Iklan

Friday, May 29, 2026, 5:33 AM WIB
Last Updated 2026-05-29T01:20:42Z
Techno

Prediksi El Nino Tahun 2026 dan Pakar BRIN Ungkap Wilayah Indonesia yang Paling Rentan

Prediksi El Nino Tahun 2026 dan  Pakar BRIN Ungkap Wilayah Indonesia yang Paling Rentan

  • Lembaga meteorologi dunia mulai memberikan sinyal waspada terkait potensi terbentuknya fenomena El Nino pada penghujung tahun 2026 mendatang.
  • Pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi level intensitas El Nino kali ini cenderung berada pada kategori moderat, bukan "Godzilla El Nino".
  • Wilayah selatan Indonesia seperti NTT, Jawa, Bali, dan Lampung menjadi titik yang paling sensitif terhadap penurunan curah hujan ekstrem.

LANGGAMPOS.COM - Dunia internasional melalui berbagai lembaga meteorologi kini tengah memusatkan perhatian pada dinamika suhu muka laut di Samudra Pasifik yang diprediksi bakal memicu El Nino pada akhir 2026. 

Fenomena iklim ini kerap menjadi momok karena kemampuannya dalam mengacaukan pola cuaca, memicu kekeringan panjang, hingga melumpuhkan stabilitas pangan dan ekonomi global.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, mengingat sejarah mencatat beberapa periode El Nino besar yang menghancurkan, seperti yang terjadi pada tahun 1877, 1997-1998, serta 2015-2016 silam. 

Pada masa-masa kelam tersebut, banyak negara, termasuk Indonesia, harus berhadapan dengan krisis air bersih, kebakaran hutan hebat, hingga kegagalan panen masif.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edi Hermawan, memberikan analisis mendalam terkait isu yang tengah menghangat ini. 

Istilah "Godzilla El Nino" yang sempat ramai diperbincangkan sebenarnya merujuk pada publikasi ilmiah tahun 2019 yang menggambarkan karakteristik El Nino ekstrem.

Namun, Edi menilai bahwa peluang munculnya El Nino super kuat atau kategori "Godzilla" pada tahun 2026 tersebut sebenarnya masih relatif kecil bagi Indonesia. 

Berdasarkan data teknis, El Nino dikatakan ekstrem jika anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik melonjak sangat tinggi hingga menembus angka di atas 2 derajat Celcius.

Kondisi saat ini menunjukkan anomali suhu laut masih bertengger di kisaran 0,5 derajat Celcius, angka yang masih sangat rendah untuk memicu fenomena super kuat. 

Mayoritas pemodelan iklim global saat ini masih memproyeksikan El Nino 2026 akan bergerak pada level moderat, dengan hanya sedikit model yang meramalkan penguatan ekstrem.

Selain faktor Samudra Pasifik, kekuatan dampak fenomena ini di Indonesia sangat bergantung pada dinamika di Samudra Hindia, yang dikenal sebagai Indian Ocean Dipole (IOD). 

IOD fase positif biasanya menjadi "bahan bakar" tambahan yang memperparah kondisi kekeringan di tanah air dengan menghambat pembentukan awan hujan.

Menariknya, pemodelan dari lembaga meteorologi Australia dan Jepang memprediksi IOD akan tetap berada dalam fase normal hingga Oktober 2026 mendatang. 

Hal ini setidaknya memberikan sedikit angin segar bahwa efek komposit yang mematikan antara El Nino dan IOD positif kemungkinan besar tidak akan terjadi.

Edi Hermawan juga menekankan faktor siklus alami, di mana Indonesia baru saja melewati periode El Nino pada rentang tahun 2023 hingga 2024 lalu. 

Jarak waktu yang tergolong cukup dekat ini dinilai secara alami memperkecil peluang munculnya El Nino ekstrem kembali dalam waktu yang sangat singkat.

Meski diprediksi hanya akan mencapai level moderat, kewaspadaan tetap tidak boleh kendur karena dampak kekeringan akan tetap dirasakan secara nyata. 

