Iklan

Redaksi
Friday, June 12, 2026, 10:40 PM WIB
Last Updated 2026-06-12T15:40:13Z
Regional

DPRD DKI Soroti Fasilitas RDF Rorotan, Minta Pemprov Benahi Pemilahan Sampah dari Rumah

DPRD DKI Soroti Fasilitas RDF Rorotan,  Minta Pemprov Benahi Pemilahan Sampah dari Rumah

  • Komisi D DPRD DKI Jakarta menekankan teknologi RDF tidak akan maksimal jika sampah dari warga masih tercampur.
  • Sistem pengangkutan yang bocor dan keterbatasan armada dituding menjadi pemicu sampah kembali bercampur di lapangan.
  • Pemprov DKI didesak mencari pembeli alternatif (off-taker) agar produk RDF memiliki nilai ekonomi yang stabil.

LANGGAMPOS.COM
- Fasilitas pengolahan sampah modern Refuse Derived Fuel (RDF) Plant di Rorotan, Jakarta Utara, kini menjadi tumpuan baru ibu kota.

Namun, kecanggihan mesin pengolah tersebut dinilai tidak akan berdampak signifikan tanpa adanya pembenahan sistem pengelolaan dari hulu hingga hilir.

Catatan kritis ini mengemuka setelah Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta melakukan peninjauan langsung ke lokasi proyek.

Tantangan Nyata RDF Plant Rorotan

Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Nabilah Aboebakar Alhabsyi, menggarisbawahi bahwa kunci sukses penanganan volume sampah Jakarta berada pada kedisiplinan warga.

Teknologi mutakhir yang diadopsi dinilai bakal sia-sia jika input bahan baku yang masuk ke pabrik tidak memenuhi kriteria industri.

Menurutnya, kualitas sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan sejauh ini belum memenuhi standar akibat minimnya pemilahan di tingkat rumah tangga.

"RDF hanya akan efektif jika masyarakat melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah. Kalau sampah masih tercampur, hasil pengolahan juga tidak akan optimal," kata Nabilah di Jakarta, Jumat.

Kondisi tersebut menuntut Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta untuk bergerak lebih agresif di lapangan melalui pendekatan sosial yang masif.

Edukasi mengenai tata cara memisahkan sampah organik dan anorganik harus kembali digalakkan secara konsisten hingga menyentuh level rukun tetangga.

Benahi Armada Pengangkutan yang Bocor

Persoalan klasik yang kerap ditemui di lapangan adalah rusaknya rantai logistik sampah setelah keluar dari lingkungan perumahan warga.

DPRD DKI menemukan fakta bahwa upaya mandiri masyarakat yang telah memilah sampah sering kali menjadi mubazir saat truk pengangkut datang.

Keterbatasan sarana membuat jenis limbah yang sudah dipisahkan terpaksa disatukan kembali dalam satu bak truk yang sama.

Untuk itu, pihak legislatif mendesak pemerintah daerah segera memperbarui armada angkutan dengan spesifikasi yang jauh lebih ramah lingkungan.

Pemerintah wajib menyediakan armada compactor berkapasitas besar yang tertutup rapat guna mencegah kebocoran air lindi selama perjalanan menuju pabrik.

"Kalau pemerintah meminta masyarakat memilah sampah, maka pemerintah juga harus memastikan sistem pengangkutannya mendukung. Jangan sampai masyarakat sudah disiplin memilah, tetapi akhirnya tercampur kembali di lapangan," katanya.

Strategi Pasar dan Kepastian Pembeli RDF

Selain fokus pada pembenahan manajemen hulu, keberlangsungan ekonomi dari produk yang dihasilkan oleh RDF Plant juga memerlukan perhatian serius.

Hasil olahan sampah yang menjadi bahan bakar alternatif ini tidak boleh menumpuk di gudang dan harus segera terserap pasar industri.

Sejauh ini, pemanfaatan komoditas tersebut dinilai masih terlalu bertumpu pada satu korporasi besar sebagai pembeli tunggal.

Kondisi monopoli pasar seperti ini dianggap riskan bagi stabilitas operasional fasilitas pengolahan sampah dalam jangka panjang.

Pemprov DKI Jakarta diminta mulai membuka jaringan komunikasi dengan berbagai pelaku industri semen dan pembangkit listrik swasta lainnya.

Langkah memperbanyak alternatif off-taker akan memberikan posisi tawar yang lebih baik sekaligus menjamin kepastian serapan bernilai ekonomis tinggi.

Membangun Integrasi Tata Kelola Sampah Jakarta

Mengatasi sengkarut kedurjanaan sampah di kota megapolitan seperti Jakarta tidak bisa dilakukan secara parsial lewat satu metode tunggal saja.

Diperlukan kerja bersama yang mengintegrasikan perubahan kultural masyarakat, kesiapan infrastruktur logistik, hingga hilirisasi produk.

Jika salah satu komponen dalam rantai pasok tersebut terputus, target ambisius pengurangan beban sampah Jakarta dipastikan bakal meleset.

“Solusinya adalah membangun sistem yang utuh. Pilah sampah dari rumah, perkuat armada dan fasilitas pendukung, optimalkan RDF, serta pastikan hasilnya memiliki pasar yang jelas. Kalau salah satu mata rantai ini tidak berjalan, maka target pengurangan sampah Jakarta akan sulit tercapai,” kata Nabilah.

Melalui komitmen pengawasan ketat dari legislatif, optimalisasi teknologi hijau ini diharapkan mampu memperpanjang napas lingkungan hidup Jakarta.

Keberlanjutan ekosistem perkotaan kini bertumpu pada keseriusan eksekutif mengeksekusi rekomendasi taktis tersebut secara transparan.

(*)


FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Apa itu teknologi RDF yang digunakan di Rorotan?

RDF (Refuse Derived Fuel) adalah teknologi yang mengolah sampah padat perkotaan melalui proses pencacahan dan pengeringan untuk diubah menjadi bahan bakar alternatif berkualitas tinggi, yang biasanya digunakan oleh industri semen sebagai pengganti batu bara.

2. Mengapa pemilahan sampah dari rumah sangat memengaruhi hasil RDF?

Mesin pengolah RDF membutuhkan bahan baku sampah yang kering dan homogen (terutama plastik dan kertas). Jika sampah tercampur dengan limbah organik basah atau kaca, kalori yang dihasilkan menurun dan berisiko merusak komponen mesin pengolah.

3. Apa yang menjadi kendala utama pengangkutan sampah pilahan saat ini?

Kendala utamanya adalah keterbatasan armada truk khusus. Sering kali sampah yang sudah dipilah oleh warga digabungkan kembali ke dalam satu bak truk karena tidak adanya sekat pemisah atau kurangnya armada compactor tertutup di tingkat kecamatan.


#SampahJakarta #RDFPlantRorotan #DPRDDKIJakarta #DinasLH #EcoFriendly #InfrastrukturJakarta #PengelolaanSampah
Advertisement
Pilihan Redaksi Lainnya