Iklan

Monday, February 16, 2026, 10:45 PM WIB
Last Updated 2026-02-16T15:45:43Z
Education

Menelusuri Jejak Sejarah Asal Usul dan Filosofi Mendalam di Balik Perayaan Tahun Baru Imlek

Menelusuri Jejak Sejarah Asal Usul dan Filosofi Mendalam di Balik Perayaan Tahun Baru Imlek


  • Asal-usul Imlek berakar dari tradisi agraris Dinasti Xia dan legenda pengusiran monster Nian yang takut pada warna merah serta bunyi bising.
  • Perjalanan Imlek di Indonesia melewati fase pasang surut, dari pembatasan ketat di era Orde Baru hingga menjadi hari libur nasional berkat jasa Gus Dur dan Megawati.
  • Setiap tradisi, mulai dari hidangan 12 jenis makanan hingga barongsai, memiliki simbolisme spiritual untuk mengusir nasib buruk dan menjemput kemakmuran.


LANGGAMPOS.COM
- Perayaan Tahun Baru Imlek merupakan salah satu momen budaya paling penting bagi masyarakat Tionghoa di seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia. 

Perayaan ini bukan sekadar pesta kembang api atau bagi-bagi amplop merah, melainkan sebuah warisan peradaban yang menyimpan nilai historis dan spiritual yang sangat dalam.

Melansir informasi dari kanal Youtube Teropong Pengetahuan Dunia, perhitungan Tahun Baru Imlek didasarkan pada sistem penanggalan Cina yang dikenal sebagai kalender Lunar. 

Berbeda dengan kalender Masehi yang mengikuti matahari, kalender Lunar mengikuti siklus bulan, sehingga tanggal jatuhnya Imlek selalu bergeser setiap tahunnya dalam rentang Januari hingga Februari.

Akar Sejarah: Dari Petani hingga Legenda Monster Nian


Sejarah Imlek dapat ditarik jauh hingga ke zaman Dinasti Xia di daratan Tiongkok. Pada awalnya, perayaan ini merupakan tradisi yang dilakukan oleh para petani untuk menyambut datangnya musim semi. 

Setelah melewati musim dingin yang panjang dan beku, para petani merayakan kembalinya kehangatan matahari sebagai tanda dimulainya masa tanam yang baru.

Seiring berjalannya waktu, tradisi agraris ini berkembang menjadi perayaan pergantian tahun yang lebih formal. 

Namun, di balik sisi agrarisnya, terdapat legenda populer yang menjelaskan mengapa Imlek identik dengan warna merah. 

Konon, pada zaman dahulu, ada seekor monster laut atau gunung raksasa bernama Nian yang muncul setiap akhir musim dingin.

Nian akan turun ke pemukiman warga untuk memangsa ternak, hasil panen, bahkan manusia. 

Suatu hari, penduduk desa menyadari bahwa Nian lari ketakutan setelah melihat seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. 

Dari situlah terungkap bahwa titik lemah monster tersebut adalah warna merah dan suara-suara yang memekakkan telinga.

Sejak peristiwa itu, setiap malam pergantian tahun, penduduk desa mulai mengenakan pakaian serba merah. 

Mereka juga memasang lentera serta gulungan kertas merah di pintu dan jendela rumah. Untuk memastikan Nian tidak berani mendekat, mereka menyalakan petasan dan kembang api yang bising. 

Tradisi mengusir monster inilah yang kemudian bertransformasi menjadi perayaan Imlek yang kita kenal sekarang.

Dinamika Imlek di Indonesia: Dari Larangan Hingga Kebebasan

Di Indonesia, kehadiran tradisi Imlek dibawa oleh para pedagang Tiongkok yang merantau ke Asia Tenggara berabad-abad silam. 

Kedatangan mereka tidak hanya membawa komoditas dagang, tetapi juga membawa asimilasi budaya dan keyakinan, termasuk perayaan tahun baru. 

Namun, perjalanan Imlek di tanah air tidak selalu berjalan mulus.

Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, masyarakat Tionghoa diberikan kebebasan yang cukup luas. 

Mereka diizinkan mengekspresikan identitas melalui bahasa Mandarin, memiliki media cetak sendiri, serta merayakan hari besar keagamaan secara terbuka. 

Namun, situasi politik berubah drastis ketika memasuki era Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto.

Selama puluhan tahun, melalui Instruksi Presiden (Inpres) No. 14 Tahun 1967, segala bentuk upacara keagamaan dan adat istiadat Tionghoa dilarang dirayakan di ruang publik. 

