- Kesenjangan Lapangan Kerja: Ketimpangan besar antara lowongan yang tersedia dan jumlah pencari kerja memicu persaingan yang kian tidak sehat.
- Fenomena Global: Melemahnya pasar tenaga kerja tidak hanya melanda domestik, melainkan juga terjadi di negara maju seperti Inggris.
- Kreativitas Nekat: Demi menembus pasar kerja yang seret, sejumlah kandidat mulai beralih menggunakan platform kencan digital untuk berburu posisi idaman.
LANGGAMPOS.COM - Satu posisi kosong di perusahaan kini diperebutkan oleh ratusan hingga ribuan pelamar akibat minimnya pembukaan lapangan pekerjaan baru.
Kondisi pasar tenaga kerja di tanah air yang belum membaik memicu lonjakan angka pengangguran serta mempersempit peluang karier.
Data terbaru dari platform JobStreet by SEEK menunjukkan satu iklan lowongan pekerjaan rata-rata diserbu oleh 500 sampai 600 pelamar.
Angka kompetisi tersebut melonjak drastis jika posisi yang ditawarkan bersifat umum atau berada di bawah naungan korporasi besar.
"Bayangkan kalau satu HR tidak hanya membuka satu posisi. Banyak perusahaan bisa memasang hingga puluhan lowongan dalam satu tahun. Artinya mereka harus memproses ribuan CV," ujar Acting Sales Director Indonesia Ethika Santi beberapa waktu lalu.
Kesulitan ini rupanya menjadi tren global yang melanda berbagai belahan dunia, termasuk negara-negara maju di benua Eropa.
Inggris mencatatkan penurunan jumlah lowongan kerja ke titik paling rendah dalam kurun waktu lima tahun belakangan ini.
Sektor perhotelan serta industri ritel menjadi lini bisnis yang paling terpukul dengan penurunan ketersediaan lapangan kerja paling signifikan.
Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris melaporkan tingkat pengangguran di sana merangkak naik menjadi 5 persen dalam periode tiga bulan.
Direktur statistik ekonomi ONS, Liz McKeown, mengatakan angka terbaru tersebut "menunjukkan pasar tenaga kerja tetap lemah, dengan lowongan pekerjaan berada pada level terendah dalam lima tahun dan pengangguran lebih tinggi daripada tahun lalu".
Sempitnya jalur formal memaksa sebagian masyarakat memutar otak dan mencari celah alternatif yang tidak biasa demi menyambung hidup.
Platform kencan daring seperti Tinder, Bumble, hingga Hinge yang sejatinya untuk mencari pasangan, kini berubah fungsi menjadi biro jodoh karier.
Fenomena unik ini viral setelah seorang pengguna TikTok membagikan pengalamannya memanfaatkan aplikasi Hinge sebagai sarana melamar pekerjaan.
Alih-alih memajang foto personal yang menarik, pencari kerja kreatif ini justru mengunggah tangkapan layar resume miliknya ke laman profil.
Ia juga menyisipkan target profesional pada kolom tujuan hidup dengan menegaskan ambisinya untuk berkarier di ranah industri kreatif.
Unggahan dokumentasi tersebut menarik perhatian publik hingga disaksikan hampir sebanyak 250 ribu kali oleh netizen sejak pertama kali tayang.
Kendati demikian, dalam laporan pembaruan terbarunya, pengguna tersebut mengaku profilnya terpaksa diblokir karena dinilai menyalahi aturan platform.
Langkah nekat tersebut ternyata bukan cerita tunggal di tengah keputusasaan para pencari nafkah menghadapi ketatnya persaingan global.
Kisah sukses lain datang dari pengguna Bumble yang mengeklaim berhasil mengamankan posisi dengan kompensasi fantastis mencapai ratusan ribu dolar.
Strategi yang diterapkan adalah dengan sengaja menyamakan kecocokan profil pada akun individu yang bergerak di bidang industri serupa.
Komunikasi langsung kemudian diinisiasi guna menanyakan peluang karier atau posisi yang mungkin tengah dibuka di perusahaan target.
Pendekatan out-of-the-box ini merefleksikan tingginya tekanan psikologis sekaligus adaptasi radikal para pelamar di era digital.
Kreativitas tanpa batas akhirnya menjadi modal utama bertahan hidup kala metode konvensional tidak lagi mampu menjamin masa depan.
(*)


