Iklan

Redaksi
Saturday, June 13, 2026, 7:49 AM WIB
Last Updated 2026-06-13T00:49:38Z
Regional

Transportasi Publik Terintegrasi Jadi Kunci Dongkrak Daya Beli dan Ekonomi Daerah

Transportasi Publik Terintegrasi Jadi Kunci Dongkrak Daya Beli dan Ekonomi Daerah


  • Efek Berantai: Infrastruktur transportasi publik yang terintegrasi mampu memicu pertumbuhan ekonomi baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
  • Beban Komuter: Warga Jakarta menghabiskan hingga 30% pendapatan hanya untuk ongkos, yang dapat dipangkas lewat angkutan massal murah.
  • Solusi Anggaran: Skema Kemitraan Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dan obligasi daerah menjadi alternatif pendanaan bagi pemda.

LANGGAMPOS.COM - Pakar transportasi menilai pembangunan jaringan angkutan massal yang terintegrasi di berbagai wilayah tidak sekadar mengurai kemacetan, melainkan menjadi stimulus kuat dalam mendongkrak daya beli masyarakat serta menghidupkan pusat ekonomi baru di daerah.

Kehadiran sarana mobilitas yang saling terhubung diyakini mampu memangkas biaya hidup kaum urban secara signifikan, sehingga mengalihkan pengeluaran transportasi menjadi konsumsi domestik yang produktif.

"Kalau kita ingin menyejahterakan masyarakat kita, salah satunya bisa kita awali dengan menyediakan transportasi publik yang baik, karena itu akan sangat membantu bagi mereka," ujar Direktur Kebijakan dan Program Pusat Studi Kebijakan Prasasti (Prasasti Center for Policy Studies), Piter Abdullah dalam keterangan resmi di Tangerang, Banten.

Menurut Piter, langkah strategis ini perlu diambil oleh pemerintah daerah untuk meringankan beban finansial warga, terutama kelompok pekerja dengan penghasilan terbatas.

Beban Ongkos Komuter Jabodetabek Menekan Daya Beli

Gambaran nyata tingginya biaya mobilitas terlihat di kawasan metropolitan Jakarta, di mana para pekerja harus merogoh kocek cukup dalam demi menempuh perjalanan harian ke tempat kerja.

Warga di ibu kota rata-rata harus mengalokasikan 25 hingga 30 persen dari Pendapatan Minimum Provinsi (UMP) sebesar Rp5,7 juta hanya untuk memenuhi kebutuhan transportasi publik maupun pribadi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) turut memperkuat realitas tersebut dengan menunjukkan mayoritas pekerja komuter di area Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) mengeluarkan ongkos perjalanan yang sangat besar.

Sebanyak 28,6 persen komuter tercatat menghabiskan biaya minimal Rp25 ribu per hari, yang jika diakumulasikan mencapai kisaran Rp750 ribu setiap bulannya.

Sementara itu, kelompok pekerja yang mengeluarkan biaya Rp5.000 hingga Rp10.000 per hari berada di angka 14,7 persen, dan hanya 8,2 persen komuter yang menikmati ongkos di bawah Rp5.000 per hari.

Piter menjamin kehadiran transportasi massal yang nyaman, aman, dan murah secara otomatis akan memangkas pengeluaran rutin tersebut, sehingga menyisakan ruang fiskal yang lebih longgar bagi dompet masyarakat.

Menghidupkan Sektor UMKM di Sekitar Simpul Transit

Dampak positif dari pembenahan moda transportasi ini tidak berhenti pada penghematan ongkos perjalanan para pekerja semata.

Kehadiran titik perlintasan modern seperti stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) maupun Lintas Raya Terpadu (LRT) terbukti ampuh menghidupkan ekosistem Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah sekitarnya.

Konsep pembangunan berorientasi transit (Transit Oriented Development/TOD) ini menciptakan arus pejalan kaki yang padat, yang kemudian menjadi ceruk pasar potensial bagi para pelaku usaha lokal.

Piter menekankan multiplier effect atau dampak berganda yang positif ini sudah saatnya tidak lagi berpusat di wilayah Jakarta dan sekitarnya saja.

Para kepala daerah di seluruh Indonesia dituntut memiliki komitmen politik yang kuat untuk mereplikasi sistem transportasi massal di wilayah kepemimpinan masing-masing.

Strategi Pendanaan dan Jaminan Kepastian Hukum bagi Investor

Membangun infrastruktur transportasi modern memang membutuhkan modal awal yang tidak sedikit, namun investasi jangka panjang ini dinilai tidak akan pernah merugikan daerah.

Pemerintah daerah akan memanen pengembalian investasi tersebut dalam bentuk pertumbuhan setoran pajak serta geliat aktivitas ekonomi warga yang semakin produktif.

Guna menyiasati keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), pemda disarankan mengoptimalkan skema Kemitraan Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang lebih luas atau menerbitkan obligasi daerah.

Langkah pendanaan alternatif tersebut dinilai efektif menarik modal swasta tanpa harus membebani keuangan negara secara berlebihan.

Kendati demikian, Piter mengingatkan krusialnya faktor kepastian hukum guna menjaga kepercayaan serta menarik minat para investor menanamkan modalnya.

Risiko perubahan kebijakan setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan di daerah kerap menjadi momok yang menakutkan bagi keberlanjutan proyek infrastruktur jangka panjang.

"Melihat dari efek berantainya, saya optimis dampaknya besar sekali. Yang akan kita ubah dampaknya tidak terbatas pada hal yang terkait dengan transportasi itu sendiri, tapi dia akan mengubah daerah yang dilewati," pungkas Piter.

(*)


FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Mengapa transportasi publik dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat?

Transportasi publik yang murah dan terintegrasi dapat memangkas biaya transportasi harian warga. Penghematan ini secara otomatis meningkatkan daya beli masyarakat untuk kebutuhan pokok lainnya.

2. Berapa rata-rata biaya yang dikeluarkan komuter Jabodetabek untuk transportasi?

Berdasarkan data BPS, sekitar 28,6 persen komuter menghabiskan minimal Rp25 ribu per hari (sekitar Rp750 ribu per bulan). Di Jakarta, biaya ini menguras hingga 25-30 persen dari UMP yang sebesar Rp5,7 juta.

3. Bagaimana cara pemda mengatasi keterbatasan anggaran untuk membangun transportasi massal?

Pemerintah daerah dapat memanfaatkan skema Kemitraan Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) atau menerbitkan obligasi daerah sebagai sumber pendanaan alternatif di luar APBD.

#TransportasiPublik #EkonomiDaerah #InfrastrukturJurnalistik #PertumbuhanEkonomi #UMKMNaikKelas #PiterAbdullah
Advertisement
Pilihan Redaksi Lainnya