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini menjadi modal penting bagi mahasiswa baru agar tetap relevan dan bernilai di mata industri.

Tekanan dunia kerja yang terus berubah mendorong institusi pendidikan tinggi untuk berbenah secara fundamental. Salah satu langkah strategis datang dari Purdue University, Amerika Serikat, yang memutuskan mewajibkan seluruh mahasiswa strata satu untuk memiliki kompetensi dasar AI mulai tahun akademik 2026. Kebijakan ini dilaporkan Forbes dan dikutip Times of India pada Senin (15/12/2025).

Kebijakan tersebut bukan keputusan parsial, melainkan bagian dari transformasi besar Purdue University dalam merespons perubahan lanskap bisnis dan industri. Gelombang otomatisasi, pemanfaatan data besar, serta penggunaan AI lintas sektor telah mengubah standar keterampilan tenaga kerja. Lulusan perguruan tinggi kini tidak lagi cukup hanya mengandalkan pengetahuan teoritis.

Syarat kompetensi AI ini telah disetujui oleh Dewan Pengawas Purdue University pada 12 Desember 2025. Presiden Purdue University, Mung Chiang, menegaskan bahwa laju perkembangan AI telah memberi dampak langsung pada kehidupan sosial, ekonomi, dan cara kerja berbagai sektor. Menurutnya, perguruan tinggi tidak bisa berdiri terpisah dari realitas tersebut.

Dalam konteks bisnis dan industri, AI kini menjadi tulang punggung pengambilan keputusan, efisiensi operasional, hingga inovasi produk. Karena itu, Purdue menilai institusi pendidikan harus menjadikan AI sebagai fondasi dalam pengajaran, penelitian, dan kolaborasi industri. Kebijakan ini juga menjadi bagian dari rencana strategis komputasi Purdue yang dirancang untuk jangka panjang.

Menariknya, kewajiban kompetensi AI ini tidak akan menambah beban studi mahasiswa. Purdue mengintegrasikan materi AI ke dalam program studi yang sudah ada tanpa penambahan kredit. Mahasiswa nantinya diminta menunjukkan pemahaman dan penerapan AI melalui proyek yang relevan dengan bidang masing-masing, mulai dari teknik, bisnis, hingga ilmu sosial.

Rektor Purdue University, Patrick Wolfe, menekankan bahwa kurikulum AI harus bersifat adaptif dan responsif terhadap kebutuhan dunia usaha. Oleh sebab itu, masukan dari industri menjadi elemen penting agar kompetensi yang diajarkan tidak tertinggal dari praktik nyata di lapangan. Pendekatan ini mencerminkan pola baru hubungan kampus dan dunia bisnis yang semakin erat.

Langkah Purdue University juga memperkuat posisinya sebagai kampus yang agresif beradaptasi terhadap kebutuhan industri berbasis teknologi. Saat ini, universitas tersebut telah menawarkan berbagai program terkait AI, mulai dari sarjana sains, sarjana sosial, hingga program magister khusus kecerdasan buatan. Hal ini memberi sinyal kuat bahwa AI bukan lagi keahlian tambahan, melainkan keterampilan inti.

Bagi mahasiswa baru, kebijakan ini menjadi pesan tegas bahwa kesiapan kerja tidak bisa ditunda hingga lulus kuliah. Penguasaan AI sejak dini membuka peluang lebih luas di pasar kerja yang semakin selektif dan berbasis teknologi, sekaligus menjadi pembeda utama di tengah persaingan lulusan yang kian padat.

(*)
Advertisement
close