Sejumlah daerah di Indonesia memiliki tingkat kerentanan yang berbeda-beda tergantung pada letak geografis dan karakteristik pola hujannya.

Wilayah yang paling rentan terdampak adalah daerah-daerah dengan pola hujan monsunal, yaitu wilayah yang memiliki garis pemisah sangat tegas antara musim hujan dan kemarau. 

Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu wilayah yang berada di garis depan dalam menghadapi ancaman penurunan curah hujan ini.

Tidak hanya NTT, potensi kekeringan diprediksi akan meluas ke wilayah selatan Indonesia lainnya yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap fluktuasi iklim Pasifik. 

Wilayah-wilayah tersebut mencakup seluruh Pulau Jawa, Bali, sebagian Nusa Tenggara Barat, hingga wilayah ujung selatan Sumatera seperti Lampung.

Daerah-daerah di atas dinilai jauh lebih sensitif terhadap penurunan curah hujan dibandingkan wilayah Indonesia bagian utara seperti Papua atau Sumatera Utara. 

Karakteristik wilayah selatan yang sangat bergantung pada musim monsun membuatnya lebih mudah terpapar dampak kering saat pasokan uap air tersedot ke Pasifik.

Jika El Nino berkembang pada level moderat, masyarakat diprediksi mulai merasakan dampaknya secara bertahap pada pertengahan hingga akhir tahun 2026. 

Untuk wilayah padat penduduk seperti Pulau Jawa, masa-masa paling kritis atau puncak kondisi kering diprediksi jatuh pada September hingga Oktober 2026.

Kabar baiknya, situasi gersang ini diperkirakan tidak akan berlangsung selamanya dan akan mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan saat memasuki bulan November. 

Kedatangan Monsun Asia yang membawa massa udara basah akan kembali mengguyur wilayah Indonesia dan mengakhiri fase kering yang dibawa oleh El Nino.

Kendati durasinya mungkin tidak sepanjang El Nino super, antisipasi dini tetap mutlak diperlukan, terutama pada sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air. 

Pemerintah daerah di wilayah rawan diminta mulai memetakan sumber daya air dan menyiapkan strategi ketahanan pangan guna meminimalisir kerugian ekonomi.

Pengelolaan waduk, embung, dan sumur-sumur resapan harus dipastikan berfungsi optimal sebelum puncak kekeringan melanda untuk menjaga suplai bagi kebutuhan domestik. 

Koordinasi lintas sektoral antara pihak meteorologi dan pemangku kebijakan menjadi kunci utama dalam memitigasi risiko bencana hidrometeorologi kering ini.

Masyarakat juga diimbau untuk lebih bijak dalam penggunaan air bersih serta mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan di area-area yang mulai mengering.

Dengan persiapan yang matang dan pemahaman data yang akurat, Indonesia diharapkan mampu melewati tantangan iklim tahun 2026 dengan dampak yang minimal. (*)




#FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Apa yang dimaksud dengan El Nino 2026?

Fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik yang diprediksi terjadi pada akhir 2026, yang berdampak pada pengurangan curah hujan di wilayah Indonesia.

Apakah El Nino 2026 akan menjadi yang terparah (Godzilla El Nino)?

Pakar BRIN menilai peluang terjadinya El Nino super kuat atau "Godzilla" sangat kecil; mayoritas model iklim memprediksi levelnya hanya akan berada di kategori moderat.

Wilayah mana saja yang paling terdampak?

Wilayah Indonesia bagian selatan seperti NTT, Bali, Jawa, dan Lampung diprediksi akan mengalami dampak kekeringan paling signifikan dibandingkan wilayah lainnya.

Kapan puncak kekeringan diprediksi terjadi?

Untuk wilayah Pulau Jawa dan sekitarnya, puncak kondisi kering diperkirakan terjadi pada bulan September hingga Oktober 2026.

Sektor apa yang paling terancam oleh fenomena ini?

Sektor pertanian, ketahanan pangan, dan pengelolaan sumber daya air merupakan sektor yang paling rentan terhadap dampak El Nino.


Advertisement
close