- Penaklukan Persia oleh pasukan Muslim abad ke-7 merupakan perubahan geopolitik paling dramatis yang meruntuhkan Kekaisaran Sassanid.
- Keberhasilan ini dipicu oleh persatuan bangsa Arab pasca-Islam serta kondisi internal Persia yang rapuh akibat perang berkepanjangan.
- Sejarah ini memberikan gambaran tentang ketangguhan wilayah yang kini bernama Iran dalam menghadapi konflik global, termasuk dengan Amerika Serikat.
LANGAMPOS.COM - Penaklukan Persia oleh pasukan Muslim pada abad ke-7 merupakan salah satu perubahan geopolitik paling dramatis dalam sejarah dunia.
Dalam waktu relatif singkat, Kekaisaran Sassanid runtuh dan wilayah Persia masuk ke dalam kekuasaan kekhalifahan Islam.
Keberhasilan ini tidak terjadi secara kebetulan. Jika dilihat dari sudut pandang strategi, ekspansi tersebut mencerminkan kombinasi kekuatan internal, peluang geopolitik, serta momentum kelemahan lawan.
Kekaisaran Sasanian (Sassanid) merupakan salah satu kerajaan besar dalam sejarah Persia yang menjadi cikal bakal identitas Iran modern.
Kekaisaran ini berdiri pada 224 M hingga 651 M dan didirikan oleh Ardashir I setelah berhasil menumbangkan Dinasti Parthia.
Pada masa kejayaannya, wilayah kekuasaan Sassanid sangat luas mencakup hampir seluruh wilayah Iran modern, Irak, hingga sebagian Kaukasus.
Dalam sejarah Iran, Sassanid juga dikenal sebagai kekaisaran Persia terakhir sebelum datangnya Islam.
Kekuasaan dinasti ini berakhir pada abad ke-7 setelah kalah dalam peperangan melawan pasukan Arab Muslim.
Nama Iran sendiri baru digunakan secara resmi pada 1935, ketika pemerintah meminta dunia internasional menggunakan sebutan tersebut dalam hubungan diplomatik.
Sejak era Persia hingga berganti nama Iran, negara tersebut kerap berjibaku dalam konflik.
Terbaru, Iran terlibat ketegangan melawan Israel dan Amerika Serikat yang dipimpin Donald Trump.
Salah satu kekuatan terbesar yang dimiliki negara Muslim awal adalah persatuan bangsa Arab.
Sebelum Islam muncul, Jazirah Arab dikenal sebagai wilayah yang dipenuhi konflik antarsuku.
Namun setelah Islam berkembang, suku-suku yang terpecah berhasil dipersatukan dalam satu komunitas politik dan religius.
Persatuan ini menciptakan solidaritas militer yang kuat. Pada masa khalifah pertama, Abu Bakr, kekuatan tersebut mulai diarahkan keluar Jazirah Arab.
Ia mengirim 18.000 pasukan sukarelawan ke wilayah Mesopotamia di bawah pimpinan jenderal Khalid ibn al-Walid.
Pasukan Khalid ibn al-Walid merupakan tentara muslim yang memiliki motivasi religius yang kuat.
"Mereka percaya bahwa mati di medan perang demi membela agama Allah akan mengantarkan mereka ke surga," tulis laporan riset tersebut.
Motivasi ini membentuk semangat tempur yang tinggi. Kemenangan empat pertempuran besar yang diraih Khalid membuka jalan bagi ekspansi ke wilayah Persia.
Keberhasilan pasukan Muslim juga tidak lepas dari kondisi geopolitik Persia yang sedang rapuh.
Kekaisaran Sassanid mengalami perang berkepanjangan melawan Bizantium dari 602 hingga 628 M yang menguras sumber daya ekonomi.
Di sisi lain, situasi internal juga tidak stabil setelah wafatnya kaisar Persia, Khosrow II.
Kebijakan pajak yang berat membuat masyarakat tidak puas terhadap pemerintahan pusat. Kondisi ini membuat struktur kekuasaan Sassanid rapuh menghadapi invasi luar.
Salah satu titik balik penting terjadi dalam Pertempuran al-Qadisiyyah pada tahun 636 M.
Pasukan Muslim dipimpin Sa'd ibn Abi Waqqas berhadapan dengan tentara Persia di bawah komando jenderal Rostam Farrokhzad.
Kemenangan ini membuka jalan untuk merebut ibu kota Kekaisaran Sassanid, Ctesiphon.
Beberapa tahun kemudian, terjadi Pertempuran Nahavand pada 642 M yang dijuluki sebagai "Victory of Victories".
Kekalahan Persia dalam pertempuran ini hampir sepenuhnya mengakhiri perlawanan militer terorganisasi Sassanid.
Raja terakhir Persia, Yazdegerd III, berusaha mencari dukungan dari satu kota ke kota lain, namun upaya tersebut gagal.
Pada akhirnya, Yazdegerd III terbunuh di Merv pada tahun 651 M. Peristiwa ini menandai berakhirnya Kekaisaran Sassanid.
Penaklukan ini turut mengubah arah sejarah kawasan secara total. Secara politik, Persia menjadi bagian dari jaringan pemerintahan dan perdagangan dunia Islam.
Dalam segi agama, Islam menggeser posisi dominan Zoroastrianisme di Persia, meski komunitasnya tetap bertahan di beberapa wilayah hingga sekarang.
Identitas budaya Persia tidak lenyap begitu saja, melainkan beradaptasi dan bergabung dengan unsur Islam.
Dari proses ini lahir budaya Islam-Persia yang memainkan peran besar pada masa Kekhalifahan Abbasiyah.
Banyak ilmuwan Persia muncul sebagai tokoh penting, seperti Avicenna (Ibn Sina) di bidang kedokteran dan Al-Razi di bidang sains.
Warisan Persia juga mempengaruhi sistem birokrasi yang menjadi inspirasi bagi kekaisaran Islam berikutnya.
Penaklukan ini akhirnya melahirkan perpaduan budaya yang memperkaya peradaban dunia hingga berabad-abad kemudian.
(*)

