- Aliran modal asing (inflow) sebesar Rp19,02 triliun masuk ke instrumen SRBI dan SBN pascakenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen.
- Sentimen positif pasar juga mendongkrak performa rupiah yang menguat 0,84 persen ke level Rp17.865 per dolar AS.
- Penguatan ketahanan eksternal didukung oleh sinergi lintas negara antara Bank Indonesia, PBOC (Tiongkok), dan HKMA (Hong Kong).
Pasar keuangan domestik langsung kebanjiran dana segar dari luar negeri hanya dalam kurun waktu dua hari pasca-kebijakan tersebut diketuk.
Bank sentral mencatat aliran masuk modal asing (foreign inflows) menyentuh angka Rp19,02 triliun pada periode 10 dan 11 Juni 2026.
Masuknya dana jumbo ini menjadi sinyal kuat kembalinya kepercayaan pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Jika dibedah lebih dalam, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih menjadi primadona utama para pemodal internasional.
Aliran dana nonresiden yang mengalir ke instrumen SRBI tersebut tercatat mendominasi dengan angka Rp15,11 triliun.
Sementara itu, sisa dana sebesar Rp3,91 triliun mendarat pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN).
Tingginya imbal hasil yang ditawarkan membuat portofolio keuangan Indonesia kian kompetitif di mata dunia.
“Pascakenaikan BI-Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.
Daya Tarik Obligasi Danantara dan Amunisi Baru Rupiah
Daya pikat aset dalam negeri ternyata tidak hanya berhenti pada instrumen konvensional milik bank sentral dan pemerintah saja.
Destry juga menyebutkan aliran masuk modal asing terjadi pada obligasi internasional Danantara yang penjualan perdananya berhasil mencapai Rp26,9 triliun.
Keberhasilan rilis perdana ini mempertegas bahwa ruang investasi di Indonesia masih sangat menjanjikan bagi para pemilik modal.
“Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik,” kata dia.
Suntikan dana asing yang masif ini langsung memberikan tenaga baru bagi mata uang garuda di pasar spot harian.
Nilai tukar rupiah pada Jumat (12/6) ditutup pada level Rp17.865-17.875 per dolar AS (bid-ask).
Posisi ini mencerminkan apresiasi alias penguatan sebesar 0,84 persen jika disandingkan dengan pekan sebelumnya.
Pada penutupan 5 Juni 2026, mata uang tanah air sempat tertahan di level Rp18.010-18.020 per dolar AS (bid-ask).
Destry mengatakan perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan bank sentral Indonesia.
Bauran Strategi Moneter dan Kerja Sama Multilateral
Apresiasi rupiah saat ini tidak lepas dari ramuan strategi moneter komprehensif yang dirilis oleh otoritas bank sentral.
Kebijakan tersebut meliputi tidak hanya kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen, melainkan juga penguatan struktur suku bunga SRBI.
Selain itu, BI menyertakan insentif hedging swap bagi investor asing serta pembukaan akses repo bagi likuiditas perbankan.
Intensitas operasi moneter, baik untuk mata uang rupiah maupun valuta asing, juga terus dipacu secara berkala.
“Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan pemerintah,” imbuh Destry.
Tingginya imbal hasil yang ditawarkan membuat portofolio keuangan Indonesia kian kompetitif di mata dunia.
“Pascakenaikan BI-Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.
Daya Tarik Obligasi Danantara dan Amunisi Baru Rupiah
Daya pikat aset dalam negeri ternyata tidak hanya berhenti pada instrumen konvensional milik bank sentral dan pemerintah saja.
Destry juga menyebutkan aliran masuk modal asing terjadi pada obligasi internasional Danantara yang penjualan perdananya berhasil mencapai Rp26,9 triliun.
Keberhasilan rilis perdana ini mempertegas bahwa ruang investasi di Indonesia masih sangat menjanjikan bagi para pemilik modal.
“Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik,” kata dia.
