Iklan

Friday, May 22, 2026, 10:01 AM WIB
Last Updated 2026-05-22T15:11:50Z
IslamiQuote

Membedah Hakikat Moralitas Versi Fahruddin Faiz: Mengapa Aturan Saja Tak Cukup Bikin Manusia Baik?

Membedah Hakikat Moralitas Versi Fahruddin Faiz: Mengapa Aturan Saja Tak Cukup Bikin Manusia Baik?


  • Fahruddin Faiz menegaskan bahwa moralitas sejati bersumber dari dalam hati nurani, bukan karena adanya pengawasan.
  • Aturan ketat dan sanksi hukum dinilai hanya sebagai pagar luar yang tidak otomatis mengubah karakter seseorang menjadi baik.
  • Kualitas dan integritas asli seorang manusia baru akan terlihat sepenuhnya ketika mereka memiliki kebebasan mutlak tanpa pengawasan.


LANGGAMPOS.COM - Bayangkan sebuah situasi di mana Anda bebas melakukan apa saja tanpa ada risiko hukum, sanksi sosial, ataupun pengawasan dari pihak lain. 

Di titik kritis inilah, menurut pakar filsafat Fahruddin Faiz, karakter dan moralitas sejati seorang manusia diuji.

Filsuf dan akademisi tersebut menekankan bahwa kualitas moral yang hakiki tidak pernah bersandar pada ada atau tidaknya regulasi tertulis.

Manusia yang benar-benar berbudi luhur akan konsisten menjaga tindakan dan perilakunya, sekalipun berada dalam ruang paling sunyi yang jauh dari pandangan publik.

Bagi individu yang telah menginternalisasi nilai-nilai kebaikan, integritas bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan sudah menyatu dengan kesadaran serta detak jantung mereka.

Mereka berbuat baik karena tahu itu benar, bukan karena takut diciduk oleh aparat penegak hukum.

Sebaliknya, fenomena sosial menunjukkan bahwa mereka yang bermental culas akan selalu menemukan celah untuk melanggar aturan, seketat apa pun sistem itu dirancang.

Ketakutan kelompok ini hanyalah sebatas pada hukuman fisik atau denda materi, bukan karena memahami esensi etika.

Tanpa adanya kesadaran moral yang matang untuk memilah antara kebajikan dan keburukan, manusia cenderung menjadi oportunis.

Mereka hanya akan patuh saat diawasi, namun langsung berbalik arah melakukan pelanggaran begitu radar pengawas lengang.

Berkaca dari realitas tersebut, produk hukum dan norma formal sebenarnya hanyalah berfungsi sebagai pagar pembatas luar. 

Instrumen ini memang krusial untuk menjaga stabilitas dan keteraturan sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

Namun, kita tidak bisa berharap banyak pada lembaran undang-undang untuk mencetak manusia yang tulus. 

Transformasi karakter yang autentik hanya bisa lahir dari ketajaman akal sehat, kebersihan nurani, serta rasa tanggung jawab penuh atas setiap jengkal tindakan pribadi.

Pandangan mendalam dari Fahruddin Faiz ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi sistem pendidikan dan sosial yang kerap kali hanya berfokus pada aspek formalitas. 

Kita sering lupa membangun manusia dari dalam, dan terlalu sibuk mempertebal dinding pembatas di luar.

Pada akhirnya, esensi kemanusiaan seseorang tidak diukur saat mereka berjalan di bawah sorotan lampu kamera atau ancaman jeruji besi. 

Nilai diri kita yang sesungguhnya justru terpancar ketika kita memegang kebebasan penuh, namun tetap memilih jalan kebajikan.


(*)
Advertisement
close