Skip to content Skip to sidebar Skip to footer
HEADLINE
Memuat Headline...
HEADLINE
News
Memuat artikel...
IKUTI SEPUTAR

UPDATE TEKNO TERBARU

Techno
Memuat artikel...

Sunday Batik on the Street 2026 Jadi Ajang Unik Pemkab Sumenep Dongkrak UMKM dan Lestarikan Budaya

Sunday Batik on the Street 2026 Jadi Ajang Unik Pemkab Sumenep Dongkrak UMKM dan Lestarikan Budaya
Sunday Batik on the Street 2026 Jadi Ajang Unik Pemkab Sumenep Dongkrak UMKM dan Lestarikan Budaya


LANGGAMPOS.COM - Trotoar dan ruang publik di Sumenep mendadak berubah wajah lewat perhelatan Sunday Batik on the Street 2026, di mana aspal jalanan disulap menjadi panggung mode terbuka yang merayakan warisan leluhur sekaligus menggerakkan nadi ekonomi kerakyatan.

Sekitar 70 peserta dari berbagai rentang usia—mulai dari anak-anak yang menggemaskan hingga kategori dewasa—tumpah ruah meramaikan acara.

Yang menarik, para peserta dewasa yang datang dari Tim Penggerak PKK serta perwakilan Puskesmas se-Kabupaten Sumenep kompak mengenakan busana hasil jahitan tangan dari para perajin lokal.

Ruang publik mendadak hidup. Ia tidak lagi sekadar tempat orang berlalu-lalang, melainkan bertransformasi menjadi etalase raksasa yang memamerkan identitas kultural Madura.

Ketua Panitia, Faizah Karamatun, membocorkan bahwa di balik kemeriahan tersebut ada misi yang jauh lebih mendasar: menyelamatkan dapur para perajin lokal agar tetap ngebul sekaligus menjaga warisan leluhur agar tidak punah dimakan zaman.

“Saat ini terdapat 27 pengrajin batik yang terdata dan hasil karya mereka digunakan dalam ajang ini. Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan komitmen Sumenep dalam melestarikan batik sebagai warisan budaya. Harapannya, batik karya pengrajin Sumenep semakin berkembang, semakin banyak digunakan, dan semakin dikenal hingga tingkat nasional,” cetus Faizah.

Ia juga tak lupa melempar apresiasi setinggi-tingginya kepada barisan organisasi perangkat daerah (OPD) dan berbagai pihak yang mau merapatkan barisan menyukseskan acara ini.

Bagi Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Setdakab Sumenep, Hizbul Wathan—yang hadir mewakili Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo—pergelaran ini jauh melampaui batas seremonial biasa. Ini adalah napas kehidupan bagi ekonomi kerakyatan.

Pemerintah sadar betul bahwa membiarkan perajin lokal berjalan sendirian di tengah gempuran produk luar adalah sebuah kekeliruan besar.

Oleh karena itu, panggung terbuka ini dihadirkan sebagai jembatan penghubung antara karya seni kelas atas dan pasar yang lebih luas.

Batik Sumenep bukan sekadar produk sandang komersial. Di setiap goresan canting dan perpaduan warnanya, terselip guratan sejarah, filosofi hidup, dan kearifan lokal masyarakat pulau garam.

“Batik adalah identitas, kebanggaan, dan cerminan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Kabupaten Sumenep memiliki kekayaan motif batik yang sarat filosofi, kearifan lokal, dan sejarah panjang masyarakat Madura. Kekayaan ini harus terus dijaga, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada dunia,” tegas Hizbul Wathan dengan penuh penjiwaan.

Lewat konsep on the street, tembok pembatas antara karya seni dan penikmatnya dilebur begitu saja. Desainer muda, perajin senior, pelaku UMKM, hingga masyarakat awam bisa saling lempar senyum, berkolaborasi, dan merayakan warisan budaya tanpa rasa canggung.

Tantangan terbesar pelestarian budaya hari ini adalah bagaimana membuat anak muda merasa "keren" saat mengenakan kain tradisional.

Pemkab Sumenep paham betul celah ini. Dengan mengemas batik ke dalam format fesyen jalanan yang kekinian, stigma bahwa batik itu kuno otomatis runtuh seketika.

Membeli dan mengenakan batik buatan perajin lokal kini bukan lagi sekadar kewajiban seremonial, melainkan sebuah pernyataan gaya hidup (lifestyle) sekaligus bentuk dukungan nyata bagi ekonomi tetangga sendiri.

Jika konsistensi ini terus dijaga, bukan tidak mungkin Sumenep bakal bertransformasi menjadi kiblat fesyen jalanan bernuansa etnik yang disegani di kancah nasional, sekaligus memperkokoh posisinya sebagai episentrum budaya yang patut diperhitungkan.

(*)

#FAQ:

Apa daya tarik utama dari Sunday Batik on the Street 2026?


Ajang ini memadukan konsep pelestarian budaya dan promosi ekonomi kreatif dengan menjadikan jalanan kota sebagai panggung peragaan busana terbuka yang melibatkan perajin lokal secara langsung.

Berapa banyak orang yang turun ke jalan menjadi peserta?


Tercatat ada sekitar 70 peserta lintas usia, mulai dari anak-anak hingga kalangan dewasa, yang ambil bagian dalam pergelaran ini.

Siapa saja yang mendominasi peserta di kategori dewasa?


Peserta dewasa diisi oleh kader Tim Penggerak PKK serta perwakilan dari berbagai Puskesmas di seluruh penjuru Kabupaten Sumenep.

Berapa jumlah perajin lokal yang dilibatkan dalam perhelatan ini?


Panitia mencatat ada 27 perajin batik lokal yang karyanya dipamerkan dan dikenakan secara langsung oleh para peserta.


Tag Artikel:

Sunday Batik on the Street 2026, batik Sumenep, Pemkab Sumenep, UMKM Sumenep, perajin batik, budaya Madura, ekonomi kreatif, pariwisata Sumenep, fashion batik, berita Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, warisan budaya, pemkab sumenep 2026, pameran batik lokal
Foto Pilihan Selengkapnya >
Memuat foto pilihan...
Crypto
Memuat artikel...

Education

Indeks ›

Economy

Indeks ›