- Ancaman Kepunahan: Perubahan iklim antropogenik memicu kekhawatiran serius terkait hilangnya keanekaragaman hayati dan potensi kepunahan massal spesies besar.
- Seleksi Alam: Spesies dengan jangkauan geografis kecil paling rentan punah, sementara hewan kecil cenderung lebih mampu bertahan hidup dan beradaptasi.
- Era Baru Kucing: Pasca-manusia, kucing domestik diprediksi akan berevolusi menjadi predator dominan dengan bentuk fisik yang menyerupai singa atau harimau.
LANGGAMPOS.COM - Misteri mengenai akhir peradaban manusia dan nasib ekosistem Bumi terus menjadi sorotan para ilmuwan yang mempelajari dampak perubahan iklim serta sejarah kepunahan massal secara mendalam.
Fenomena pemanasan global saat ini menimbulkan spekulasi kuat bahwa makhluk hidup berukuran besar akan lenyap, menyisakan ruang kosong bagi spesies kecil untuk mengambil alih dominasi planet melalui proses seleksi alam yang radikal.
Paleobiolog dari Oxford University, Erin Saupe, menyoroti bahwa sejarah Bumi menunjukkan pola yang konsisten terkait kenaikan suhu ekstrem dan dampaknya terhadap organisme hidup.
"Kejadian pemanasan yang terjadi di masa lalu kerap memicu hilangnya keanekaragaman hayati secara besar-besaran, itu sebabnya ada kekhawatiran serius soal perubahan iklim antropogenik," kata Erin Saupe sebagaimana dikutip dari Discover Wildlife.
Saupe menambahkan bahwa tingkat kerentanan sebuah spesies sangat bergantung pada luas wilayah habitatnya. Menurutnya, kepunahan kemungkinan besar akan menyasar spesies yang hanya memiliki jangkauan geografis kecil.
Sejarah membuktikan bahwa dalam peristiwa seperti kepunahan era Cretaceous yang memusnahkan dinosaurus, hewan-hewan kecil justru memiliki keuntungan untuk bertahan hidup.
Ketika sebuah spesies dominan hilang, alam tidak akan membiarkan kekosongan itu bertahan lama. Ahli biologi dari Washington University, Jonathan Losos, menjelaskan bahwa proses pengisian ruang ekologis akan segera dimulai.
"Spesies baru yang muncul berasal dari spesies yang selamat dari kepunahan massal," jelas Jonathan Losos.
Lantas, spesies apa yang akan berkuasa jika manusia benar-benar lenyap dari peta sejarah? Meski sulit dipastikan, Losos memprediksi bahwa makhluk-makhluk yang saat ini hidup berdampingan dengan manusia, seperti tikus, kecoa, merpati, dan kucing, akan mengalami radiasi evolusi yang luar biasa.
Kucing domestik diperkirakan menjadi kandidat kuat penguasa baru. Populasinya diprediksi bisa menyentuh angka 1 miliar ekor dengan perubahan fisik yang drastis agar bisa berburu tanpa bantuan manusia.
"Mungkin kucing bertaring tajam akan berevolusi lagi dan cara hidup yang baru belum pernah terlihat sebelumnya, seperti kucing berang-berang air atau kucing peluncur," kata Losos.
Sejarah membuktikan bahwa dalam peristiwa seperti kepunahan era Cretaceous yang memusnahkan dinosaurus, hewan-hewan kecil justru memiliki keuntungan untuk bertahan hidup.
Ketika sebuah spesies dominan hilang, alam tidak akan membiarkan kekosongan itu bertahan lama. Ahli biologi dari Washington University, Jonathan Losos, menjelaskan bahwa proses pengisian ruang ekologis akan segera dimulai.
"Spesies baru yang muncul berasal dari spesies yang selamat dari kepunahan massal," jelas Jonathan Losos.
Lantas, spesies apa yang akan berkuasa jika manusia benar-benar lenyap dari peta sejarah? Meski sulit dipastikan, Losos memprediksi bahwa makhluk-makhluk yang saat ini hidup berdampingan dengan manusia, seperti tikus, kecoa, merpati, dan kucing, akan mengalami radiasi evolusi yang luar biasa.
Kucing domestik diperkirakan menjadi kandidat kuat penguasa baru. Populasinya diprediksi bisa menyentuh angka 1 miliar ekor dengan perubahan fisik yang drastis agar bisa berburu tanpa bantuan manusia.
"Mungkin kucing bertaring tajam akan berevolusi lagi dan cara hidup yang baru belum pernah terlihat sebelumnya, seperti kucing berang-berang air atau kucing peluncur," kata Losos.
Skenario ini menggambarkan bagaimana Bumi akan terus berputar dan melahirkan ekosistem baru yang asing namun tangguh dalam menghadapi perubahan zaman.
(*)