Imlek hanya boleh dirayakan di dalam rumah secara tertutup bersama keluarga inti. Identitas  budaya ini seolah "dipaksa" tenggelam dari panggung sosial masyarakat Indonesia.

Perubahan besar baru terjadi saat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjabat sebagai Presiden. 

Gus Dur mencabut Inpres tersebut dan memberikan kembali hak bagi warga Tionghoa untuk merayakan Imlek secara terbuka. 

Perjuangan ini kemudian disempurnakan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002, yang secara resmi menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional sejak tahun 2003.

Ritual dan Tradisi: Lebih dari Sekadar Seremonial

Setiap ritual dalam perayaan Imlek memiliki makna simbolis yang sangat spesifik. Salah satu yang paling mendasar adalah tradisi bersih-bersih rumah yang dilakukan sehari sebelum hari raya. 

Menurut kepercayaan, membersihkan rumah pada hari H Imlek justru akan menyapu keluar keberuntungan yang baru saja datang. 

Oleh karena itu, rumah harus sudah bersih dan rapi sebelum matahari terbit di tahun baru.

Setelah rumah bersih, dekorasi menjadi tahap selanjutnya. Ornamen seperti lampion, stiker kaligrafi keberuntungan (Fuxi), dan bunga-bunga mulai dipasang. 

Dominasi warna merah dalam dekorasi ini bukan sekadar estetika, melainkan simbol kekuatan, kesejahteraan, dan doa agar penghuni rumah selalu terlindungi dari marabahaya sepanjang tahun.

Sisi kuliner juga memegang peranan vital. Tradisi menghidangkan makanan khas Imlek biasanya melibatkan 12 jenis masakan yang melambangkan 12 shio dalam kalender Cina. 

Setiap makanan memiliki filosofi tersendiri. Ayam utuh melambangkan kemakmuran keluarga yang utuh, sedangkan mi panjang atau Siu Mie melambangkan harapan akan umur panjang. Saat menyantap mi ini, seseorang dilarang memotongnya agar "garis umur" tidak terputus.

Ada pula kue keranjang yang teksturnya lengket, melambangkan keeratan hubungan antaranggota keluarga. 

Kue ini sering disusun bertumpuk untuk melambangkan rezeki yang semakin tinggi setiap tahunnya. Selain itu, buah jeruk, terutama jeruk mandarin, menjadi simbol emas dan keberuntungan yang wajib ada di setiap meja tamu.

Angpau dan Nilai Spiritual Barongsai

Tradisi yang paling ikonik tentu saja adalah bagi-bagi angpau. Pemberian amplop merah berisi uang ini biasanya dilakukan oleh mereka yang sudah menikah kepada anak-anak atau orang tua. 

Dalam budaya Tionghoa, ini bukan sekadar pemberian materi, melainkan simbol transfer energi positif, doa, dan perlindungan bagi generasi muda.

Ada aturan unik dalam pemberian angpau: jumlah uang di dalamnya tidak boleh mengandung angka empat (karena dalam bahasa Mandarin terdengar seperti kata "mati") dan jumlahnya tidak boleh ganjil karena angka ganjil identik dengan suasana duka atau pemakaman. Hal ini menunjukkan betapa detailnya masyarakat Tionghoa dalam menjaga keharmonisan simbolis.

Terakhir, kemeriahan Imlek tidak akan lengkap tanpa pertunjukan Barongsai dan Liong. Dalam kepercayaan Tionghoa, Barongsai merupakan simbol keberanian dan kekuatan. 

Tarian singa yang lincah ini diyakini dapat membasmi roh-roh jahat yang bersembunyi di sudut-sudut kota dan mendatangkan kemakmuran bagi lingkungan yang dikunjunginya.

Keseluruhan tradisi ini, mulai dari sembahyang leluhur hingga makan malam bersama, bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan atau silaturahmi. 

Imlek menjadi momen refleksi atas apa yang telah dicapai di tahun lalu dan jembatan doa untuk menjemput masa depan yang lebih cerah.

Melalui pemahaman yang lebih dalam mengenai sejarah dan maknanya, kita dapat melihat bahwa Imlek adalah bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Indonesia. 

Keberagaman inilah yang membuat bangsa kita semakin kuat dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Mari terus jaga semangat kebersamaan ini demi kemajuan bangsa masa depan.

(*)
Advertisement
close