Suntikan dana asing yang masif ini langsung memberikan tenaga baru bagi mata uang garuda di pasar spot harian.
Nilai tukar rupiah pada Jumat (12/6) ditutup pada level Rp17.865-17.875 per dolar AS (bid-ask).
Posisi ini mencerminkan apresiasi alias penguatan sebesar 0,84 persen jika disandingkan dengan pekan sebelumnya.
Pada penutupan 5 Juni 2026, mata uang tanah air sempat tertahan di level Rp18.010-18.020 per dolar AS (bid-ask).
Destry mengatakan perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan bank sentral Indonesia.
Bauran Strategi Moneter dan Kerja Sama Multilateral
Apresiasi rupiah saat ini tidak lepas dari ramuan strategi moneter komprehensif yang dirilis oleh otoritas bank sentral.
Kebijakan tersebut meliputi tidak hanya kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen, melainkan juga penguatan struktur suku bunga SRBI.
Selain itu, BI menyertakan insentif hedging swap bagi investor asing serta pembukaan akses repo bagi likuiditas perbankan.
Intensitas operasi moneter, baik untuk mata uang rupiah maupun valuta asing, juga terus dipacu secara berkala.
“Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan pemerintah,” imbuh Destry.
Langkah taktis mengamankan stabilitas nilai tukar rupiah ini turut diperkuat melalui jalur diplomasi ekonomi internasional.
Ia menambahkan bahwa ketahanan eksternal semakin diperkuat melalui kerja sama keuangan antara BI, People's Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA).
Kolaborasi segitiga ini menelurkan tiga poin kesepakatan krusial demi memagari sistem keuangan dari guncangan global.
Terdapat tiga kesepakatan yang dihasilkan, yaitu sinergi memperkuat tidak hanya ketahanan keuangan masing-masing negara melainkan stabilitas keuangan regional yang lebih luas, penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), serta penguatan komitmen penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui perluasan Local Currency Transactions (LCT).
Langkah tersebut, ujar Destry, akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Bank sentral menegaskan komitmennya untuk terus mengawal pergerakan pasar secara konsisten tanpa kehilangan momentum.
Ia pun memastikan bahwa BI akan terus hadir di pasar, mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur, serta memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.
Melalui berbagai fondasi kuat ini, prospek pergerakan mata uang garuda ke depan dinilai berada pada jalur yang tepat.
“Dengan berbagai perkembangan di atas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar AS menuju ke level fundamentalnya,” tutup Destry.
(*)
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Berapa total modal asing yang masuk pascakenaikan BI-Rate?
Total aliran modal asing (foreign inflows) yang masuk mencapai Rp19,02 triliun, yang terbagi ke instrumen SRBI sebesar Rp15,11 triliun dan SBN sebesar Rp3,91 triliun.
2. Berapa tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) saat ini?
2. Berapa tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) saat ini?
Suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-Rate saat ini berada di level 5,50 persen.
3. Bagaimana dampak kebijakan ini terhadap nilai tukar rupiah?
3. Bagaimana dampak kebijakan ini terhadap nilai tukar rupiah?
Nilai tukar rupiah menguat sebesar 0,84 persen dan ditutup di level Rp17.865-17.875 per dolar AS dari posisi pekan sebelumnya yang sempat menyentuh Rp18.010-18.020 per dolar AS.
4. Lembaga internasional mana saja yang diajak bekerja sama oleh Bank Indonesia?
4. Lembaga internasional mana saja yang diajak bekerja sama oleh Bank Indonesia?
Bank Indonesia memperkuat ketahanan eksternal melalui kerja sama keuangan dengan People's Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA) lewat perluasan transaksi mata uang lokal (LCT).
#EkonomiIndonesia #BankIndonesia #BIRate #InvestasiAsing #NilaiTukarRupiah #SRBI #PasarModal #InfoFinansial
#EkonomiIndonesia #BankIndonesia #BIRate #InvestasiAsing #NilaiTukarRupiah #SRBI #PasarModal #InfoFinansial


