Iklan

Saturday, January 10, 2026, 8:55 PM WIB
Last Updated 2026-01-10T13:55:12Z
Economy

Kurs Yen Menguat Penjualan Richemont dan Cartier di Jepang Langsung Terjun Bebas

Kurs Yen Menguat Penjualan Richemont dan Cartier di Jepang Langsung Terjun Bebas

  • Penurunan Signifikan: Penjualan Richemont di Jepang anjlok 15% akibat penguatan nilai tukar yen yang memangkas daya beli wisatawan mancanegara.
  • Ketahanan Global: Meski pasar Jepang melemah, pendapatan global Richemont tetap tumbuh 6% mencapai 5,41 miliar euro, melampaui estimasi analis.
  • Dominasi Perhiasan: Segmen perhiasan melalui merek Cartier dan Van Cleef & Arpels menjadi penyelamat kinerja perusahaan dengan kenaikan penjualan sebesar 11%.

LANGGAMPOS.COM - TOKYO –
Dinamika nilai tukar mata uang Jepang kini mulai memukul sektor ritel kelas atas setelah penguatan kurs yen secara signifikan meredam gairah belanja barang mewah yang sempat meledak sepanjang tahun lalu.

Kondisi pasar yang berbalik arah ini memberikan dampak instan pada performa keuangan Richemont, raksasa barang mewah asal Swiss sekaligus induk merek perhiasan Cartier, yang melaporkan penurunan tajam angka penjualan di wilayah Negeri Sakura tersebut.

Berdasarkan laporan yang dilansir dari CNBC, Sabtu (10/1/2026), Richemont mengungkapkan bahwa penjualan di Jepang merosot 15% secara tahunan (year-on-year). 

Angka ini menjadi sorotan tajam mengingat Jepang sebelumnya menyandang predikat sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat di dunia bagi industri barang mewah global.

Namun, di skala internasional, Richemont menunjukkan fleksibilitas bisnis yang kuat. Pendapatan global perusahaan tetap merangkak naik 6% pada kurs tetap menjadi 5,41 miliar euro (sekitar 6,28 miliar dolar AS) untuk periode tiga bulan yang berakhir pada Juni. 

Pencapaian ini berada di atas ekspektasi para analis LSEG yang memprediksi angka 5,37 miliar euro. Sentimen positif ini pun membawa saham Richemont ditutup menguat 1,2% pada akhir perdagangan.

Pukulan Telak Akibat Kurs

Kondisi saat ini berbanding terbalik dengan euforia tahun sebelumnya. Pada periode yang sama di tahun 2024, Richemont sempat menikmati lonjakan pendapatan hingga 59% di Jepang. 

Saat itu, yen yang sangat lemah memicu gelombang wisatawan internasional, terutama dari Tiongkok, untuk memborong koleksi mewah dengan harga yang jauh lebih murah.

Sebagai catatan, yen sempat menyentuh titik terendahnya dalam 38 tahun pada Juni lalu, melewati angka 161 per dolar AS. 

Hal tersebut sempat menjadi "durian runtuh" bagi merek-merek seperti LVMH, Burberry, hingga Richemont yang mencatat pertumbuhan konsisten di angka 20% hingga 25% selama beberapa kuartal.

Memasuki tahun 2025, tren penguatan yen mulai mengubah peta permainan.

“Di Jepang, penjualan turun 15% dibandingkan dengan pertumbuhan signifikan sebesar 59% pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Penguatan yen sangat mengurangi pengeluaran wisatawan, terutama dari pelanggan Tiongkok, meskipun permintaan lokal tetap positif,” ujar Richemont dalam pernyataan resminya.

Perhiasan Tetap Jadi Primadona

Meskipun pasar jam tangan mewah di bawah divisi Specialist Watchmakers seperti Piaget dan Roger Dubuis mengalami penurunan 7% akibat lesunya permintaan di China, Hong Kong, dan Jepang, segmen perhiasan justru tetap bersinar.

Lini Jewellery Maisons yang menaungi Cartier dan Van Cleef & Arpels tetap menjadi tulang punggung dengan kenaikan penjualan sebesar 11%. 

Ketangguhan segmen perhiasan ini berhasil mengompensasi penurunan di sektor lain, membuktikan bahwa permintaan terhadap aset perhiasan kelas atas masih tetap stabil di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Dinamika fluktuasi nilai tukar serta perubahan perilaku belanja turis mancanegara kini menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi industri barang mewah global dalam mempertahankan pertumbuhan mereka.


(*)
Advertisement
close