Iklan

Friday, May 22, 2026, 9:33 AM WIB
Last Updated 2026-05-22T02:33:32Z
Economy

Rupiah Terpuruk Tembus Rp17.667 per Dolar AS, Ibu Rumah Tangga Menjerit Harga Bahan Pokok Terus Naik

Rupiah Terpuruk Tembus Rp17.667 per Dolar AS, Ibu Rumah Tangga Menjerit Harga Bahan Pokok Terus Naik


  • Nilai tukar rupiah yang melemah hingga Rp17.667 per dolar AS memicu kenaikan harga barang pokok di tingkat pedagang eceran.
  • Masyarakat di kawasan pedesaan mulai merasakan penurunan nilai mata uang, di mana daya beli Rp1 juta kini terasa setara Rp100 ribu.
  • Kebijakan pemerintah pusat dinilai belum memberikan solusi konkret untuk menstabilkan harga dan menahan laju depresiasi rupiah.

LANGGAMPOS.COM - Nilai tukar rupiah yang kian terpuruk hingga menyentuh angka Rp17.667 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memukul telak kantong masyarakat kecil di berbagai daerah.

Kondisi ini membuat daya beli masyarakat merosot tajam, hingga muncul keluhan di kalangan ibu rumah tangga bahwa memegang uang Rp1 juta kini rasanya seperti hanya Rp100 ribu.

Fenomena penurunan nilai mata uang domestik tersebut kian nyata dirasakan oleh warga yang tinggal di kawasan perkampungan dan pedesaan.

Banyak ibu rumah tangga kini mengaku kebingungan memutar otak untuk mengatur uang belanja harian yang diberikan oleh suami mereka.

Demi menyiasati pembengkakan pengeluaran, tidak sedikit warga yang akhirnya memilih untuk membatasi aktivitas di luar rumah.

Langkah ini diambil karena keluar rumah, terutama bersama anak-anak, dipastikan bakal memicu pengeluaran yang tidak sedikit akibat lonjakan harga barang pokok.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah rekaman video yang beredar menyatakan bahwa pelemahan rupiah hanya berdampak pada masyarakat yang sering bepergian ke luar negeri.

Kepala Negara menyebut warga di pedesaan tidak akan terdampak langsung karena seluruh transaksi di sana tidak menggunakan mata uang dolar.

Meski demikian, pernyataan tersebut memancing respons negatif dan dinilai kurang berempati terhadap realitas mahalnya harga.

Sejumlah warga pedesaan mengeluhkan bahwa realitas yang mereka hadapi sangat berbanding terbalik dengan klaim yang disampaikan oleh pihak istana.

"Pak Presiden hidup dalam gelimang harta, jadi tak akan kena dampak. Tapi bagi kami yang hidup di kampung, ini sangat berdampak," ujar salah satu warga.

Ia menambahkan bahwa merangkaknya harga berbagai komoditas dapur harian belakangan ini merupakan fakta riil yang menjepit ekonomi keluarga, bukan sekadar bualan.

Berdasarkan pantauan di pasar-pasar tradisional, hampir seluruh harga bahan pangan penting memang terus mengalami grafik kenaikan yang signifikan.

Situasi fluktuatif ini memicu pertanyaan besar di kalangan masyarakat mengenai jaminan ketenangan hidup dan stabilitas ekonomi yang seharusnya dihadirkan oleh negara.

Hingga saat ini, publik menilai belum ada langkah taktis maupun kebijakan konkret yang diambil oleh pemerintah pusat untuk menekan laju depresiasi rupiah.

Tekanan ekonomi ini pun menjadi momok yang sangat menyiksa bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah atau mereka yang memiliki upah pas-pasan.

Kekhawatiran serupa juga melanda warga yang memiliki dana simpanan minim di bank karena pengeluaran bulanan mereka terus membubung tinggi.

Padahal, sebagian besar dari masyarakat rentan tersebut sudah menerapkan pola dan gaya hidup yang sangat sederhana demi bisa bertahan hidup.

"Tabungan terus saya keruk sedikit demi sedikit demi menjaga uang belanja tetap cukup buat hidup sehari-hari," ungkap seorang warga pemilik penghasilan Rp4 juta per bulan.

Pria paruh baya tersebut mengaku merasa dipaksa bertahan hidup secara mandiri di tengah ketidakpastian arah kebijakan ekonomi makro saat ini.

Ia juga mengenang bagaimana situasi beberapa waktu lalu saat kondisi finansialnya masih sanggup menyisihkan sisa upah untuk menambah saldo simpanan.

Kini, harapan untuk menabung sirna karena simpanan yang ada justru terus terkikis demi menutup ongkos pemenuhan kebutuhan dapur harian yang kian mahal.


(*)

Advertisement
close