- Rupiah Terpuruk: Mata uang Garuda memimpin pelemahan di Asia dengan koreksi mencapai 0,73 persen ke level Rp17.860 per dolar AS.
- Sentimen FOMC: Sikap The Fed yang cenderung lebih hawkish memicu penguatan indeks dolar AS hingga menekan mayoritas mata uang regional.
- Pergerakan Beragam: Pasar keuangan Asia terbelah, di mana lima mata uang terpantau melemah dan lima lainnya berhasil bertahan di zona hijau.
LANGGAMPOS.COM - Pasar keuangan Asia dikejutkan oleh pergerakan variatif mata uang regional terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis pagi ini.
Langkah bank sentral AS yang mulai menunjukkan sikap lebih ketat menjadi pemicu utama datangnya gelombang tekanan baru.
Pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru mengindikasikan bahwa The Federal Reserve kini cenderung lebih hawkish.
Berdasarkan data kompilasi Refinitiv pada pukul 09.25 WIB, peta kekuatan 10 mata uang utama Asia terpantau terbelah sama rata.
Sebanyak lima mata uang harus rela terkoreksi, sementara lima lainnya masih mampu mencatatkan penguatan tipis terhadap greenback.
Rupiah Alami Koreksi Terdalam di Asia
Rupiah menjadi korban utama dari kokohnya performa dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini.
Mata uang Indonesia melosor hingga 0,73 persen dan terlempar ke posisi Rp17.860 per dolar AS.
Penurunan tajam tersebut menobatkan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pagi ini.
Depresiasi ini sekaligus memaksa mata uang Garuda kembali menembus ke bawah level psikologis Rp17.800 per dolar AS.
Nasib Mata Uang Regional yang Ter zona Merah
Tekanan tidak hanya melanda Jakarta, melainkan menjalar ke beberapa negara tetangga di Asia Tenggara.
Ringgit Malaysia ikut mencatatkan penurunan cukup dalam sebesar 0,49 persen ke level MYR 4,085 per dolar AS.
Nasib serupa menimpa peso Filipina yang terdepresiasi sebesar 0,23 persen menuju level PHP 60,531 per dolar AS.
Selanjutnya, dong Vietnam juga mengalami pelemahan dengan koreksi sebesar 0,21 persen ke posisi VND 26.319 per dolar AS.
Di sisi lain, yuan China relatif mampu menahan tekanan dengan penurunan terbatas hanya sebesar 0,08 persen di level CNY 6,7632 per dolar AS.
Won Korea Selatan dan Dolar Taiwan Mampu Bertahan
Meskipun dihantam sentimen negatif global, beberapa mata uang regional justru memperlihatkan daya tahan yang solid.
Won Korea Selatan tampil sebagai mata uang terkuat di Asia pagi ini setelah berhasil menguat 0,22 persen ke posisi KRW 1.523,82 per dolar AS.
Langkah positif ini diikuti oleh dolar Taiwan yang terapresiasi sebesar 0,20 persen menuju level TWD 31,56 per dolar AS.
Dolar Singapura juga merangkak naik dengan penguatan tipis 0,10 persen ke posisi SGD 1,286 per dolar AS.
Sementara itu, baht Thailand mencatatkan kenaikan 0,09 persen ke level THB 32,64 per dolar AS.
Yen Jepang melengkapi daftar mata uang yang selamat dari zona merah, walaupun hanya menguat tipis 0,01 persen di posisi JPY 160,62 per dolar AS.
Lonjakan Indeks Dolar AS Dipicu Proyeksi Suku Bunga
Keperkasaan dolar AS teperangkap jelas dalam pergerakan indeks dolar (DXY) yang menguat 0,21 persen ke level 100,299 pada jam yang sama.
Arah positif ini memperpanjang reli dari hari sebelumnya, di mana DXY ditutup melesat hingga 0,55 persen pada perdagangan Rabu.
Lonjakan performa mata uang Paman Sam tersebut merupakan respons langsung investor terhadap proyeksi kebijakan moneter The Fed.
Walaupun suku bunga acuan diputuskan tetap, bank sentral AS membuka peluang adanya pengetatan lanjutan di masa depan.
Kini, sebanyak sembilan pejabat bank sentral memproyeksikan adanya kenaikan Fed Fund Rate yang bisa terjadi sebelum akhir tahun ini.
Kondisi Ekonomi Domestik AS Masih Sangat Solid
Pondasi ekonomi Amerika Serikat yang kokoh memberikan ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
Pasar tenaga kerja di negara tersebut dilaporkan tetap tangguh dengan tingkat pengangguran yang stabil pada level rendah 4,3 persen.
Kondisi ini diperparah oleh angka inflasi AS yang posisinya masih bertahan jauh di atas target jangka panjang bank sentral sebesar 2 persen.
Pernyataan Komunikasi Perdana dari Kevin Warsh
Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, dalam konferensi pers perdananya menggarisbawahi fleksibilitas proyeksi ekonomi bank sentral.
Warsh memberikan ilustrasi menarik mengenai sistem proyeksi suku bunga atau dot plot yang dirilis oleh para pejabat moneter.
"Proyeksi tersebut ditulis dengan pensil yang memiliki penghapus besar," ujar Kevin Warsh.
Dirinya menekankan bahwa para pembuat kebijakan tidak pernah merasa terikat sepenuhnya oleh angka-angka perkiraan yang telah dibuat sebelumnya.
Imbas dari sinyal kebijakan yang ketat ini langsung mendongkrak yield obligasi pemerintah AS, khususnya untuk tenor pendek dua tahun.
Kenaikan imbal hasil obligasi tersebut secara otomatis membatasi ruang gerak aset-aset berisiko, termasuk mata uang di kawasan Asia.
(*)
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
Mengapa nilai tukar rupiah melemah tajam hari ini?
Rupiah melemah sebesar 0,73 persen ke level Rp17.860 per dolar AS karena tertekan oleh hasil rapat FOMC yang menunjukkan sikap bank sentral AS (The Fed) yang lebih ketat atau hawkish.
Apa yang dimaksud dengan sikap hawkish dari The Fed?
Sikap hawkish merujuk pada kecenderungan kebijakan moneter yang cenderung ketat, seperti membuka peluang kenaikan suku bunga acuan atau menunda pemotongan suku bunga demi menekan laju inflasi.
Bagaimana performa mata uang Asia lainnya terhadap dolar AS?
Pergerakan mata uang Asia terpantau beragam. Lima mata uang mengalami pelemahan (termasuk rupiah, ringgit, dan peso), sedangkan lima mata uang lainnya berhasil menguat (dipimpin oleh won Korea Selatan dan dolar Taiwan).
#Rupiah #TheFed #FOMC #MataUangAsia #DolarAS #KursRupiah #KebijakanMoneter


