Iklan

Sunday, May 24, 2026, 11:19 AM WIB
Last Updated 2026-05-24T04:21:14Z
News

Rupiah Berpotensi Sentuh Rp18.220 per Dolar AS, Sektor Fiskal dan Ketidakpastian Kebijakan Jadi Sorotan

Rupiah Berpotensi Sentuh Rp18.220 per Dolar AS, Sektor Fiskal dan Ketidakpastian Kebijakan Jadi Sorotan


  • Rupiah diproyeksikan berpotensi menembus level Rp18.220 per dolar AS pada tahun ini jika tekanan pasar dan ketidakpastian terus berlanjut.
  • Pelemahan nilai tukar bukan semata-mata karena penguatan dolar global, melainkan dipicu faktor internal seperti beban utang fiskal dan ketergantungan impor yang tinggi.
  • Inkonsistensi pernyataan antar-kementerian dan pengumuman kebijakan yang belum matang dinilai memperburuk sentimen negatif serta menurunkan kepercayaan investor.


LANGGAMPOS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus menunjukkan tren pelemahan yang signifikan hingga memicu kekhawatiran di tengah masyarakat.

Situasi pergerakan pasar yang fluktuatif ini membuat sejumlah pengamat ekonomi angkat bicara mengenai arah pergerakan mata uang garuda ke depan.

Founder sekaligus CEO Astronachi International, Gema Goeyardi, memproyeksikan rupiah memiliki probabilitas besar untuk menyentuh angka Rp18.220 per dolar AS tahun ini.

Analisis tersebut didasarkan pada permodelan statistik, analisis teknikal, serta hubungan intermarket yang menunjukkan indikasi tekanan mendalam sejak akhir tahun lalu.

Kendati demikian, Gema menilai spekulasi publik yang menyebut rupiah akan merosot hingga Rp20.000 atau Rp25.000 cenderung terlalu berlebihan.

Level ekstrem seperti itu dinilai hanya akan terjadi jika terdapat kekacauan domestik yang masif atau guncangan geopolitik luar biasa.

Sementara itu, ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menekankan pentingnya memandang pergerakan kurs secara objektif dan tidak panik.

Jika disesuaikan dengan akumulasi inflasi, kondisi saat ini dinilai masih relatif jauh dibandingkan dengan situasi krisis moneter pada tahun 1998 silam.

Meski begitu, Wijayanto mengingatkan bahwa jarak yang jauh tersebut bisa menjadi sangat dekat apabila pemerintah tidak segera mengantisipasinya.

Pemerintah dituntut memiliki kepekaan terhadap krisis (sense of crisis) yang nyata agar tidak terbuai oleh narasi yang menenangkan.

Suhu tubuh yang meningkat menjadi analogi yang tepat untuk menggambarkan fluktuasi nilai tukar sebagai indikator kondisi ekonomi yang kurang sehat.

Untuk itu, pengobatan yang diberikan harus menyentuh akar permasalahan fundamental, bukan sekadar kebijakan kosmetik di permukaan pasar keuangan.

Dua faktor krusial yang dinilai menjadi beban utama dalam stabilitas mata uang adalah kondisi fiskal dan ketergantungan struktural pada balance of payment.

Ketergantungan terhadap penambahan utang baru untuk menutup defisit anggaran serta membayar bunga utang menjadi perhatian serius bagi kalangan investor.

Di sisi lain, struktur ekspor Indonesia masih didominasi komoditas mentah yang harganya sangat bergantung pada dinamika pasar internasional.

Pada saat yang sama, industri manufaktur domestik yang kurang berkembang memicu tingginya arus keluar valuta asing demi memenuhi kebutuhan impor.

Ketidakpastian juga diperparah oleh pola komunikasi publik jajaran kabinet yang kerap kali kurang padu dalam meluncurkan sebuah kebijakan.

Langkah mengumumkan rencana program besar sebelum persiapan teknisnya matang dinilai kerap memicu sentimen negatif di kalangan pelaku usaha.

Salah satu contoh nyata adalah polemik rencana pembentukan badan ekspor satu pintu yang langsung direspons negatif oleh pasar saham.

Pengumuman yang mendadak tanpa rincian jelas memicu kekhawatiran akan timbulnya hambatan birokrasi baru serta biaya tak terduga bagi eksportir.

Guna mengatasi tekanan persepsi negatif dari media internasional, pemerintah disarankan berfokus pada pembuktian kinerja riil daripada sekadar membangun narasi tandingan.

Dunia usaha dan investor memerlukan kepastian regulasi serta kenyamanan dalam berbisnis agar roda perekonomian dapat berputar lebih optimal.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, menerapkan pola hidup hemat, serta terus meningkatkan kompetensi individu dalam menghadapi tantangan ekonomi.

Langkah preventif dan perhitungan yang matang pada tingkat keluarga menjadi kunci utama untuk bertahan di tengah situasi survival mode saat ini.


(*)


Sumber:


Advertisement
close